Minggu, 15 November 2009

BUKAN PENGINAPAN SHORT TIME, LHO

Berlibur bersama keluarga sungguh sangat menyenangkan. Setidaknya ini gw rasakan selama long weekend ini. Dengan dana yang relatif terbatas, gw dan keluarga ternyata masih bisa menikmati liburan, kok. Maklumlah, kami bukan keluarga Konglomerat yang nggak punya masalah dengan uang dan bisa seenak udel pergi berlibur kemana mereka suka. Meski cuma ke Bandung, liburan kami cukup seru dan menegangkan!

Sengaja kami pilih another side of Bandung. Lebih tepatnya di Bandung Selatan. Kami sengaja pilih Bandung “pinggiran”, karena buat kami ngapain juga ke Bandung cuma ngider-ngider di kotanya? Cuma belanja ke factory outlet sepanjang Ir. H. Juanda atau jalan RE. Martadinata. Cuma wisata kuliner di jalan Veteran, Riau, atau Cisangkuy. Cuma nginep di hotel-hotel berbintang yang berjajar di sepanjang jalan Asia Afrika, Ir. H. Juanda, atau Dr. Djunjunan. Buat kami, banyak tempat di Bandung yang masih perlu “dijajah”.

Kawah Putih Gunung Patuha dan Situ Patenggang yang berlokasi di Ciwidey adalah objek wisata liburan kami kali ini. Sebenarnya masih banyak objek di Bandung Selatan, selain dua objek tersebut. Punceling misalnya. Atau pemandian air panas alam Walini. Tapi kami ingin fokus agar perjalanan kami nggak dinodai oleh oknum-oknum yang nggak bertanggungjawab. Maksudnya apa ya? Au ah, gelap! Yang pasti, konon kabarnya, dua objek wisata itu keren punya.


Sepanjang jalan Soreang ke Ciwidey, banyak plang-plang kayak gini. Yang nawarin masuk ke halaman kebun mirik kayak mereka yang sering menawarkan vila di Puncak. Jangan-jangan memang mereka itu side job? Kadang nawarin vila, kadang nawarin petik strawberry.

Setidaknya literatur dan beberapa orang mengatakan Kawah Putih Gunung Patuha memiliki danau yang luar biasa indah. Kalo dibandingkan dengan kawah-kawah yang ada di wilayah Jawa Barat, Kawah Putih Gunung Patuha punya ciri khas dan unik. Apakah itu? Air danau kawahnya selalu berubah-ubah warna. Kadang berwarna hijau apel dan kebiru-biruan bila terik matahari dan cuaca terang. Kadang pula berwarna coklat susu. Kalo kabut tebal di atas permukaan kawah, warnanya akan menjadi putih. Yang belum pernah berubah menjadi warna totol-totol hitam alias Dalmations. Itu nggak mungkin kejadian, cong! Selain soal kawah yang berganti-ganti warna termasuk warna putih, pasir dan bebatuan di sekitar situ pun didominasi warna putih. Nggak heran kalo kawah itu dinamakan Kawah Putih.

“Wah, cocok banget kalo ada orang yang rambutnya putih, bergigi putih, dan berkulit putih pergi ke situ ya?”

“Memangnya kenapa?”

“Orang itu bisa kita sebut manusia putih di kawah putih!”

“Kenapa nggak sekalian aja manusia pocong!”

Menurut mitos, Gunung Patuha konon berasal dari nama Pak Tua. Anehnya, masyarakat di sekitar situ lebih sering menyebut Gunung yang memiliki ketinggian 2.434 m dpl itu dengan Gunung Sepuh. I really don’t know. Barangkali Ganung Patuha termasuk gunung yang dituakan atau diangga senior, sehingga usianya udah sepuh. Yang pasti, suhu di sekitar gunung itu sekitar 8-22 derajat celcius.


Kalo dahulu kebun strawbarry cuma boleh dimasuki oleh sang Pemilik atau Karyawan, tahun 90-an, kebun strawberry yang ada di sepanjang jalan Soreang menuju Ciwidey dijadikan objek wisata.

