Sehabis sholat dzhur siang ini, anak saya minta izin pergi. Long wiken ini kami memang tak punya rencana pergi kemana-mana, makanya kami mengizinkan. Tentu, kami tak asal ngasih izin. Sebelum pergi, ada persyaratan yang kudu dipenuhi. Ia harus membereskan beberapa pekerjaan rumah terlebih dahulu, baik itu nyuci maupun ngepel.
"Emang rencananya kamu mau pergi ke mana?" tanya saya.
"Ya, paling makan trus nonton bioskop," jelas anak saya.
"Nonton film apa?" saya kepo.
Anak saya menyebutkan salah satu film nasional yang kabarnya lagi happening. Saya sudah mengira, ia akan menyaksikan film itu. Nah, mumpung sedang membicarakan film yang akan ditonton anak saya, diskusi tentang menjaga kehormatan pun terjadi.
Bahwa saya ingatkan, saat ini banyak sekali film-film yang mengajarkan hal-hal sebetulnya dilarang agama, tetapi dianggap biasa. Agama telah mengajarkan tentang menjaga kehormatan sampai pasangan sah sebagai suami istri. Baik perempuan atau laki wajib jaga kehormatan. Terutama perempuan, selalu jadi korban.
Pegangan tangan, pelukan, maupun ciuman pada teman lawan jenis, dikampanyekan lewat film sebagai hal yang lumrah, biasa. Film membungkus apik, hal-hal yang sebetulnya dilarang oleh agama. Para penonton pun menganggap hal tersebut lumrah, wajar, tak berlebihan.
"Papa yakin, kamu bisa menjaga kehormatan dan tahu kalo scene-scene tersebut tidak layak," ingat saya.
"Iya, aku tahu..."
"Alhamdulillah..."
"Harusnya bukan cuma film yang dipersoalkan, Pa, tapi sinetron. Banyak sinetron yang harusnya diberhentikan, karena banyak mengajarkan pergaulan bebas..."
"Kalo tentang sinetron remaja, papa memang nggak bisa komentar. Sudah parah. Kamu betul..."
Tak terasa, anak saya sudah sampai di rumah teman yang akan bersama nonton di bioskop. Sebelum berpisah, saya kembali bepesan untuk jaga kehormatan diri. Dan jangan lupa selalu berdoa pada Allah.
"Assalamu'alaikum..." ujar anak saya sambil keluar dari pintu mobil.
"Walaikum salam..."
Rabu, 04 Mei 2016
Senin, 11 April 2016
Kalo Nggak Bikin Karya Positif, Mending Nggak Usah
Minggu lalu, anak saya ngajak ke acara inagurasi. Kebetulan waktu magangnya sudah selesai. Ia dan teman-temannya akan "dilepas" oleh kantor tempatnya magang. Nah, acara pelepasan anak-anak magang tersebut dinamakan inagurasi.
Saya hadir beserta istri dan anak saya kedua. Nggak kayak di tempat magang saya saat kuliah dulu, kantor tempat magang anak saya ini membuat acara khusus. Memang, inagurasi di sini nggak kayak inagurasi di kampus. Namun, inagurasi yang saya hadiri ini menarik. Anak-anak magang diminta untuk melakukan presentasi ke seluruh peserta, dimana para peserta merupakan para orangtua. Ibarat kreator yang mempresentasikan ke klien, satu per satu, anak magang mempresentasikan karya mereka.
Saya bangga melihat karya anak-anak SMK ini. Mereka sudah mahir membuat grafis, design logo, animasi 3D, maupun karya lain yang wajib mereka buat. Saya membayangkan, saat di usia mereka, saya nggak mampu membuat karya seperti mereka.
"Anak-anak sekarang memang jago," puji saya pada mereka dalam hati.
Di acara inagurasi ini, saya diminta menjadi wakil orangtua untuk memberikan sambutan. Awalnya saya kaget. Malam sebelumnya, anak saya meminta saya untuk menjadi wakil.
"Kenapa papa, Nak?" tanya saya pada anak saya.
"Ya, nggak tahu, kata mentor papa yang jadi wakil," jelas anak saya.
"Lho, kok nggak tahu? Trus, papa bicara apa nanti?" tanya saya.
"Ngucapin terima kasih aja, pa. Tapi jangan lama-lama ngasih sambutannya. Cukup satu menit aja," terang anak saya.
Jadilah saya maju ke depan. Di depan seluruh orangtua, anak-anak magang, seluruh mentor, dan juga pimpinan perusahaan tempat anak saya magang, saya pun memberikan sambutan.
Dalam sambutan, saya mengucapkan kekaguman atas karya anak-anak magang. Tentu saja saya mengucapkan terima kasih atas bimbingan pimpinan serta para mentor yang telah mencurahkan waktu dan ilmunya ke anaka-anak magang. Nggak lupa saya menyampaikan pesan yang juga pernah saya sampaikan ke anak saya.
