Selasa, 17 November 2009

BEAUTIFUL CIWIDEY: THOUSAND OF NATURE ATTRACTION

Subhanallah! That first word that I said suddenlly when I first came into Kawah Putih at Ciwidey, Bandung. The Kawah Putih in Ciwidey is definitely the "Must Visit" tourist destination near Bandung and recently this natural beauty has become one of the most favorite destination for couples from all across Indonesia to hold a pre-wedding photo session.


We must go through these trees before the Kawah Putih

Starway to The Kawah Putih.

Ciwidey is a lush of mountainous area located in southern part of Bandung. Ciwidey has a thousand of nature attraction appeals to its visitors, starting from greenery of tea plantation, the irresistible strawberry field, the stunningly beautiful Kawah Putih (White Crater), the legendary Situ Patengan (Patengan Lake) and many other intersting nature attraction.


Beautiful The Kawah Putih. "Must Visit"!


Located in Rancabali about 44 km from Bandung, Kawah Putih is volcanic crater with amazing and exotic scenery, which looks like a lake surrounded by mountains. The water is warm and has high sulfur content, and the sun's rays frequently change the color of the water from milky white into bluish green. It's often considered by visitor as part of heavenly beauty that has fallen to earth.

Located in between the Rancabali tea plantation and the Rancabali forest area, the lake has stunning nature scenery, this lake located 47 km south of Bandung.The lake is a lovely spot which is popular for weekend recreation. You can hire a row boat or water cycle and go around lake, or just stroll around and enjoy the view and cool mountain breeze. Looking over the lake from a higher place, you see the share is lined with tea plantations which look like a green carpet around blue water of the lake.


These tea plantations look like a green carpet


all photos copyright by Brillianto K. Jaya

HOME SWEET HOME

Rumahku istanaku. Ungkapan itu boleh jadi tepat. Buat gw, rumah memang kayak "istana". Yakni sebuah persinggahan kita yang nggak ada duanya. Meski kata orang mungil, dan memang kenyataannya kecil mungil ukuran tanahnya, rumah gw tetaplah kami anggap sebagai sebuah istana. Dimana kami bisa hidup bahagia kayak kisah di dongeng-dongeng: happily ever after. Luar biasa bukan?



Rumah gw berada di kawasan bebas banjir. Gini hari nggak cari rumah yang bebas banjir? mending ke laut aja! Alhamdulillah (sekali lagi) meski tanahnya kecil, kami dapat rumah yang anti banjir dan anti bom, karena nggak mungkin Israel gebleg itu akan nge-bom rumah kami. "Dimana sih rumah loe?" Biasanya teman-teman gw atau istri gw tanya kayak gitu. Rumah kami tepatnya di belakang Kompleks Cempaka Putih Indah.

Buat menuju kompleks itu, terlebih dulu yang elo kudu lakukan adalah berada di daerah Cempaka Putih Barat, trus perhatikan plang warna hijau kotak persegi panjang kecil yang nggak lain adalah petunjuk jalan. Cari tulisan di plang itu "Cempaka Putih Barat XXVI". Kalo udah nemu plang itu, congrats elo bakal dapat kulkas dua pintu! Eh, enggak ding! Itu tandanya, elo udah dekat lagi masuk ke kawasan rumah gw. Cuma ngingetin, di dekat plang itu, ada sebuah country club atau sport club. Nama bekennya sport club itu Arcici. Kepanjangannya Rawasari Country Club. Kenapa disebut Rawasari Country Club? Karena lokasinya di Rawasari, mungkin kalo di Bogor namanya jadi Teles Bogor Country Club.



Begitu berjumpa dengan Cempaka Putih Indah, buru-buru cari pohon kelapa yang berada di pojok kompleks. Di bawah pohon kelapa inilah gw biasa numpang parkir. Kok numpang-numpang? Itu kan depan rumah orang? Friends, sebelum orang itu tinggal, gw udah lebih dulu parkir, Bo! Tapi gw juga tahu diri, kok, setiap kali ketemu pemilik rumah gede itu, gw selalu menyapa: "Hai! Godain kita dong?" Mereka pun menjawab: "Emang kita cowok apaan?" Nggak kok! Mereka baik kok. Meski warga keturunan (maksudnya bermata sipit), mereka sangat welcome dengan kami yang memarkirkan mobilnya di depan rumahnya.

Oleh karena ada pohon kelapa, kode gw atau istri gw kalo ketemu orang ya "pohon kelapa". Misalnya, kalo gw ketinggalan barang dari rumah, para Asisten gw tahu dimana lokasi menyerahkan barang itu.

"Mbak tolong bawain ke pohon kelapa ya?"

Ketika ada tamu yang mau ke rumah gw, kodenya pun "pohon kelapa". Gw minta teman gw cari Kompleks Cempaka Putih Indah dan cari pohon kelapa. Banyak yang pintar mencari, banyak pula yang agak-agak tolol. Buat yang pintar, mereka bisa tanya Security kompleks dimana lokasi pohon kelapa berada. Buat yang agak tolol, mereka pergi ke pantai dan cari pohon kelapa.