Di puncak Gunung Patuha itu terdapat Kawah Saat. Dalam bahasa Sunda, kata “saat” berarti “surut”. Konon sejarah penamaan Kawah Saat gara-gara air kawahnya menyusut ke bagian bawah menuju ke Kawah Putih. Dari catatan sejarah, kedua kawah itu terbentuk akibat letusan yang terjadi pada abad X dan XII.

Sebelum danau Kawah Putih ditemukan di puncak Gunung Patuha, daerah itu cukup angker. Nggak ada warga yang berani mampir ke tempat situ. Saking angkernya, Bahkan karena angkernya, konon burung yang sempat lewati kawah akan mati. Nggak heran kalo para burung-burung udah sepakat nggak mau melewati jalur itu. Mereka nggak ingin mati muda.

Adalah seorang Belanda bernama Dr. Franz Wilhelm Junghuhn yang menemukan keindahan danau Kawah Putih pada tahun 1837. Awal penemuan, Botanist atau ahli tumbuhan yang masih berdarah Jerman ini nggak percaya 100% soal keangkeran di puncak Gunung Patuha. Dengan gagah berani, dia mencoba berpetualang menembus hutan belantara. Akhirnya, dia menemukan sebuah danau kawah yang indah.

Dalam penemuannya, Dr. Franz mendapati semburan lava bau belerang yang menusuk hidung keluar dari danau itu. Ternyata kondisi belerang yang sangat tinggi itulah yang menyebabkan burung ogah terbang melewati permukaan kawah, kecuali burungnya berniat bunuh diri. Pada tahun 1987, PT Perhutani (Persero) Unit III Jabar dan Banten mengembangkan Kawah Putih menjadi sebuah objek wisata.

Itu tadi cerita soal Kawah Putih Gunung Patuha. Gimana soal Situ Patenggang? Situ Patenggang asalnya dari dua kata: “situ” dan “patenggang”. “Situ” artinya danau. Sedang kata “patenggang” berasal dari kata “patengan”. Kata “patengan” artinya saling mencari, dimana berasal dari kata “pateang-teang” dan menjadi pateangan (menunjukkan tempat pencarian) dan kemudian menjadi patengan. Sedangkan patenggang berarti “terpisah oleh jarak atau kondisi”.

Kalimat “terpisah oleh jarak atau kondisi” itulah yang membuahkan sebuah legenda mengenai Situ Patenggang ini. Adik-adikku sekalian, beginilah kisahnya. Tersebutlah seorang Pangeran dan seorang Putri. Mereka saling jatuh cinta. Sayang, kisah cinta mereka mengalami hambatan oleh orangtua. Hubungan mereka nggak direstui. Nggak heran, mereka akhirnya berpisah. Perpisahan itu membuat sang Putri mengangis. Air matanya nggak cuma seember, tapi sedanau. Maksudnya, saking banyaknya air mata sang Putri akhirnya membentuk sebuah situ atau danau. Dari situlah lahir nama Situ Patenggang.

Kisah belum selesai sampai di situ. Perpisahan yang menyedihkan antara Pangeran dan Putri berakhir dengan happy ending. Mereka akhirnya berkumpul kembali di sebuah batu yang ada di Situ Patenggang. Nah, batu itulah yang kelak menjadi nama Batu Cinta. You know what? Kabarnya kalo berkunjung ke batu itu, maka cinta Anda akan abadi. Mantab nggak tuh?

Buat mencapai dua objek wisata Kawah Putih Gunung Patuha dan Situ Patenggang, kita kudu melewati daerah yang bernama Soreang. Supaya nggak jauh dari dua objek wisata itu, kami sengaja mencari penginapan di daerah Soreang.

Ada banyak penginapan di Soreang. Namun berdasarkan rekomendasi teman Istri, kami akhirnya menginap di Kampung Pa’go yang berada di jalan Soreang, Ciwidey KM 25. Penginapan ini cukup nyaman. Ada 33 kamar dengan berbagai tipe yang tersedia di penginapan ini. Ada tipe standard, maupun suite. Ada pula fasilitas lain kayak ruang meeting, kolam renang yang cukup representatif, dan arena sepakbola outdoor juga tersedia di situ. Buat yang punya hobi mancing, ada juga kolam pancing. Syaratnya cuma buat mancing ikan, bukan mancing buaya atau mancing keributan.