"Silahkan berkarya apa pun, asal karya itu berguna bagi banyak orang. Saya sempat mengatakan ke anak saya, mending nggak usah berkarya kalo karya itu nggak inspiratif atau berguna..."
Memang, saya selalu berpesan pada anak saya, karya harus berguna. Sebab, semua karya akan dipertanggung jawabkan pada Allah. Percuma bikin karya kalo akhirnya akan merusak penonton. Apa misalnya? Bikin film yang merusak moral. Bikin sinetron yang ceritanya dilarang oleh agama. Saya nggak perlu memberikan contoh. Anda pasti sudah mengerti mana yang merusak moral dan dilarang agama.
Dalam sebuah karya, harus juga menjadi sebuah syiar positif. Kalo orang menyaksikan karya tersebut, orang-orang akan tergugah dan terinspirasi berbuat baik. Nah, saya selalu berdoa, anak saya kelak menjadi kreator yang menghasilkan karya-karya inspiratif, buat agama dan bangsa ini. Aamiin!
cc
+Ikj k +Sinematografi AKOM BSI +Sinematografi UI +Sinematografi wiraraja 1 +Sinematografi 5 +Sinematografi Transferin +Sinematografi St Paul Jember +Sinematografi Ua +FilmIndonesia21
Saya hadir beserta istri dan anak saya kedua. Nggak kayak di tempat magang saya saat kuliah dulu, kantor tempat magang anak saya ini membuat acara khusus. Memang, inagurasi di sini nggak kayak inagurasi di kampus. Namun, inagurasi yang saya hadiri ini menarik. Anak-anak magang diminta untuk melakukan presentasi ke seluruh peserta, dimana para peserta merupakan para orangtua. Ibarat kreator yang mempresentasikan ke klien, satu per satu, anak magang mempresentasikan karya mereka.
Saya bangga melihat karya anak-anak SMK ini. Mereka sudah mahir membuat grafis, design logo, animasi 3D, maupun karya lain yang wajib mereka buat. Saya membayangkan, saat di usia mereka, saya nggak mampu membuat karya seperti mereka.
"Anak-anak sekarang memang jago," puji saya pada mereka dalam hati.
Di acara inagurasi ini, saya diminta menjadi wakil orangtua untuk memberikan sambutan. Awalnya saya kaget. Malam sebelumnya, anak saya meminta saya untuk menjadi wakil.
"Kenapa papa, Nak?" tanya saya pada anak saya.
"Ya, nggak tahu, kata mentor papa yang jadi wakil," jelas anak saya.
"Lho, kok nggak tahu? Trus, papa bicara apa nanti?" tanya saya.
"Ngucapin terima kasih aja, pa. Tapi jangan lama-lama ngasih sambutannya. Cukup satu menit aja," terang anak saya.
Jadilah saya maju ke depan. Di depan seluruh orangtua, anak-anak magang, seluruh mentor, dan juga pimpinan perusahaan tempat anak saya magang, saya pun memberikan sambutan.
Dalam sambutan, saya mengucapkan kekaguman atas karya anak-anak magang. Tentu saja saya mengucapkan terima kasih atas bimbingan pimpinan serta para mentor yang telah mencurahkan waktu dan ilmunya ke anaka-anak magang. Nggak lupa saya menyampaikan pesan yang juga pernah saya sampaikan ke anak saya.
"Silahkan berkarya apa pun, asal karya itu berguna bagi banyak orang. Saya sempat mengatakan ke anak saya, mending nggak usah berkarya kalo karya itu nggak inspiratif atau berguna..."
Memang, saya selalu berpesan pada anak saya, karya harus berguna. Sebab, semua karya akan dipertanggung jawabkan pada Allah. Percuma bikin karya kalo akhirnya akan merusak penonton. Apa misalnya? Bikin film yang merusak moral. Bikin sinetron yang ceritanya dilarang oleh agama. Saya nggak perlu memberikan contoh. Anda pasti sudah mengerti mana yang merusak moral dan dilarang agama.
Dalam sebuah karya, harus juga menjadi sebuah syiar positif. Kalo orang menyaksikan karya tersebut, orang-orang akan tergugah dan terinspirasi berbuat baik. Nah, saya selalu berdoa, anak saya kelak menjadi kreator yang menghasilkan karya-karya inspiratif, buat agama dan bangsa ini. Aamiin!
cc
+Ikj k +Sinematografi AKOM BSI +Sinematografi UI +Sinematografi wiraraja 1 +Sinematografi 5 +Sinematografi Transferin +Sinematografi St Paul Jember +Sinematografi Ua +FilmIndonesia21
Minggu, 27 Maret 2016
Pesan pada Anakku Selepas Sholat Magrib
Setiap wiken, saya selalu sholat di rumah bersama istri dan anak-anak. Bukan. Saya bukan tidak suka ke masjid. Malah saya sakau kalo tidak ke masjid. Jauh sebelum menjadi imam di rumah, di wiken saya juga sholat di masjid. Padahal setiap hari saya sudah sholat di masjid kantor, atau memaksakan diri sholat di masjid di luar kantor kalo kebetulan ada dinas luar.