"Pak, tahu pohon kelapa nggak?" tanya salah seorang tamu gw yang sekolahnya tamat SD.

"Lah, ini banyak pohon kelapa, Dik," jawab seorang Nelayan di pantai Anyar yang tangannya menujuk ke arah beberapa pohon kelapa yang ada di pinggir pantai.

"Maksudnya rumah Bapak Brillianto yang keren itu?"

"Oh, itu mah Bapak tahu. Adik luruh aja, kalo ada belokan belok aja. Kalo ada belok kiri ke kiri. Kalo ada belok kanan, ya ke kanan. Nah, di sekitar belokan-belokan itulah rumah teman Adik yang keren itu".

"...."



"Kenapa sih nggak memasukkan mobil loe ke depan rumah loe sendiri?"

Pertanyaan yang bagus, tapi menyakitkan. Tenang, Bro! Gw nggak sakit hati kok ditanya begitu. Kenyataannya begitu kok, memang mobil gw nggak bisa masuk ke garasi rumah. Kalo masuk dari kompleks Cempaka Putih Indah, mobil gw cuma bisa mentok sampe pohon kelapa itu tadi. Dan gw cukup puas memarkirkan kendaraan di bawah pohon kelapa. Selanjutnya? Jalan kaki melewati gang.

Menuju jalan rumah gw, elo memang kudu lewat gang. Ingat gang, bukan geng! Kalo geng, biasanya menjurus ke arah negatif. Contoh geng motor. Geng motor itu kerjaannya kebut-kebutan. Sering punya urusan sama aparat. Banyak yang mati gara-gara ngebut. Nyusahin Nenek sama Kakeknya, karena bikin jantungan. Pokoknya segudang tendensi negatif deh.

Balik lagi ke gang yang ada di rumah gw. Gang di rumah gw bukan gang senggol, karena masih relatif bisa buat jalan tiga orang. Tapi seringkali kalo badan si Pejalan kaki gede, kayak King Kong, doi akan menyenggolkan orang-orang di sekitar.

Gang ini cuma bisa dilewati manusia, hewan, motor, dan sepeda. Mobil nggak bisa. Makanya mobil gw nggak bisa. Belum pernah sih ada mobil maksa lewat gang ini. Padahal kalo gw ukur-ukur, mobil kayak Karimun, atau Chery QQ, mungkin bisa maksa lewat gang ini. Ya paling-paling resikonya, pintu kanan-kiri tergores-gores tembok yang ada di gang itu.

Yang menarik dari gang ini, ada sebuah taman di situ. Di taman itu tumbuh, beraneka tumbuhan, salah satunya pohon tebu. Taman itu awalnya adalah kandang ayam dan bebek. Ada salah seorang tetangga gw yang memelihara mahkluk kesayangan manusia yang sering dibunuh itu. Tapi, peliharaan itu bikin bau gang itu. Bikin kotor gang itu. Setiap manusia yang lewat di gang itu jadi bau bebek atau bau ayam. Alhamdulillah, sejak pemeritahan RT baru, kandang bebek dan ayam itu disulap jadi taman yang indah. Bukan cuma taman, Ketua RT itu menghimpung warga buat membangun musholla dan juga kolam ikan.

Sungguh, Ketua RT gw yang baru ini luar biasa. Dia bukan kayak Caleg-Caleg yang lebih banyak mengeluarkan slogan di poster daripada melakukan sesuatu yang bermanfaa buat warga. Tahu nggak, musholla itu berguna sekali bagi berbagai kalangan di wilayah RT gw. Kalo nggak buat ngaji ibu-ibu, ya ngaji anak-anak.



Rumah gw boleh mungil, tapi tetap ada pekarangannya. Itu memang prinsip kami. Bahwa penghijauan adalah sebagian dari iman. Enak kan kalo pagi-pagi melihat warna-warna hijau di pakarangan? Apalagi kalo hijau-hijau di halaman bekas kena air hujan. Seger banget ngeliatnya!

Di halaman ini, hidup aneka macam tumbuhan. Ada kembang sepatu, pohon dolar, lidah buaya, pohon kamboja, dan pohon pisang. Kami memang rada gokil memelihara beraneka ragam tumbuhan di halaman yang sempit. Kami nggak peduli, yang penting penghijauan. Lagipula, tumbuhan itu bisa jadi patokan dimana rumah kami berada.

"Maaf rumahnya Ibu Sindhi dimana ya?" tanya teman istri gw pada tetangga rumah gw.

"Coba Mbak cari rumah yang ada pohon pisangnya, itu pasti rumahnya Ibu Sindhi," kata tetangga itu yang cuma pake celana kolor.

"Terima kasih,"

"Eh, Mbak, kalo pohon pisangnya Ibu Sindhi lagi ada buahnya, jangan lupa bawain buat kita ya..."