Ini salah satu kamar di Kampung Pa'go. Kayak-kayaknya konsepnya rumah Bali.

Meski waktu kami buat menikmati penginapan ini terbatas, tapi kami sempat menyempatkan waktu sedikit buat jalan-jalan keliling Kampung Pa’go. Ada hal-hal menarik di situ, di antaranya penangkaran itik dan kambing. Ngomong-ngomong soal itik, menurut keterangan Drs. Yudi Tresna, SH, keponakan Pak Haji Lilik (Pemilik Kampung Pa’go), dahulu penginapan Kampung Pa’go memang cuma tempat peternakan itik. Tahu kan itik itu apa? Itik itu hewan, sejenis bebek. Tapi itik lebih kecil tubuhnya daripada bebek. Nah, begitu melihat potensi pariwisata Bandung Selatan berkembang, maka Pak Haji Lilik merubah peternakan itik menjadi penginapan.

Meski mengalami perubahan, eksistensi itik-itik tetap dipertahankan. Nggak heran di Kampung Pa’go masih tersedia kandang itik, meski nggak sebesar dahulu kala. Selain kandang itik, ada juga kandang kambing. Kami sempat melakukan inspeksi mendadak ke kandang kambing milik Pak Haji Lilik. Ternyata bau juga ya kandang kambing? Yaiyalah! Masa wangi? Kalo wangi namanya bukan kandang, tapi kamar hotel!


Kalo lihat sepintas, buat orang awam seperti gw, kambing ini kayak kambing-kambing lain. Tapi kalo buat orang yang biasa mengadu kambing, pasti tahu kambing ini very special and jadi VIA alias Very Important Animal. Soalnya kambing ini kambing aduan yang harganya mencapai Rp 30 jutaan, cong!


Kalo lihat sepintas, terus terang kandang kambingnya sih biasa aja, ya kayak kandang kambing umumnya. Penuh kotoran kecil-kecil kayak kelereng dan sekali lagi bau kambing. Tapi yang menarik, ada dua ekor kambing berharga muahal yang di situ. Katanya, kambing-kambing yang badannya besar, tanduknya kokoh, dan bermata biru itu adalah aduan. Maksudnya, kambing yang dipersiapkan buat berantem, buat diadu dengan kambing lain, bukan kambing yang seringkali mengadu (curhat).

You know harga kambing aduan itu?”

“Tigapuluh juta per ekor!”

“Gokil! Harga satu kambing bisa buat DP mobil Grand Livina, tuh!”

“Kalo jual lima kambing aduan?”

“Bisa buat kawin lagi!”

“Dasar mata keranjang!”

“Bukan sama manusia, tapi sama kambing...”

Nggak terasa, waktu ngider-ngider di Kampung Pa’go sudah sejam lebih. Kami putuskan buat berangkat menuju ke objek wisata yang menjadi fokus kami, yakni Kawah Putih Gunung Putuha dan Situ Patenggang. Takut kena macet. Takut tutup pula objek wisatanya. Tentu saja sebelum berangkat, kami udah sempat breakfast dulu. Tentu saja pula, setelah breakfast kami juga udah mandi dan gosok gigi. Bahkan gw sempat melaksanakan aktivitas pup pula. Mantab nggak tuh?

Kalo dari Kampung Pa’go menuju ke objek Kawah Putih Gunung Putaha, kami kudu melalui jalan raya Soreang lagi menuju ke arah Selatan, dimana jalannya menanjak dan berlika-liku. Sepanjang perjalanan, di kiri-kanan jalan kami melihat kebun-kebun strawberry. Memang wilayah Soreang ini dikenal sebagai perkebunan strawberry, yang mayoritas dimiliki oleh kaum Pendatang.