Namun, istri saya bilang, ada baiknya bersyiar juga di rumah. Syiar dalam hal ini adalah menjadi imam sholat di rumah. Jangan sekadar ngasih sedikit ilmu agama atau ngajar ngaji, tetapi jadi imam sholat. Saya pikir, apa yang dikatakan istri benar juga, makanya setiap wiken, saya coba untuk menjadi imam di rumah.
Ada banyak yang bisa dilakukan saat menjadi imam di rumah. Selain memperlihatkan, bahwa saya sebagai Kepala Keluarga adalah juga seorang imam, juga tertantang untuk terus memperbaiki bacaan al-Qur'an dan menambah hafalan. Sungguh malu pada anak-anak kalo kita cuma bisa membaca surat Al-Ikhlas lagi Al-Ikhlas lagi. Atau surat pendek macam Al Kautsar. Sementara anak-anak kami sudah mampu menghapal hampir seluruh juz 30.
Selain melatih hafalan saat menjadi imam, sholat di rumah juga bisa dimanfaatkan untuk meminta anak-anak setor hafalan. Memang, saat ini anak-anak kami belum seperti keluarga hafidz yang anak-anak mereka sudah hafal 30 juz atau minimal 10 juz. Namun, kami lakukan apa yang bisa kami lakukan agar anak-anak hafal ayat-ayat al-Qur'an. Nah, biasanya setoran hafalan saya lakukan ba'da magrib.
Ada lagi yang saya biasa lakukan saat sholat di rumah, yakni memberi ilmu yang kami dapatkan dari sejumlah kajian dan memberikan pesan singkat tentang kewajiban kita sebagai umat muslim. Macam-macam pesan yang sudah saya berikan pada anak-anak, yang juga dibantu oleh istri. Salah satu yang belum lama ini saya pesankan adalah tentang memilih pemimpin dalam Islam.
Begitu selesai berdoa ba'da magrib, saya meminta anak saya membaca satu ayat di surat Al Maidah ayat 51. Setelah membaca bahasa al-Qur'an sambil membetulkan tajwid, saya meminta anak saya membacakan artinya. Kurang lebih artinya seperti ini:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
"Kamu mengerti artinya, Nak?" tanya saya.
Anak saya mengangguk.
Alhamdulillah, ia mengerti. Saya tersenyum. Lalu, saya sedikit men-taddabur-i ayat tersebut, agar anak saya makin kuat keimanannya. Bahwa, kewajiban seorang muslim adalah percaya pada al-Qur'an. Sebab, al-Qur'an adalah petunjuk dari Allah, dimana berisi kewajiban serta larangan sebagai muslim.
"Kalo kita sudah tidak percaya al-Qur'an, itu sama saja melanggar larangan Allah. Sama Sang Pencipta sudah melanggar, sama saja tidak percaya pada Allah," terang saya.
Dalam surat Al Maidah 51 sangat jelas, bahwa sebagai muslim kita dilarang mengambil pemimpin dari orang Yahudi dan Nasrani. Kalimat itu sangat jelas, yakni kalimat perintah dari Allah. Ternyata perintah untuk tidak mengambil orang Yahudi dan Nasrani bukan cuma di satu surat itu aja, tetapi aja di beberapa surat, yakni Al Mumtahanah: 1; Ali Imron: 28; Ali Imron: 104; Al Anfal: 73, dan beberapa ayat lain. Nah, sudah ada begitu banyak larangan, masa kita sebagai muslim masih juga tidak percaya al-Qur'an? Aneh, kan?
Anak saya mengangguk. Alhamdulillah. Semoga, sebagai pemilih pemula, anak saya tidak galau seperti anak-anak muslim muda lain. Anak saya harus menjadi muslim yang "bulat" alias 1000%, tidak setengah-setengah. Kami tidak ingin anak saya sekadar menjadi "Islam KTP" atau Islam Liberal yang menjadi orang Islam sesuka hati mereka. Kalo perintah dari Allah "enak", "menyenangkan hati", dan "sesuai selera", ya dilaksanakan. Kalo "nggak enak", ditinggalkan.
Saya berdoa, semoga anak-anak muda yang belum mengerti mengenai memilih pemimpin dalam Islam itu akan segera diberikan hidayah dari Allah. Dan mereka menjadi muslim yang total. Aamiiin!