Dahulu, rencananya halaman ini mau dijadikan tempat parkir mobil. Makanya kami sempat membuatkan track buat ban mobil memarkirkan diri. Tapi rencana itu kami gagalkan. Kenapa? Kayak-kayaknya kalo halaman dijadikan parkir mobil, pemandangan yang terlihat, pasti bukan tumbuh-tumbuh tapi mobil. Kami jadi nggak lagi melihat penghijauan. Bukankah dewasa ini lagi musim serba green? Makanya, supaya mata kami tetap hijau dan tempat parkir nggak sia-sia, kami menampatkan sepeda sebagai kendaraan yang diparkir di halaman rumah kami.



Dari halaman rumah gw, kalo kepala kita diangkat ke atas, elo akan melihat balkon rumah kami. Kami memang agak sok kaya pake balkon-balkon segala. Boleh dong? Impian kami, dengan adanya balkon, tiap sore gw dan istri bisa ngopi dan baca koran di atas balkon. Bikin cerita pake laptop. Ngobrol-ngobrol soal investasi masa depan. Makin syahdu kalo saat di balkon melihat hujan rintik-rintik. Buat gw, situasi kayak gitu lebih nikmat daripada ngopi di Sturbuck yang milik Yahudi itu.

Pemandangan memang lebih asyik kalo kita berada di atas balkon. Kalo pandangannya eye level, kita memang cuma melihat atap-atap rumah tetangga gw sih. Nggak banyak tumbuhan di depan, kecuali daun-daun pisang yang tumbuh di halaman gw. Kalo kita berada di tepi balkon dan melihat ke bawah, ke halaman gw, tumbuhan yang hijau itu akan terlihat jelas. Kelihatan mana pohon yang tumbuh, mana yang perlu ditebang, mana yang perlu disiram. Kadang-kadang kalo beruntung, kita akan melihat sejumlah tikus yang hilir mudik di halaman itu dan masuk ke lubangnya.



Aneka atap ini adalah pemandangan kalo kita melihat dari atas genteng rumah kami. Gimana naiknya? Caranya mudah kok, cukup memiliki nyali buat naik ke atas genteng via balkon. Sebaiknya naik pada saat musim semi. Kalo musim hujang, elo akan kehujanan dan licin. Kalo musim panas, udah pasti akan kepanasan dan wajah loe bisa gosong.

Sebelum langganan pay tv, kalo antena tv lagi butuh kasih sayang, gw terpaksa jadi monyet. Naik dari balkon ke atas genteng. Di atas genting, gw bukan berjemur kayak orang bule berjemur di pantai Kuta, tapi putar-putar antena.

"Udah oke belum gambarnya!" Itu teriakkan gw dari atas genting ke orang-orang yang ada di ruang tamu, dimana terdapat televisi.

"Beluuuum!" Itu teriakan salah satu orang di bawah, dimana mengabarkan kalo gambar di televisi masih nggak bagus. Maksudnya belum pas. Masih meletat-meletot.

Alhamdulillah, sejak langganan pay tv, gw nggak puter-puter antena lagi. Tapi puter-puter badan buat cari ada kamar mandi yang bisa diintip apa nggak. Ah, itu mah masa lalu. Sekarang gw nggak perlu ngintip kamar mandi lagi, karena udah ada yang bisa diintip gratis. Lagipula kebetulan kamar mandi di tetangga gw udah modern. Udah nggak ada yang bisa diintip. Super ketat penjagaannya alias temboknya.



Sebelum naik balkon, kita kudu melewati tangga menuju lantai dua. Tangga ini muncul begitu elo membuka pintu rumah gw. "Ciluk ba!" Tangga gw ini terbuat dari beton asli yang diplester dengan keramik model kotak warna cokelat muda.

Kata beberapa ahli feng shui, tangga ini kurang tepat. Nggak dibelok-belokin. Langsung lurus dari pintu masuk. Katanya nggak boleh kalo langsung lurus. Gara-gara kurang tepat, rezeki jadi mudah kabur. Udah kabur, nangkepnya pun susah. Ada sih rezeki, tapi banyak yang lewat. Coba kalo tangga ini dibetulkan, nggak langsung dari pintu ke lantai atas, bisa jadi rezeki kami akan berubah. Duit akan berkoper-koper kami simpan. Duitnya duit halal dong! Tapi syirik nggak sih cuma urusan tangga yang nggak tepat kayak gitu?



Kamar kami adalah hidup kami. Ini pepatah yang bukan cuma basa-basi. Kenapa? Kami hidup di kamar ini, dimana di sini ada diskusi, ada tangis, ada haru, nonton DVD, menghitung rezeki, menyimpan buku, mengetik cerita, menghubungi teman, menerima telepon, dan banyak aktivitas yang positif kami lakukan.