Yang menarik dari perkebunan ini, semua dijadikan objek wisata. Kalo dahulu perkebunan ini cuma boleh dikunjungi oleh sang Pemilik atau Karyawan, beberapa tahun ini semua perkebunan dibuka untuk umum. Jangan heran kalo sepanjang jalan Soreang, banyak plang-plang yang bertuliskan “petik strawberry sendiri”. Selain plang, banyak pula orang yang menawarkan masuk ke pekarangan kebun strawberry. Orang-orang ini mirip dengan orang-orang yang biasa menawarkan vila kalo kita pergi ke Puncak.

“Pila! Pila! Pila!”

“Maksudnya Vila, cong!”

“Petik strawberry sendiri maksudnya, kita bisa mampir ke perkebunan itu memetik strawberry sendiri. Kalo takut sendirian, ya boleh berdua atau bertiga atau kalo perlu sekampung. Tentu selain petik strawberry, ada hal lain yang ditawarkan di perkebunanan itu. Biasanya kalo nggak ada restoran, ya tempat jajan tradisional yang menjual mie ayam, bakso, dan minuman standar kayak air mineral, teh manis botolan, dan lain-lain.

Kalo nggak mau petik strawberry sendiri, boleh kok langsung beli strawberry. Kebetulan di kiri dan kanan jalan banyak Pedagang strawbarry. Mereka itu udah membungkus strawbarry-strawbarry ke dalam plastik. Isinya kurang lebih sepuluh butir strawbarry. Kebetulan liburan kemarin kami nggak sempat beli. Soalnya kalo beli, takut strawbarrynya keburu busuk kalo nggak cepat-cepat dimakan. Padahal warna strawbarrynya kinclong-kinclong, cong! Jadi mohon maaf kami nggak bisa menginfokan harga satu plastik strawbarry isi sepuluh butir itu.

Sayang seribu kali sayang, kami mendapatkan kemacetan cukup parah. Padahal kami baru jalan 2-3 km. Kemacetan sudah terjadi di KM 27. Sementara buat mencapai dua objek itu, dari Kotamadya Bandung butuh 44 km ke Kawah Putih Gunung Patuha dan 47 km ke Situ Patenggang. Jadi kalo dari Kampung Pa’go, kami masih harus jalan 21 km lagi, karena Kampung Pa’go ada di KM 25. Secara hitung-hitungan, 46 km dikurangi 25 km adalah 21 km.


Situasi kemacetan di jalan Soreang menuju Ciwidey. Menurut penduduk setempat, suasana kayak gini selalu ditemui tiap weekend, apalagi long weekend.

Tentu menjemukan sekali berurusan dengan kemacetan. Masa udah di Jakarta macet, di Soreang, Bandung masih kena macet juga. Bosen, ah! Daripada mood liburan terganggu, akhirnya kami memutuskan menghentikan perjalanan ke Kawah Putih Gunung Putuha dan Situ Patenggang. Soalnya nggak enak kalo mood rusak. Dimana-mana yang namanya liburan, kudu senang-senang. Happy-happy! Makanya, lupakan kemacetan, mending cari objek lain.

“Sayang dong...”

“Iya sih! Tapi kalo melihat kemacetan di situ parah banget, kayaknya nggak ada kata sayang. Bener-bener nggak begerak mobil-mobil yang antre ke Kawah, cong!”

Menurut penduduk, kemacetan di Ciwidey setiap weekend memang gokil abis, apalagi long weekend. Kemacetan ini bakal lebih gokil lagi di tahun-tahun mendatang. Kenapa? Kabarnya di wilayah ini bakal dibuka objek wisata baru, yakni Taman Safari part 2. Terus terang gw belum tahu dimana lokasi tepatnya. Namun yang pasti, ada satu wilayah yang masih asri yang saat ini sedang dipersiapkan buat new Taman Safari setelah kesuksesan Taman Safari di Cisarua, Bogor.

Memang sih, bakal ada jalan tol baru yang bakal dibuka, yakni tol Seroja (Soreang-Pasir Koja). Sehingga kalo mau ke Ciwidey nggak harus lewat tol Kopo. Ini tujuannya nggak kurang nggak lebih, agar wisatawan nggak perlu keluar tol Kopo atau keluar tol Pastuer ke Kopo buat menuju ke Ciwidey. Tol baru nanti juga bertujuan buat mengurangi kemacetan. Tapi dengan bakal dibukannya objek wisata baru tersebut, jalan Ciwidey jelas bakal lebih seru. Maksudnya, seru macetnya! Dan Ciwidey yang dikenal sebagai daerah wisata paling komplet di bagian Selatan Kabupatan Bandung makin komplet abis aja, deh! Congrats ya!