Namun, istri saya bilang, ada baiknya bersyiar juga di rumah. Syiar dalam hal ini adalah menjadi imam sholat di rumah. Jangan sekadar ngasih sedikit ilmu agama atau ngajar ngaji, tetapi jadi imam sholat. Saya pikir, apa yang dikatakan istri benar juga, makanya setiap wiken, saya coba untuk menjadi imam di rumah.
Ada banyak yang bisa dilakukan saat menjadi imam di rumah. Selain memperlihatkan, bahwa saya sebagai Kepala Keluarga adalah juga seorang imam, juga tertantang untuk terus memperbaiki bacaan al-Qur'an dan menambah hafalan. Sungguh malu pada anak-anak kalo kita cuma bisa membaca surat Al-Ikhlas lagi Al-Ikhlas lagi. Atau surat pendek macam Al Kautsar. Sementara anak-anak kami sudah mampu menghapal hampir seluruh juz 30.
Selain melatih hafalan saat menjadi imam, sholat di rumah juga bisa dimanfaatkan untuk meminta anak-anak setor hafalan. Memang, saat ini anak-anak kami belum seperti keluarga hafidz yang anak-anak mereka sudah hafal 30 juz atau minimal 10 juz. Namun, kami lakukan apa yang bisa kami lakukan agar anak-anak hafal ayat-ayat al-Qur'an. Nah, biasanya setoran hafalan saya lakukan ba'da magrib.
Ada lagi yang saya biasa lakukan saat sholat di rumah, yakni memberi ilmu yang kami dapatkan dari sejumlah kajian dan memberikan pesan singkat tentang kewajiban kita sebagai umat muslim. Macam-macam pesan yang sudah saya berikan pada anak-anak, yang juga dibantu oleh istri. Salah satu yang belum lama ini saya pesankan adalah tentang memilih pemimpin dalam Islam.
Begitu selesai berdoa ba'da magrib, saya meminta anak saya membaca satu ayat di surat Al Maidah ayat 51. Setelah membaca bahasa al-Qur'an sambil membetulkan tajwid, saya meminta anak saya membacakan artinya. Kurang lebih artinya seperti ini:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
"Kamu mengerti artinya, Nak?" tanya saya.
Anak saya mengangguk.
Alhamdulillah, ia mengerti. Saya tersenyum. Lalu, saya sedikit men-taddabur-i ayat tersebut, agar anak saya makin kuat keimanannya. Bahwa, kewajiban seorang muslim adalah percaya pada al-Qur'an. Sebab, al-Qur'an adalah petunjuk dari Allah, dimana berisi kewajiban serta larangan sebagai muslim.
"Kalo kita sudah tidak percaya al-Qur'an, itu sama saja melanggar larangan Allah. Sama Sang Pencipta sudah melanggar, sama saja tidak percaya pada Allah," terang saya.
Dalam surat Al Maidah 51 sangat jelas, bahwa sebagai muslim kita dilarang mengambil pemimpin dari orang Yahudi dan Nasrani. Kalimat itu sangat jelas, yakni kalimat perintah dari Allah. Ternyata perintah untuk tidak mengambil orang Yahudi dan Nasrani bukan cuma di satu surat itu aja, tetapi aja di beberapa surat, yakni Al Mumtahanah: 1; Ali Imron: 28; Ali Imron: 104; Al Anfal: 73, dan beberapa ayat lain. Nah, sudah ada begitu banyak larangan, masa kita sebagai muslim masih juga tidak percaya al-Qur'an? Aneh, kan?
Anak saya mengangguk. Alhamdulillah. Semoga, sebagai pemilih pemula, anak saya tidak galau seperti anak-anak muslim muda lain. Anak saya harus menjadi muslim yang "bulat" alias 1000%, tidak setengah-setengah. Kami tidak ingin anak saya sekadar menjadi "Islam KTP" atau Islam Liberal yang menjadi orang Islam sesuka hati mereka. Kalo perintah dari Allah "enak", "menyenangkan hati", dan "sesuai selera", ya dilaksanakan. Kalo "nggak enak", ditinggalkan.
Saya berdoa, semoga anak-anak muda yang belum mengerti mengenai memilih pemimpin dalam Islam itu akan segera diberikan hidayah dari Allah. Dan mereka menjadi muslim yang total. Aamiiin!
Minggu, 14 Februari 2016
NGOBROLIN TOPIK HITS PEKAN INI: #LGBT
Seperti biasa, setiap wiken saya selalu sholat berjamaah dengan istri dan anak-anak. Biasanya, setelah sholat, saya ngetes hafalan surat dari al-Qur'an. Masing-masing anak membacakan tiga surat yang sudah mereka hafal. Kemarin malam, saya nggak ngetes hafalan, tetapi ngebahas topik yang lagi hits pekan ini, yakni masalah #LGBT.