Bukan karena kami jorok kalo kamar kami terlihat kayak "kapal pecah". Kamar kami memang dinamis. Sometimes bersih banget, sometimes penuh buku berserakan, DVD berserakan, CD berserakan (bukan Celana Dalam, lho!), duit-duit berserakan (meski duitnya recehan), dan benda-benda lain berserakan. Ini tanda kedinamisan sebuah kamar calon OKB alias orang kaya baru.


Kami yakin banget, dari kamar ini, kami merintis sesuatu hal besar di masa depan. Rencana-rencana masa depan, entah buat anak kami, maupun buat kami sendiri. Kami selalu optimis dan semangat. Meski kadang ada benturan-benturan kecil, alhamdulillah kami selalu bisa menyelesaikannya dengan itikad baik. Inilah kenapa perkawinan kami bisa bertahan sampai sebelas tahun. Padahal, kalo melihat ke sekeliling kami, banyak teman-teman kami yang nggak mampu mempertahankan rumah tangga. Ada yang bercerai, kawin lagi, punya anak, bercerai lagi. Alhamdulillah kami survive. Kok jadi serius ya?



Kamar anak kami ini seringkali nggak terpakai. Maksudnya, pada saat malam tiba, anak-anak kami seringkali meninggalkan kamar mereka dan pindah ke kamar kami. Bukan karena kamar mereka bau, kotor, panas, dan banyak tikus. Kamar mereka dingin kok, karena pakai penyejuk ruangan sebagaimana kamar kami. Mereka ternyata lebih suka tidur malam beramai-ramai. Mungkin lebih hangat. Lebih terasa hidup bersama kayak slogan rumah kami yang happily ever after itu.


Anak kami memang lucu-lucu. Nggak tahu keturunan siapa? Yang jelas sih keturunan kami yang lucu-lucu juga. Lucu alamiah, meski kami nggak sempat jadi Pelawak. Kami memang lucu, tapi khusus konsumsi anak-anak kami. Tapi lucu ada waktu-waktunya dong. Masa pada saat marah kita pasang muka lucu? Yang ada, kami jadi terlihat nggak berwibawa di hadapan anak-anak kami.

"Papa lucu kayak badut". Begitu kata anak gw paling kecil. Kok kayak badut? Padahal perut gw nggak gendut-gendut amat deh. Hidung gw juga nggak pakai benda merah bulat yang mirip buah tomat itu. Sepatu gw juga nggak kegedan. Jadi kenapa anak gw menyatakan gw kayak badut? Ah, mungkin karena teman-teman gw banyak yang politisi, yang ngomong dan tingkah laku mereka kayak badut.



Kalo udah puas melihat kamar, lebih baik elo mampir dulu ke kamar mandi. Nggak perlu mandi, karena gw nggak menyediakan handuk lebih. Kalo nggak mandi ngapain dong? Ya kalo nggak kepengen pup, ya sekadar kencing lah. Nggak bakal ditagih uang seribu perak, kok kalo elo kencing. Kencing di WC gw gretong. Kecuali nanti kalo gw memang udah bener-bener BU alias butuh uang, dimungkinkan seseorang menjaga di pintu WC sambil memberikan sobekan tiket bertuliskan: "Terima kasih Anda udah kencing di WC kami dan membayar uang kencing. Sampai jumpa lagi dan selamat sampai tujuan!"

You know what? dari kamar mandi yang kecil mungil ini, kami mendapat banyak ide gokil, terutama gw. Beberapa cerita gw, lahir dari kamar mandi ini. Memang nggak seperti seniman-seniman (karena gw memang bukan seniman) yang mencari inspirasi di gunung atau hutan atau pojokan tembok, gw cukup di kamar mandi. So, jangan heran kalo gw seringkali lama nongkrong di WC. Hitungannya bisa berjam-jam. Bukan cuma sejam dua jam, tapi lebih dari lima jam. Bohong ding! Nggak sampe berjam-jam kok, tapi berhari-hari. Mandinya sih sebentar, nongkrongnya yang lama.



Ini tangki air yang letaknya persis di samping kamar anak kami. Kalo mau menuju tangki ini, selain naik tangga dari bawah, bisa lewat jendela kamar anak. Kalo keputusannya lewat jendela anak kami, mirip maling sih. Tapi dipastikan elo nggak akan digebukin. Paling-paling dipukulin sampai benjol!

Tangki ini buat menampung air dari PAM. Sebelum masuk ke tangki, ada perjalanan air PAM yang berlika-liku. Pertama, air PAM dimasukkan ke dalam bak mandi. Nah, dari bak mandi yang udah penuh air, ada pipa yang menuju ke tangki itu. Lalu siapa yang menyedot? Yang pasti bukan gw. Yang menyedot adalah jet pump. Setelah air tersedot via pipa, maka air akan masuk ke dalam tangki. Indikator air di tangki penuh, air-air akan bubar jalan alias keluar dari tangki itu.