Walhasil, kami bermalam di penginapan bernama Saung Bilik yang ada di KM 22. Soalnya, kami nggak mau langsung pulang ke Jakarta. Malu dong, pulang ke Jakarta tapi nggak sempat mencapai target ke dua objek wisata yang udah kami fokuskan buat dikunjungi? Apa kata dunia? Kebetulan juga memang masih ada satu hari libur yang bisa kami nikmati di Bandung Selatan ini. So, daripada-daipada, mendingan-mendingan, kan? Halah! That’s why kami memutuskan stay at Soreang.

Alhamdulillah, Saung Bilik matab sekali penginapannya. Recommended lah! Dari segi konsep arsitekturnya lebih baik ketimbang Kampung Pa’go. Menurut gw, konsep arsitektur Kampung Pa’go nggak jelas. Mau bergaya Sunda, nggak 100% arsitekturnya bergaya Sunda pisan. Mau dibilang penginapan berarsitektur Bali, nanggung. Nah, kalo arsitektur Saung Bilik jelas sunda. Eksteriornya terbuat dari kayu dan dibalut oleh bilik-bilik. Sementara interiornya sengaja dibuat modern.

Ternyata Pemilik Saung Bilik ini masih saudaraan dengan Kampung Pa’go. Siapakah dia? Ya, Drs. Yudi Tresna, SH itu tadi. Halah! Menurut Pak Yudi, mereka berdua memang masih saudaraan. Maksudnya, mereka berdua masih punya ikatan darah, yakni darah merah. Nggak heran kalo kamar di Kampung Pa’go full, Resepsionist-nya merekomendasikan Saung Bilik sebagai lokasi penginapan.

“Tapi kami cuma buka di weekend aja,” jelas Pak Yudi. “Soalnya di weekday, kami (maksudnya Saung Bilik) sudah kontrak dengan lima klab bola”. Jelasnya, kalo ada kompetisi di stadion Jalak Harupat, Soreang, Bandung, kelima klab bola nasional itu selalu nginep di Saung Bilik. Di antara kelima klab sepakbola itu, ada nama Pelita Jaya (Jakarta), Persikab (Bandung), Persiba (Balikpapan), dan Persisam Putra (Samarinda). “Mereka biasanya datang lima hari sebelum kompetisi. Ya, buat mengenal lapangan dulu. Itulah mengapa penginapan ini nggak dibuka untuk umum di weekdays”.

Saung Bilik termasuk penginapan yang masih fresh. Penginapan ini baru benar-benar dibuka pada tahun 2007. Padahal tanah yang berdiri di Saung Bilik udah dimiliki keluarga Pak Yudi tahun 70-an dan kemudian membeli tanah-tanah yang ada dekat situ. Menurut beliau, luas tanahnya yang produktif kurang lebih 11 hektar. Sedang ada tanah lain yang nggak produktif, yakni seluas 10 hektar. Nah, pada tahun 90-an, tanah yang masih asri itu mulai digarap menjadi penginapan. Hal tersebut bersamaan dengan pertumbuhan wisata di Ciwidey.

Menurut Pak Yudi, lokasi yang menjadi tempat penginapan Saung Bilik merupakan tempat bersejarah. Dahulu, kala Belanda masih menjajah Indonesia tahun 30-an, sejumlah warga di Soreang dikumpulkan. Biadabnya tentara Belanda, sebuah pesawat tiba-tiba menurunkan bom di sejumlah titik, termasuk di titik tempat dikumpulkan penduduk Soreang. Nggak heran pada saat itu wilayah Soreang porak-poranda. Hancur lebur!