"Kakak sudah tau tentang masalah LGBT?" tanya saya membuka percakapan.
"Sudah. Mereka kan kayak kaum Nabi Luth yang diazab Allah," ujar putri saya.
"Memang kaum Nabi Luth kenapa, Kak," pancing istri saya.
Saya bangga, putri saya tahu kisah mengenai kaum Nabi Luth. Bahwa kota Sodom terkenal sebagai kota yang penuh maksiat. Perbuatan maksiat yang paling menonjol dalam kota ini adalah prilaku seksualitas yang menyimpang. Tak cuma para pria, tetapi juga para wanita.
Para pria di kota Sodom suka berhubungan dengan sesama jenis melalui anal seks.Sementara para wanita terlibat lesbian dan berhubungan seks seperti layaknya binatang.Jika ada musafir laki-laki yang memiliki wajah keren, langsung jadi santapan para pria. Sebaliknya, jika ada musafir perempuan muda, giliran kaum lesbian yang memangsa.
Nabi Luth memohon pada Allah agar kaum Sodom diberikan azab. Sebelum azab turun, tiga Malaikat diutus Allah. Malaikat-Malaikat ini menyamar jadi manusia yang ganteng. Kehadiran Malaikat tersebut diketahui oleh kaum Sodom. Tak heran, datanglah beramai-ramai para pria ke rumah Nabi Luth untuk memuaskan nafsu seksual mereka.
Mereka berteriak di depan rumah Nabi Luth agar mengeluarkan ketiga orang ganteng.Yang keluar justru Nabi Luth. Momentum tersebut dimanfaatkan lagi oleh Nabi Luth untuk berdakwah. Para pria diminta Nabi Luth untuk kembali ke istri-istri mereka dan menjauhkan dari perbuatan maksiat. Namun pria-pria kota Sodom tak mengiraukan, lalu masuk ke dalam rumah Nabi Luth. Begitu masuk, atas izin Allah, ketiga Malaikat tersebut membutakan semua pria Sodom. Kota Sodom pun kemudian dilaknat Allah.
Putri saya yang besar sudah mengerti mengenai #LGBT adalah perbuatan sangat buruk dan dibenci Allah. Saya dan istri kemudian tanya anak kami yang kecil.
"Menurut adik bagus nggak mereka yang #LGBT?" tanya istri.
"Enggak..." jawab anak saya.
Alhamdulillah. Ternyata dia mengerti bahwa Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan. Ada Nabi Adam, lalu Allah menciptakan Hawa sebagai pasangan.
"Nah, gimana sikap kita pada pelaku #LGBT?" tanya saya pada anak-anak.
"Ya, nggak usah ditemani. Tapi kita ceramahi dulu. Kalo nggak berubah, ya kita tinggalkan," jawab putri saya.
"Betul, kita kasih mereka saran dulu. Kalo memang mereka tidak mau berubah, kita tinggalkan. Tapi doakan mereka agar Allah segera memberikan mereka hidayah dan segera bertobat sebelum mereka wafat..."
Istri saya kemudian menambahkan. Bahwa ada dua tipe pelaku #LGBT. Yang pertama adalah mereka yang secara sembunyi-sembunyi melakukan perbuatan terlaknat itu. Nah, pelaku #LGBT tipe kedua yang saat ini sangat meresahkan para orangtua.
"Mereka terang-terangan membenarkan prilaku #LGBT dengan menginfokan hal yang salah. Prilaku mereka dibilang gara-gara gen lah, menganggap normal lah. Itu yang bikin ngeri orangtua, apalagi sampai mengajak-ajak melakukan hal terlaknat itu..."
"Kakak sudah tau tentang masalah LGBT?" tanya saya membuka percakapan.
"Sudah. Mereka kan kayak kaum Nabi Luth yang diazab Allah," ujar putri saya.
"Memang kaum Nabi Luth kenapa, Kak," pancing istri saya.
Saya bangga, putri saya tahu kisah mengenai kaum Nabi Luth. Bahwa kota Sodom terkenal sebagai kota yang penuh maksiat. Perbuatan maksiat yang paling menonjol dalam kota ini adalah prilaku seksualitas yang menyimpang. Tak cuma para pria, tetapi juga para wanita.
Para pria di kota Sodom suka berhubungan dengan sesama jenis melalui anal seks.Sementara para wanita terlibat lesbian dan berhubungan seks seperti layaknya binatang.Jika ada musafir laki-laki yang memiliki wajah keren, langsung jadi santapan para pria. Sebaliknya, jika ada musafir perempuan muda, giliran kaum lesbian yang memangsa.
Nabi Luth memohon pada Allah agar kaum Sodom diberikan azab. Sebelum azab turun, tiga Malaikat diutus Allah. Malaikat-Malaikat ini menyamar jadi manusia yang ganteng. Kehadiran Malaikat tersebut diketahui oleh kaum Sodom. Tak heran, datanglah beramai-ramai para pria ke rumah Nabi Luth untuk memuaskan nafsu seksual mereka.
Mereka berteriak di depan rumah Nabi Luth agar mengeluarkan ketiga orang ganteng.Yang keluar justru Nabi Luth. Momentum tersebut dimanfaatkan lagi oleh Nabi Luth untuk berdakwah. Para pria diminta Nabi Luth untuk kembali ke istri-istri mereka dan menjauhkan dari perbuatan maksiat. Namun pria-pria kota Sodom tak mengiraukan, lalu masuk ke dalam rumah Nabi Luth. Begitu masuk, atas izin Allah, ketiga Malaikat tersebut membutakan semua pria Sodom. Kota Sodom pun kemudian dilaknat Allah.
Putri saya yang besar sudah mengerti mengenai #LGBT adalah perbuatan sangat buruk dan dibenci Allah. Saya dan istri kemudian tanya anak kami yang kecil.
"Menurut adik bagus nggak mereka yang #LGBT?" tanya istri.
"Enggak..." jawab anak saya.
Alhamdulillah. Ternyata dia mengerti bahwa Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan. Ada Nabi Adam, lalu Allah menciptakan Hawa sebagai pasangan.
"Nah, gimana sikap kita pada pelaku #LGBT?" tanya saya pada anak-anak.
"Ya, nggak usah ditemani. Tapi kita ceramahi dulu. Kalo nggak berubah, ya kita tinggalkan," jawab putri saya.
"Betul, kita kasih mereka saran dulu. Kalo memang mereka tidak mau berubah, kita tinggalkan. Tapi doakan mereka agar Allah segera memberikan mereka hidayah dan segera bertobat sebelum mereka wafat..."
Istri saya kemudian menambahkan. Bahwa ada dua tipe pelaku #LGBT. Yang pertama adalah mereka yang secara sembunyi-sembunyi melakukan perbuatan terlaknat itu. Nah, pelaku #LGBT tipe kedua yang saat ini sangat meresahkan para orangtua.
"Mereka terang-terangan membenarkan prilaku #LGBT dengan menginfokan hal yang salah. Prilaku mereka dibilang gara-gara gen lah, menganggap normal lah. Itu yang bikin ngeri orangtua, apalagi sampai mengajak-ajak melakukan hal terlaknat itu..."
Minggu, 18 Oktober 2015
Papa dan Mama Bangga Nak
Itulah kata yang tepat yang saya
berikan pada putri kami. Dengan kerja keras dan kerja tim yang kompak, putri
kami dan dua temannya berhasil meraih juara ke-2 lomba aplikasi mobile edukasi
tingkat nasional. Lomba yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemendikbud) ini berlangsung pada 16-17 Oktober 2015 ini di
Semarang, Jawa Tengah.
Sekali lagi, kemenangan ini jelas
membanggakan. Bukan cuma membanggakan kami, tetapi membanggakan untuk sekolah
mereka. Sebagai wakil dari sekolah, mereka telah berusaha semaksimal mungkin
dan alhamdulillah berhasil membawa sebuah piala.
Tentu, keberhasilan mereka berkat
bantuan Allah swt. Melalui doa-doa yang dipanjatkan oleh kami sebagai orangtua,
lalu kakek-nenek, pakde-bude, dan juga kakak-kakak di keluarga besar kami,
Allah swt menggerakkan kekuasaan-Nya. Sebagai manusia, kita cuma bisa berusaha
dan berdoa. Berbicara usaha, padahal putri kami dan tim sempat pesimis. Hal ini
terjadi, ketika dewan juri menghentikan presentasi tim, karena durasi
presentasi terlalu lama.
“Tenang, Kak. Sekarang saatnya
berdoa,” ujar saya mencoba menenangkan.
Namun, apa yang dipikirkan
manusia, belum tentu kejadiannya akan sama. Rasa pesimis, ternyata tidak
menjadi kenyataan. Meski saat presentasi dihentikan, juri menatapkan putriku
dan tim berhasil meraih juara ke-2 lomba aplikasi mobile edukasi tingkat
nasional. Alhamdulillah...
“Papa dan Mama bangga sama
kakak,” ujar kami.
Keberhasilan mereka membuat stasiun televisi +Surya Citra Televisi (SCTV) meliput dan membuat paket berita.
Keberhasilan mereka membuat stasiun televisi +Surya Citra Televisi (SCTV) meliput dan membuat paket berita.
Rabu, 14 Oktober 2015
SELAMAT BERTANDING, NAK...
Sejak masuk SMK, aktivitas putri saya luar biasa padat! Awalnya kami cemas. Salah satu kecemasan kami adalah fisik. Maklumlah, jam istirahat putri kami jadi berkurang. Bayangkan saja, berangkat pagi, pulang sebelum magrib.
Kami selalu mengingatkan agar jangan lupa makan. Yang terpenting juga, jangan lupa sholat. Buat kami, setelah kita berusaha dan selanjutnya semua kita gantungkan pada Allah, masalah akan beres. Oleh karena itu, kami tak bosan-bosan untuk mengingatkan putri kami agar jangan lupa sholat.
Aktivitas putri kami bukan sekadar hura-hura, atau nongkrong dengan teman-teman sepulang sekolah. Ia lebih banyak mengikuti ekstra kulikuler. Lebih lagi, ia dipilih untuk ikutan membantu di Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Agenda harian makin padat ketika diminta sekolah untuk mengikuti lomba.
Sudah beberapa kali, putri kami diminta oleh Kepala Sekolah untuk mewakili sekolah dalam lomba. Sebagai orangtua, tentu saja kami bangga sekali. Kami tak pernah menargetkan putri kami untuk memenangkan perlombaan. Juara berapa pun no problem, bahkan sudah diminta sekolah untuk jadi wakil pun luar biasa.
Pagi ini, lepas subuh, saya mengantarkan putri kami ke Stasiun Kereta Api, Gambir, Jakarta Pusat. Ia dan kelima temannya hendak pergi ke Semarang, Jawa Tengah. Mereka akan mengikuti lomba "Bahan Ajar Mobile Edukasi 2015". Jadi, kelompok ini sudah membuat sebuah aplikasi mobile untuk bahan edukasi anak-anak SD. Saya sudah lihat karya mereka. Menarik sekali! Nah, karya aplikasi ini akan diikutkan lomba di Semarang.
"Habis ini aku mau diminta mewakili sekolah lagi untuk lomba english competition, Pa," ujar putri kami di dalam mobil.
"Wow! Luar biasa sekali!," ujar saya sambil mengemudikan mobil.
Sungguh, kami bangga dengan putri kami ini. Belum juga lomba di Semarang, sudah ada tawaran ikut lomba lagi. Sebelum di Semarang pun, ia juga sempat mengikuti beberapa lomba, termasuk lomba membuat film pendek bersama teman-teman sekolahnya. Hebat!
"Papa dan Mama cuma bisa berdoa pada Allah agar kakak selalu dalam lindungan-Nya. Selamat bertanding ya Nak..."
Kami selalu mengingatkan agar jangan lupa makan. Yang terpenting juga, jangan lupa sholat. Buat kami, setelah kita berusaha dan selanjutnya semua kita gantungkan pada Allah, masalah akan beres. Oleh karena itu, kami tak bosan-bosan untuk mengingatkan putri kami agar jangan lupa sholat.
Aktivitas putri kami bukan sekadar hura-hura, atau nongkrong dengan teman-teman sepulang sekolah. Ia lebih banyak mengikuti ekstra kulikuler. Lebih lagi, ia dipilih untuk ikutan membantu di Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Agenda harian makin padat ketika diminta sekolah untuk mengikuti lomba.
Sudah beberapa kali, putri kami diminta oleh Kepala Sekolah untuk mewakili sekolah dalam lomba. Sebagai orangtua, tentu saja kami bangga sekali. Kami tak pernah menargetkan putri kami untuk memenangkan perlombaan. Juara berapa pun no problem, bahkan sudah diminta sekolah untuk jadi wakil pun luar biasa.
Pagi ini, lepas subuh, saya mengantarkan putri kami ke Stasiun Kereta Api, Gambir, Jakarta Pusat. Ia dan kelima temannya hendak pergi ke Semarang, Jawa Tengah. Mereka akan mengikuti lomba "Bahan Ajar Mobile Edukasi 2015". Jadi, kelompok ini sudah membuat sebuah aplikasi mobile untuk bahan edukasi anak-anak SD. Saya sudah lihat karya mereka. Menarik sekali! Nah, karya aplikasi ini akan diikutkan lomba di Semarang.
"Habis ini aku mau diminta mewakili sekolah lagi untuk lomba english competition, Pa," ujar putri kami di dalam mobil.
"Wow! Luar biasa sekali!," ujar saya sambil mengemudikan mobil.
Sungguh, kami bangga dengan putri kami ini. Belum juga lomba di Semarang, sudah ada tawaran ikut lomba lagi. Sebelum di Semarang pun, ia juga sempat mengikuti beberapa lomba, termasuk lomba membuat film pendek bersama teman-teman sekolahnya. Hebat!
"Papa dan Mama cuma bisa berdoa pada Allah agar kakak selalu dalam lindungan-Nya. Selamat bertanding ya Nak..."
Jumat, 09 Oktober 2015
TIKUS DI RUMAH DAN FILM "RATATOUILLE"
"Pah, itu ada tikus," ujar Khaira.
Mendengar putri saya itu, seketika saya langsung menghentikan aktivitas saya: mengetik. Seekor tikus tergeletak di sebuah papan yang sudah ditaburi lem tikus. Putri saya menggeser badannya. Ia nampak geli.
"Kayaknya masih hidup.."
Iya, tikus itu masih hidup. Tetapi separuh badannya sudah lengket di papan yang berisi lem itu. Si tikus masih coba usaha melepaskan diri. Tapi tak jelas mampu.
Saya adalah pria yang takut pada tikus. Barangkali tak tepat dikatakan takut ya, tetapi geli. Setiap ada bangkai tikus di rumah, saya selalu minta pembantu saya untuk membuangnya. Kini, sang pembantu sudah tak ada di rumah. Jadi, mau tak mau tikus hidup yang terperangkap itu harus saya yang membuangnya.
Dengan rasa jijik, saya pun mencari plastik. Plastik ini untuk memasukkan tikus tersebut. Di tengah usaha saya memasukkan papan yang ada tikusnya itu, istri saya datang.
"Tadi kayaknya belum ada (tikusnya)?"
"Berarti tikusnya baru terperangkap," ujar saya sambil terus berusaha memasukkan papan berisi tikus ke plastik.
Alhamdulillah, dengan "penuh perjuangan", saya berhasil memasukkan tikus ke plastik dan segera membuangnya.
Kejadian tikus yang terperangkap ini menarik. Kenapa? Yakni saat putri saya sedang menyaksikan film Ratatouille di Indovision. Anda tahu kan film Ratatouille? Film ini mengisahkan seekor tikus dan seorang pria. Pria ini terbantu dengan seekor tikus, karena tikus tersebut "mengendalikan" si pria saat memasak di sebuah restoran.
Entah kenapa tikus di rumah terperangkap di saat film Ratatouille diputar. Saya berpikir, jangan-jangan tikus di rumah pengen nonton film tersebut, tetapi lupa ada jebakan yang kami pasang. Walhasil, apes lah hidup tikus kami di rumah. Oh iya, tikus ini adalah satu-satunya tikus yang sudah lama kami buru dan alhamdulillah pagi ini berhasil terjebak.
Mendengar putri saya itu, seketika saya langsung menghentikan aktivitas saya: mengetik. Seekor tikus tergeletak di sebuah papan yang sudah ditaburi lem tikus. Putri saya menggeser badannya. Ia nampak geli.
"Kayaknya masih hidup.."
Iya, tikus itu masih hidup. Tetapi separuh badannya sudah lengket di papan yang berisi lem itu. Si tikus masih coba usaha melepaskan diri. Tapi tak jelas mampu.
Saya adalah pria yang takut pada tikus. Barangkali tak tepat dikatakan takut ya, tetapi geli. Setiap ada bangkai tikus di rumah, saya selalu minta pembantu saya untuk membuangnya. Kini, sang pembantu sudah tak ada di rumah. Jadi, mau tak mau tikus hidup yang terperangkap itu harus saya yang membuangnya.
Dengan rasa jijik, saya pun mencari plastik. Plastik ini untuk memasukkan tikus tersebut. Di tengah usaha saya memasukkan papan yang ada tikusnya itu, istri saya datang.
"Tadi kayaknya belum ada (tikusnya)?"
"Berarti tikusnya baru terperangkap," ujar saya sambil terus berusaha memasukkan papan berisi tikus ke plastik.
Alhamdulillah, dengan "penuh perjuangan", saya berhasil memasukkan tikus ke plastik dan segera membuangnya.
Kejadian tikus yang terperangkap ini menarik. Kenapa? Yakni saat putri saya sedang menyaksikan film Ratatouille di Indovision. Anda tahu kan film Ratatouille? Film ini mengisahkan seekor tikus dan seorang pria. Pria ini terbantu dengan seekor tikus, karena tikus tersebut "mengendalikan" si pria saat memasak di sebuah restoran.
Entah kenapa tikus di rumah terperangkap di saat film Ratatouille diputar. Saya berpikir, jangan-jangan tikus di rumah pengen nonton film tersebut, tetapi lupa ada jebakan yang kami pasang. Walhasil, apes lah hidup tikus kami di rumah. Oh iya, tikus ini adalah satu-satunya tikus yang sudah lama kami buru dan alhamdulillah pagi ini berhasil terjebak.
Langganan:
Postingan (Atom)