"Kebakaran! Kebakaran!" begitulah suara Asisten kami berteriak kalo air tangki udah penuh. Kok kebakaran? Maksud mereka kebakaran jenggot, karena air yang tumpah dari tangki atas itu menyiprat manusia-manusia di bawah. Kalo udah kena ciprat, keran air PAM segera dimatikan.

Sekali-sekali mampirlah ke tangki berwarna oranye itu. Memang ngapain mampir ke tangki? Kurang kerjaan ya? Eit! Jangan nuduh kurang kerjaan dong, Bro! Soalnya, someday gw perlu mencuci tangki dari lumut-lumut yang menempel di dalam bak tangki. Hah?! Ada lumut? Jijai bajay banget! Itu dahulu kala, masih zaman rekiplik. Dahulu sebelum pakai PAM, kami memang biasa menggunakan air tanah yang disedot via jet pump. Ternyata air tanah di rumah gw menggandung lumut. Coba mengandung duit ya?

Oh iya, percaya nggak percaya, gw bisa masuk ke dalam tangki itu. Masuk ke tangki dalam rangka membersihkan tangki kale! Bukan ngumpet dalam rangka main petak umpet sama anak gw lah yau. Itu pun dahulu kala. Nggak tahu kalo sekarang, masih muat apa nggak badan gw masuk ke situ.



Tur kita terakhir kali di rumah gw, adalah di halaman belakang. Hebat kan rumah kami, biar kecil tetap ada halaman di depan maupun di belakang? Sekali lagi, halaman selain berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman, juga sebagai sarana angin masuk ke dalam rumah. Ada angin masuk dari halaman depan, masuk ke dalam rumah gw, dan keluar lewat halaman belakang.

Lubang ini bukan lubang kuburan. Ini adalah lubang sampah. Ceritanya kita pengen hidup dengan cara orang-orang enviromentalist, yakni dengan mengubur sampah-sampah organik agar nanti mengurai di tanah. Apa aja sampah-sampah organik? ya bekas potongan-potongan sayur, buah, dan aneka daging. Tapi be carefull with tikus tanah. Mereka senang banget dibuatkan lubang kayak begini. Nggak heran begitu kami buatkan lubang sampah, beberapa tikus tanah akrab di halaman belakang rumah gw. Terus terang gw nggak berani bergaul sama tikus. Jiji! Beruntunglah gw punya istri superwoman. Selain cantik, berani menghadapi pasukan tikus yang nggak lucu itu.

BREAKDANCE

Ada hal yang menjadi bagian paling heboh di era 80-an: breakdance! Kalo lihat ada sekumpulan muda yang melakukan gerakan patah-patah, rasanya mengingatkan sebuah masa dimana breakdance mewabah.

Aku menjadi bagian era itu. Aku juga menjadikan bagian dari anak-anak muda yang tergila-gila dengan breakdance. Selalu ada waktu untuk breakdance, entah itu Sabtu atau Minggu. Weekdays-nya cukup menggerak-gerakkan tangan, kaki, atau anggota tubuh lain. Jika waktu cukup, kadang mencuri-curi di sekolah. Bersama teman-teman buka "venue" dengan kardus, musik diputar, aktraksi dimulai.

Membawa tape recorder sambil bergaya di jalan. Memakai kaos tangan panjang, dibungkus kaos bendera Inggris. Topi dimiringkan. Sepatu kets. Gak lupa membawa kardus bekas yang diperuntukan sebagai "venue" breakdance. "Venue" bisa dimana-mana, bisa di pinggir jalan, bisa di tengah-tengah lapangan. Pernah sekali waktu, jalan seenak-enak udel, naik ke kap mobil orang. Ribut pada saat kompetisi breakdance, bukan gak pernah, tapi sering banget. Malu kalo diceritakan.


Ketika di Padang. Ketika di SMA Don Bosco, ada saja sentilan untuk kembali bergerak. Menjadi breakdancer lagi. Tapi kayaknya otot udah gak sefleksible lagi. Bukan gak kuat. Ngeri kalo dipaksa, ada yang salah otot. Ya, cukup memperlihatkan ke teman-teman satu gaya: windmill. Gaya berputar yang diperlukan ketahanan tangan kanan dan kiri, serta putaran kaki. Persisi seperti putaran kincir angin. Makanya namanya windmill.

Ada banyak gaya di breakdance. Moonwalking, spider walk, termasuk headspin. Gaya terakhir yang gak sempat dibuat jadi "jago". Ngeri soalnya. Salah berputar, leher bisa melintir.

OPERASI GIGI - episode # 2

Kalau saja tisu itu bisa bicara, mungkin ia akan berteriak kencang. Betapa tidak, tanganku meremasnya begitu kencang. Yang juga tak kalah seru, kakiku menendang-nendang pijakan sebuah kursi. Beruntunglah kursinya tak bisa bergerak. Kalau bisa, seluruh peralatan operasi berantakan karena tertimpa kursi.

Air mata menetes dari sela-sela mataku. Entah mengapa kali ini aku begitu cengeng. Padahal sebelumnya aku begitu meremehkan yang namanya operasi. Batinku waktu itu, operasi gak ada apa-apanya. Kenapa harus ditakutkan, apalagi operasi yang kujalankan ini cuma operasi gigi.


Nyatanya, operasi tetap saja operasi. Sakitnya minta ampun. Aku gak sangka, kenapa operasi yang dilakukan sore menjelang malam itu sampai sesakit ini? Benar-benar sakit.

“Masih sakit?” tanya drg Basuni AD.

Buat dokter, suntikan dua kali yang beberapa menit sebelumnya dianggap mampu membius rasa sakitku. Nyatanya nggak tuh! Aku melihat sendiri, dokter itu menancapkan jarum suntik berisi serum antisakit ke dua titik dekat gigi yang akan dicabut. Satu di gusi samping kanan, satunya lagi di samping kiri.

Sepuluh menit serum antisakit itu diharapkan bekerja. Saat-saat menunggu sepuluh menit, mata kananku melirik ke arah sebuah tatakan yang satu paket dengan bangku yang sedang aku tiduri ini. Di tatakan tersebut ada beberapa alat yang akan membantu operasi gigiku ini. Selain dongkrak, ada cermin kecil, dan yang menakutkan ada tang. Yap! Sebuah tang yang aku tahu selama ini cuma digunakan saat orang membangun rumah atau nge-bengkel.

Sepuluh menit berlalu. Bunyi bor itu membuat kupingku ngilu. Anda pasti bisa merasakan sepertiku, sama halnya saat seorang Pengebor tembok yang membunyikan alat itu untuk mengebor dinding tebal. Kali ini memang bukan dinding yang akan dibor, tapi gigiku. Memang kecil bornya, tapi nyerinya sampai ke kupingku.

“Aduh! Aduh!” Aku minta perhatian drg agar menghentikan aktivitas mengebor gigiku.

“Masih sakit?” tanya drg berkacamata tebal itu, yang dalam melakukan aktivitas sehari-harinya ditemani oleh seorang pria berusia 60-an tahun.

Aku sebenarnya ingin menjawab: Ya, iyalah sakit dok, masa ya iya dong!”



“Kumur...”
“Kumur lagi...”

“Lagi kumur...”

Lagi-lagi kumur. Itu memang aktivitas yang sudah lazim tiap operasi gigi. Begitu sang dokter kelar ngebor, ada serpihan gigi yang bertebaran di seputar gigi. Dengan begitu, kumur menjadi “makanan” lazim. Apalagi kalo gusi sampai mengeluarkan darah. Tak heran kalo berpuluh-puluh tisu sudah aku habiskan buat membasuh mulutku sehabis kumur.

Namun kumur tak menolong rasa sakitku, keperihanku atas operasi ini. Drg Basuni pasti bingung tujuh keliling dengan ketidakmampuanku menahan keadaan tersebut. Tapi apakah cuma aku yang tak bisa menahan sakit? Apa baru kali ini drg ini mendapatkan pasien yang terlalu manja, tak dapat menahan sedikit saja rasa perih?

Semanja itukan aku? Yang aku tahu, aku adalah tipe orang cuek yang tough. Bisa menahan rasa sakit, mulai dari sakit hati sampai sakit kepala. Untuk kali ini, sakit gigi, kenapa aku dianggap mudah menyerah? Aku tipe survivor. Pantang menyerah. Sekelumit perjalanan hidupku menyerah pada saat aku diputuskan cinta oleh seorang wanita yang aku sayangi tapi dia ternyata lebih sayang pada pria lain.

Ada lagi yang cerita hidupku yang aku anggap menyerah dan tak akan pernah mau lagi melakukan, yakni naik Kora-Kora dan Halilintar. Cukup satu kali seumur hidup aku merasakannya. Buatku dua permainan di Dufan itu bikin wajahku seputih mayat. Pucat! Meski ditawari uang ratusan juta, aku pasti akan menolak naik dua permainan itu. Bodoh? Barangkali begitu. Tolol? Ya, mungkin saja. Terserah apa kata orang. Aku malah berkata sebaliknya. Ngapain ngantri bermeter-meter untuk sebuah permainan yang bikin jantung gak jelas maunya apa...

Kalau tidak salah, sudah hampir enam sampai tujuh suntikan yang sempat ditusukan ke gusi samping dekat gigiku yang mau dicabut itu. Bahkan yang aku rasakan, ada satu suntikan yang khusus disuntikan di tengkorak gigi, supaya aku tak memohon drg itu menghentikan operasinya karena tak bisa menahan rasa sakit.

Kesulitan yang dialami dokter satu ini bikin keringatku semakin menetes banyak. Kalau diliterkan seperti lazimnya penjual air keliling yang menggunakan gerobak, mungkin keringatku mencapai dua ember. Tapi ember kecil, lho. Untunglah dokter tak menyerah. Meski jam sudah meninggalkan angka enam yang sebelumnya masih bercokol di angka lima, dokter dan asisten masih sibuk mengobok-obok gigiku.

“Akhirnya selesai juga!”

Bukan main girang sang dokter, sama halnya dengan aku. Operasi selesai juga. Sambil menunjukan pecahan gigi terakhirku sebesar biji jagung. Gigi yang ternyata berada sedikir di dalam gusi, sehingga sulit untuk dijangkau oleh tang dan dongkrak sekalipun.

“Kalau gigi ini gak diambil, Bapak pasti akan selalu kesakitan,” jelas drg Basuni.

Syukurkan kalau begitu. Aku tak perlu repot-repot bolak balik ke dokter gigi kalau penyebab kesakitan itu sudah dicabut. Sungguh bukan maksudku untuk melepaskan kepergianmu oh gigi. Itu karena kamu nakal dan mungkin juga karena kesalahanku. I wish I could save you soul.

Mungkin beberapa tahun lalu, pada saat terakhir aku ke dokter gigi, nasihat dokter ada benarnya. Buat orang seusiaku, hal yang paling bijak adalah memeriksa gigi selama enam bulan sekali. Mau gigi itu tak ada masalah, apalagi ada masalah, check gigi setiap enam bulan wajab hukumnya. Untuk usia di atas 40 tahun, bahkan dianjurkan memeriksa gigi tiga bulan sekali.

Jangan anggap remeh gigi. Gigi memang cuma gigi. Sebuah kumpulan tulang kalsium yang kuat dilapisi email. Tapi di bawah gigi, ada sekumpulan syaraf-syaraf yang bisa membuat otak kita, kuping kita, atau anggota tubuh kita menjadi tak punya arti lagi. Seperti kesakitanku. Yang sakit memang gigi, tapi sakitnya sampai ke gedang telingga. Makanya kalau anda sakit gigi, jangan coba-coba naik pesawat, karena dijamin Anda akan kesakitan dan nangis sepanjang perjalanan. (*)

VIDEO KARYA ANJANI

OPERASI GIGI - episode # 1

Bukan maksud meremehkan sebuah operasi, saat ini gak ada satupun ketakutan yang ada di hatiku untuk menghadapi operasi. Buatku operasi biasa saja. Gak ada yang perlu ditakuti. Aku heran, kenapa kebanyakan orang stres menghadapi operasi.

Pernah saudaraku gak bisa tidur gara-gara memikirkan operasi yang akan berlangsung keesokan harinya. Seingatku waktu itu operasi usus buntu. Gara-gara stres, gerak-geriknya jadi aneh. Segala posisi tidur sudah dilakukan: posisi kanan, posisi kiri, atas, maupun bawah. Sang istri yang mencoba menenangkan sang suami jadi serba salah.

Lain lagi yang dialami temanku. Setahun yang lalu temanku stres berat seminggu sebelum dioperasi kornea matanya. Dalam stresnya, ada dua pikiran: survive dan mati. Kata survive pun masih ada cabangnya lagi: melek dan buta. Buat kebanyakan orang, stresnya temanku itu beralasan. Kalo melek, sudah pasti akan survive. Karirnya yang selama ini diperjuangkan untuk menjadi seorang Manager akan terkabul. Namun kalo buta, ini akan menjadi derita bagi hidupnya. Sudah pasti pilihannya dua: menyusahkan orang lain atau gantung diri.

“Operasi? So what gitu lho?!”

Bukan maksud pula meremehkan sebuah gigi. Memang, gigi membantu banyak hidup manusia. Tanpa gigi, kita gak akan mungkin bisa menikmati mengigit bebek goreng Kaliyo yang nikmat itu. Tanpa gigi, kita gak mungkin akan menyunyah permen karet ala Lupus.

“Tapi ini cuma gigi kok! Tenang aja!”

Memang cuma operasi gigi. Tapi tetap saja judulnya operasi, begitu kata teman-temanku. Toh aku tetap cuek aja. Biasa aja. Gak takut. Toh nanti sebelum operasi gusiku dibius dulu.

Sebenarnya aku gak suka kenapa akhirnya harus dioperasi. Sebuah kesakitan di gigiku yang sudah kurasakan seminggu ini masa harus berujung operasi? Rasa nyut-nyut yang menganggu tidur salama ini haruskan berakhir di sebuah ruang yang penuh pisau yang nanti akan berdarah-darah?

“Makanya jangan lupa gosok gigi, Pak,” papar drg. Basuni AD.

Terus terang, sepersekian detik dokter itu mengeluarkan kalimat itu, darahku langsung naik. Hatiku panas. Jiwaku mendidih. Entah ungkapan apalagi yang pantas menggantikan kemarahanku.

“Enak aja tuh dokter nganggap gue jarang gosok gigi! Emang dia tahu berapa kali sehari gue gosok gigi? Emang dia pernah ngintip kapan gue gosok gigi? Gue ini rajin gosok gigi!!!”

Sebenarnya aku ingin sekali langusng bereaksi pas dokter itu mengklaimku jarang gosok gigi. Tapi dokter itu terlalu pintar, terlalu cerdas. Kebetulan pada saat dokter itu bicara, mulutku sedang dipaksa manggap menghadap lampu. Alat-alat dokter sedang mengobok-obak gigi dan gusiku. “Sial!”

Karena naik pitam, segala alasan dokter jadi gak mauk akal. Aku anggap, akulah yang benar. Buatku, gak ada hubungannya sikat gigi dengan gigi berlubang. Memang dokter itu tahu kalo pasta gigi bisa menahan gigi jadi tidak berlubang? Buatku, gak ada hubungannya juga gigi kuning dengan jarang gosok gigi. Banyak kok teman-temanku yang rajin gosok gigi, giginya tetap kuning. Memang dokter itu tahu kalo temanku jarang gosok gigi? Enggak kan? Siapa tahu temanku itu memang pencinta Golkar...

“Harus dioperasi Pak,” kata drg tua yang rambutnya sudah dipenuhi uban itu.

Akhirnya aku harus pasrah. Aku harus menghadapi operasi gigi. Secara logika, memang sulit mencabut gigi yang posisinya horizontal, yang terbenam bersama gusi. Yang bisa dilakukan adalah merobek gusi dan mencabut gigi itu.

“Haruskah aku merelakan gigiku dirampas oleh dokter itu? Haruskah kubiarkan satu gigiku hilang meninggalkan teman-temannya?”

Sungguh gak ada maksud untuk merelakan gigiku dirampas. Aku sayang pada gigiku. Gigi yang menemani hidupku selama puluhan tahun ini. Yang sudah membantu mengunyah makanan-makanan sehat maupun gak sehat selama ini. Berjuta pengalaman sudah dimiliki gigiku yang akan dicabut ini. Hoka-hoka Bento, nasi Padang Sederhana, dan lain-lain sudah pernah dirasakan gigiku. Mungkin sudah saatnya say goodbye. Maaf ya Gi, aku harus merelakanmu pergi. Kamu harus dicabut lewat operasi yang beberapa jam lagi berlangsung.

Aku memang sedih soal gigi itu. Aku juga masih marah soal kalimat dokter itu yang gak beradab. Namun soal dokter gigi pemilik Toyota Corola 73 ini, agaknya aku harus percaya. Mungkin drg. Basuni benar, aku harus menjalani operasi. Kalo gak operasi, mungkin aku harus berhadapan setiap hari dengan gigiku yang sakit ini. Yang setiap malam menganggu tidurku. Di saat-saat sakit itu, aku benci kalo mengingat lagu Meggy Z yang membandingkan sakit gigi lebih enak dari sakit hati. Harusnya aku limpahkan sakit gigiku ke Meggy Z kali ya biar dia tahu kalo sakit gigi itu sangat mengganggu.

Beberapa jam sebelum operasi gigi seperti sekarang ini, aku cuma bisa berharap. Drg. Basuni akan melakukan hal yang terbaik dalam operasinya nanti. Gigiku tak akan marah karena harus dicabut dan meninggalkan teman-temannya. Dan tentunya Tuhan bersertaku. Selain berharap, aku juga exciting! Aku menunggu cerita di ruang operasi nanti. Tenang saja teman, aku pasti akan ceritakan saat-saat berkesan selama gigiku dicabut. (*)

RATA DENGAN TANAH

Tragedi di gedung Teater Besar Universitas Negeri Jakarta rupanya kayak blessing in disguise. Hikmah yang diambil adalah membangun gedung baru yang lebih besar buat segala aktivitas. Memang, sudah waktunya membongkar gedung teater yang sudah berdiri tahun 70-an ini.

Ketika berada dekat gedung Teater Besar, pikiran saya jadi mengawang-awang, flashback mengingat masa lalu. Dimana gedung pernah saya, teman-teman, dan pihak sekolah melakukan aktivitas yang sifatnya masal, entah itu wisuda TK, SD, SMP, dan SMA, juga aktivitas kesenian. Di Teater Besar inilah untuk pertama kalinya saya manggung, memainkan naskah drama.

Saya masih ingat, kisah drama yang saya mainkan di Teater Besar ini mengenai sekelompok orang yang terjebat di dalam sebuah lift yang macet. Beberapa orang panik. Gara-gara panik, masing-masing orang jadi membuka jati dirinya. Ada orang sombong, orang yang nggak pedulian, dan karakter orang lainnya. Sejak manggung di Teater Besar ini, saya jadi menyukai dunia teater, khususnya seni.

Kini gedung teater sudah rata dengan tanah. Nggak ada lagi tembok-tembok yang dibiarkan tersisa. Di tanah yang kurang lebih seribu meter persegi milik Universitas Negeri Jakarta ini menurut rencana akan dibangun rektorat, plus gedung pertemuan buat mengganti gedung teater yang terbakar itu.