Ayahnya Pak Yudi yang merupakan Pejuang 45 kemudian membeli tanah, dimana tempat bom Belanda sempat memporakporandakan Soreang. Tanah keluarga Pak Yudi kebetulan oke punya, yakni berada di antara sawah dan kali yang penuh batu. Udah gitu, kita bisa melihat jembatan yang berfungsi sebagai lintasan kereta api yang menghubungkan bukit A dengan bukit B. Keren, cong! Oh iya, lintasan kereta api ini masih berfungsi, lho! Masih ada kereta yang melintas. Yang paling sering manusia-manusia asal Soreang yang melintas di situ.

Selain soal arsitektur, yang menarik menginap di Saung Bilik adalah, kita bisa main di sawah dan sungai. Kalo di Kampung Pa’go, sawahnya udah “dimodernkan”. Jalan setapak yang biasa dipakai di antara persawahan, diplester dengan semen. Gw ngerti kenapa Pak Haji Lilik melakukan pemlesteran itu, yakni supaya mereka yang hendak ke sawah nggak kena becek. Tapi hal tersebut jadi terlihat aneh. Sawahnya asli, tapi jalan setapaknya nggak asli. Lagipula bukankah mereka yang niat ke sawah harusnya udah ngerti bakal kotor atau kena becek? Jadi ngapain juga diplester ya? Itu di Kampung Pa’go.


Ini di dalam kompleks Saung Bilik. Nampak asri. You know what? Ada beberapa pohon durian di situ. Kalo Anda beruntung, pas menginap di situ kejatuhan durian. Memang kejatuhan durian termasuk beruntung ya? Bukannya benjol?

Di Saung Bilik, kita bisa menikmati dunia sawah dan dunia kali (maksudnya bukan dunia perkalian angka-angka, lho!) dengan alami. Setidaknya ini yang sempat kami lakukan. Begitu matahari masih malu-malu muncul, kami sekeluarga berjalan di pinggiran sawah. Berbecek-becek ria. Kami ingin mendekatkan anak-anak kami dengan persawahan. Ini bertujuan agar mereka manghargai jasa para Pahlawan, eh maksudnya para Petani yang memproduksi beras buat makan kita. Maklum, selama hidup di kota, kita sulit memperlihatkan anak-anak dunia persawahan. Yang sering, kita memperlihatkan segala bentuk kemewahan, hedon, konsumerisme yang biasa lihat di mal-mal.

Selain sawah, di dekat Saung Bilik juga ada sungai. Jadi setelah puas bermain-main di sawah, Anda bisa mendekati sungai. Turun ke dasar sungai dengan menginjak bebatuan yang ada di tengah-tengah sungai. Jangan takut kotor! Airnya bersih, kok. Kebetulan dekat sungai ada air terjun buatan yang nggak lain dari palang pintu pusat pengendalian air. Kalo beruntung, selama main di sungai, kita menjumpai anak-anak sedang mencari ikan dengan menggunakan jaring. Kalo beruntung juga, kita bisa melihat dari atas batu di sungai, kereta api melintas di jembatan lintasan kereta api yang dibuat sejak zaman Belanda.

Alhamdulillah, wisata di sekitar Saung Bilik menyenangkan juga. Kekecewaan kami nggak sempat mengunjungi objek wisata di Ciwidey sedikit banyak terobati. Apalagi anak-anak kami juga sempat melakukan upacara pemetikan strawberry yang ada di Saung Bilik. Kebetulan masih di wilayah penginapan, ada perkebunan strawberry milik Pak Yudi. Meski nggak terlalu luas, namun tanpa perlu menepi ke sepanjang jalan Soreang, anak-anak udah merasakan aktivitas memetik strawberry.


Salah satu view Saung Bilik. Keren!

Satu hal yang beruntung, dua kali tinggal di penginapan di Soreang, Bandung Selatan ini, kami mendapat tempat yang oke punya. Penginapan yang benar-benar bebas dari mahkluk-mahkluk Tuhan yang ingin berzinah. Maksudnya, ada pasangan yang nginap di hotel padahal mereka bukan pasangan resmi. Mereka cuma menggunakan hotel buat short time.

“Kami memang selektif menerima tamu, Pak,” ujar Pak Yudi, pria berkumis tebal tapi ramah ini. “Kami nggak mau ada pasangan yang nggak jelas, menginap di sini. Makanya ketika ada anggota klab bola, terutama yang bule-bule, ingin minta perempuan, kami minta mereka mencari di luar penginapan ini. Alhamdulillah mereka mengerti aturan penginapan ini”.

Menurut Pak Yudi, rata-rata penginapan di Sorean memang jauh dari maksiat. Artinya, 99% penginapan bukan buat short time. Kabarnya, warga di sekitar Soreang ini agamanya masih kuat. Oh ya, 99% penduduk Soreang beragam Islam. Penginapan-penginapan di Soreang nggak kayak lokasi lain. Kalo hotel-hotel atau penginapan-penginapan lain nggak peduli mereka yang menyewakan kamar buat short time atau benar-benar buat keluarga. Baik Kampung Pa’go maupun Saung Bilik udah dipastikan bukan penginapan short time.

“Oleh karena para anggota klab tahu penginapan ini bukan penginapan short time, maka nggak ada perempuan-perempuan panggilan muncul di penginapan ini. Jangan heran kalo sebuah klab tiba di hotel, beberapa taksi yang berisi perempuan panggilan sudah siap di depan pagar,” jelas Pak Yudi panjang kali lebar.

“Kami memang selalu menjaga hal-hal yang kurang baik kayak begitu. Sekali penginapan kami ternodai, maka imagenya akan terus jelek. Ketika pertama kali membuka Saung Bilik, perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) daerah datang dan menayakan beberapa hal. Apakah penginapan ini akan ada kafe yang buka sampai malam dan menjual minuman keras? Lalu apakah penginapan ini akan melayani tamu yang butuh perempuan? Kami dengan tegas mengatakan: TIDAK! Gara-gara komitmen itu kami sangat di-support oleh mereka dan juga penduduk sekitar sini”. So, Anda-Anda yang punya niat nakal (seingkuh atau berzinah), jangan coba-coba menginap penginapan Soreang, khususnya di Kampung Pa’go dan Saung Bilik. Lebih baik Anda go to the hell!

Baiklah. Kalo soal penginapan, nggak usah dipertanyakan lagi. Baik Kampung Pa’go maupun Saung Bilik yahud punya. Tapi soal liburan kali ini, barangkali kami masuk kategori gagal. Maksudnya gagal ke objek wisata Kawah Putih Gunung Putuha dan Situ Patenggang, lho. Kalo soal happy di liburan kali ini, ya tetap happy dong! Nah, oleh karena nggak sempat mencapai dua objek wisata itu, gw dan keluarga tetap “dendam” ingin pergi ke situ. Menurut gw, agar nggak kena macet, sebaiknya jangan pergi di weekend, apalagi long weekend. Udah pasti penuh dan macet. Sebaiknya weekdays. Hal tersebut juga diakui oleh Pak Yudi. Beliau menganjurkan kami berpetualang di weekday.

“Selain nggak akan kena macet di jalur raya Soreang ke Ciwidey, perjalanan akan nyaman,” kata pria bertubuh tambur yang sempat menjadi karyawan di Indofood sebagai Marketer ini.

Bener juga sih. Masalahnya sekarang, apakah gw dan Anda masih punya jatah cuti di weekdays? Kalo kita ada, Istri kita punya jatah dan jumlah cuti yang sama nggak? Lalu bagaimana dengan anak-anak? Masa anak-anak disuruh bolos sekolah? Memang berbagai pertanyaan bakal muncul ketika kita akan merencanakan liburan. Bukan cuma pada saat merencanakan liburan di weekdays. Di weekend pun pasti banyak menimbulkan pertanyaan sebelum memutuskan pergi ke suatu tempat. Salah satunya soal biaya. Namun sebagai Petualang, kita pasti bakal menemukan solusi jitu. So, Kawah Putih and Situ Patenggang, I’ll be back soon!

Kampung Pa'go
Jl. Soreang - Ciwidey Km 25, Kab. Bandung, Jawa Barat. Telp: 022-5928062/ E-mail: info@kampungpago.com

Saung Bilik
Jl. Soreang - Ciwidey km 22, Kab. Bandung, Jawa Barat. Telp: 022-5891570/ 85872500


all photos copyright by Brillianto K. Jaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar