all photos copyright by Jaya
Kamis, 04 Agustus 2011
SM*SH... OH... SM*SH
Beruntunglah saya bisa berkenalan dengan anggota SM*SH. Beruntung pula saya bisa melihat dari dekat bagaimana SM*SH melakukan persiapan sebelum shooting. Nah, berikut ini beberapa foto hasil jepretan saya saat SM*SH shooting di program Just Alvin di studio Metro TV.




all photos copyright by Jaya
all photos copyright by Jaya
Selasa, 12 Oktober 2010
KALO MEMANG REZEKI PASTI BAKAL PERGI NONTON SHINee dan San-Ho-Young
Begitu tiba di rumah, Anjani langsung menutup pintu kamar dan menangis tersedu-sedu. Hanya itu yang bisa dilakukan oleh putri kami, setelah mengetahui kami tidak bisa mendapatkan tiket dari TVRI. Tiket nonton konser musik SHINee dan San-Ho-Young di Senayan Tenis Indoor Stadium malam ini (Selasa/ 12/10).
Sejak Sabtu, Anjani sudah exiting banget ingin menonton konser pujaan hatinya itu. Makumlah SHINee dan Son-Ho-Young sudah dikenal olehnya cukup lama. Sekadar info buat Anda yang belum mengenal, bahwa SHINee adalah boys band asal Korea Selatan yang beraliran R&B kontemporer. Band yang dibentuk SM Entertainment pada tahun 2008 ini terdiri dari Onew, Jonghyun, Key, Minho, dan Taemin. Mereka pertama kali manggung pada 25 Mei 2008 di acara Popular Songs di SBS. Mereka membawakan singel promosi berjudul Nunan Neomu Yeppeo.
Di kalangan anak muda, SHINee ngetop banget. Ini gara-gara lagu dan gaya mereka berbusana. Dengan kostum warna-warni hasil rancangan desainer Ha Sang Baek, SHINee menggenakan sepatu kets hingga mata kaki, jins ketat, dan baju hangat. Anak-anak muda banyak yang meniru gaya berpakaian ala SHINee yang disebut media massa sebagai "tren SHINee".
Son-Ho-Young adalah seorang penyanyi pop yang sebelumnya tergabung dalam sebuah grup band. Pria kelahiran 26 March 1980 di New Jersey, Amerika Serikat ini mengeluarkan album pertama berjudul YES (2006), dimana menghasilkan beberapa single hits, yakni I Know, Crying, YES, dan Love Brings Separation.
Pada tahun 2007, Son mengeluarkan album lagi berjudul Sweet Love. Album ini menelurkan lagu My Heart in Heaven. Setahun berikutnya, ia mengeluatkan album berjudul Returns.
Nah, dalam rangka Indonesia Korea Week 11-16 Oktober 2010 ini, airang membuat kuis buat fans SHINee dan Son-Ho-Young. Mereka yang menang, akan mendapatkan dua tiket gratis Indonesia-Korea Friendship Sharing Concert 2010 yang berlangsung di Tennis Indoor, Senayan, Jakarta.
Sabtu malam, tiba-tiba putri saya berjingkak-jingkrak kegirangan. Ia bukan tidak waras atau baru saja minum obat. Tetapi rupanya ia menang kuis, dimana hadiahnya mendapatkan dua tiket gratis menonton SHINee dan Son-Ho-Young. Saya langsung memberi ucapan selamat.
“Tapi Anja terlambat mengambil tiketnya,” ujar putri saya ini.
Saya perhatikan di e-mail Airang, pengambilan tiket dilakukan di +Tvri Jakarta pada Sabtu pukul 10-17 WIB. Sementara ketika Anjani berjingkrak-jingkrak, waktu sudah menunjukan pukul 20:00 WIB. Saya mencoba membantu menghubungi TVRI, tetapi tidak diangkat. Oh iya, pasti Anda bertanya-tanya kenapa ada TVRI? Dalam event Indonesia Korea Week 2010 ini rupanya Kedutaan Besar Korea bekerjasama dengan televisi pemeritah ini, termasuk menjadi koordinator pembagian tiket gratis ke pemenang kuis yang dibuat oleh Airang.
Brengseknya TVRI, para pemenang tersebut tidak dikirimkan e-mail atau surat. Padahal para pemenang tersebut memiliki e-mail dan mengirimkan biodata resmi. Mereka yang menang, termasuk putri kami, harus aktif mengecek di website. Bahkan putri kami ini tak akan pernah tahu kalo saja temannya memberi tahu lewat FB.
“Selamat ya kamu menang,” tulis teman Anjani di akun FB.
“Menang apa?” tanya Anjani heran.
“Lho, memangnya kamu nggak tahu? Nama kamu ada di daftar pemenang tiket gratis,” ujar teman Anjani.
Sejak Sabtu dan Minggu, yang ada di pikiran Anjani adalah tiket. Saya mengerti sekali, betapa sedihnya ia kalo tidak bisa mendapatkan tiket. Saya yakin, keterlambatan mengetahui hari dan jam pengambilan tiket, bukan 100% kesalahan dirinya. Sekali lagi, sebagian karena TVRI yang menurut saya tidak menjalankan fungsinya. Lho kok menyalahkan TVRI?
Seperti yang sudah saya jelaskan tadi, bahwa seharusnya TVRI mengirimkan e-mail kepada seluruh pemenang. Hal tersebut supaya mereka yang sudah mengikuti kuis tahu: menang atau kalah. Tetapi saya mengerti kenapa TVRI melakukan itu. Sebab, oknum ingin memanfaatkan tiket-tiket yang tidak diambil oleh para pemenang. Ini memang cukup tendensius, tetapi saya berkeyakinan seperti itu. Lalu untuk apa tiket-tiket itu? Tentu saja bisa dimanfaatkan oleh karyawan-karyawan TVRI yang mau nonton konser atau bisa saja dijual.
“Aku mau deh beli tiket. Limaratus ribu juga mau aku bayar,” ujar salah seorang teman di Tweeter.
Di Senin, saya dan istri nekad pergi ke TVRI. Saya bertekad, bagaimana caranya dua tiket gratis tersebut bisa saya dapatkan dan persembahkan pada putri kami. Saya sudah menyiapkan cara-cara jika di TVRI kami dipersulit. Sementara pada Anjani, saya cuma berpesan.
“Kalo tiket itu rejeki kamu, pasti kamu akan nonton konser,” ujar saya memberi motivasi.
Tiba di kantor TVRI, saya langsung berjumpa dengan seorang ibu karyawan TVRI. Kami langsung menjelaskan maksud dan tujuan. Sambil menyerahkan bukti berupa Kartu Pelajar milik anak kami, ibu itu kemudian membuka lembaran daftar para pemenang.
Rupanya bukan cuma Anjani yang belum mengambil tiket gratis. Masih ada banyak pemenang yang belum mengambil. Saya yakin, mereka tersebut tidak tahu, karena tidak diberitahu oleh TVRI kalau memenangkan tiket gratis. Nasib mereka sama dengan Anjani. Kalau saja tidak ada teman-teman mereka yang memberitahu, para pemenang itu pasti tidak tahu dan tidak akan menyaksikan konser SHINee dan Son-Ho-Young.
“Lho, kita nggak jadi ke TVRI, Ma?” tanya Anjani pada istri saya.
Kebetulan pada hari Minggu, sehabis pulang sekolah Anjani ingin diantar ke TVRI untuk menanyakan tiket. Namun hari Senin kemarin, sehabis Anjani pulang sekolah, kami tidak segera mengantarkannya ke TVRI. Kami justru meluncurkan mobil kami pulang ke rumah. Itulah yang membuat Anjani heran.
Setelah kami jelaskan, Anjani nampak sedih. Hal tersebut bisa kami lihat dari wajahnya. Tak heran begitu turun dari mobil, ia langsung melangkahkan kakinya dengan cepat masuk ke rumah dan menuju kamarnya. Pintu kamar kemudian ditutup dan ia mengangis sejadi-jadinya.
Istri saya kemudian melemparkan amplop putih melalui bawah pintu kamar Anjani.
“Kak, tuh ada amplop. Kamu nggak mau lihat?” pancing istri saya.
Anjani kemudian membuka. Seketika ia pun terkejut. Matanya mendelik. Mulutnya mengangga. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Alhamdulillah! Akhirnya aku nonton konser juga! Terima kasih Ma! Terima kasih Pa!”
Malam ini, putri kami sedang menikmati konser idolanya. Ini adalah konser pertamanya yang ia tonton. Sebelumnya, di pagi hari, wajah Anjani sudah sumringah. Semua teman-teman sekolahnya tahu, kalau Anjani adalah satu-satunya murid di sekolahnya yang mendapatkan tiket gratis nonton konser SHINee dan Son-Ho-Young. Padahal banyak temannya yang berharap bisa nonton, karena mereka juga fans berat SHINee dan Son-Ho-Young.
“Aduh, coba aku yang dapat, pasti bisa nonton, deh,” ujar salah seorang teman Anjani.
“Kamu nonton dengan siapa, Nja? Nonton dengan aku dong,” pinta teman Anjani lain mencoba merayu.
Sejak Sabtu, Anjani sudah exiting banget ingin menonton konser pujaan hatinya itu. Makumlah SHINee dan Son-Ho-Young sudah dikenal olehnya cukup lama. Sekadar info buat Anda yang belum mengenal, bahwa SHINee adalah boys band asal Korea Selatan yang beraliran R&B kontemporer. Band yang dibentuk SM Entertainment pada tahun 2008 ini terdiri dari Onew, Jonghyun, Key, Minho, dan Taemin. Mereka pertama kali manggung pada 25 Mei 2008 di acara Popular Songs di SBS. Mereka membawakan singel promosi berjudul Nunan Neomu Yeppeo.
Di kalangan anak muda, SHINee ngetop banget. Ini gara-gara lagu dan gaya mereka berbusana. Dengan kostum warna-warni hasil rancangan desainer Ha Sang Baek, SHINee menggenakan sepatu kets hingga mata kaki, jins ketat, dan baju hangat. Anak-anak muda banyak yang meniru gaya berpakaian ala SHINee yang disebut media massa sebagai "tren SHINee".
Son-Ho-Young adalah seorang penyanyi pop yang sebelumnya tergabung dalam sebuah grup band. Pria kelahiran 26 March 1980 di New Jersey, Amerika Serikat ini mengeluarkan album pertama berjudul YES (2006), dimana menghasilkan beberapa single hits, yakni I Know, Crying, YES, dan Love Brings Separation.
Pada tahun 2007, Son mengeluarkan album lagi berjudul Sweet Love. Album ini menelurkan lagu My Heart in Heaven. Setahun berikutnya, ia mengeluatkan album berjudul Returns.
Nah, dalam rangka Indonesia Korea Week 11-16 Oktober 2010 ini, airang membuat kuis buat fans SHINee dan Son-Ho-Young. Mereka yang menang, akan mendapatkan dua tiket gratis Indonesia-Korea Friendship Sharing Concert 2010 yang berlangsung di Tennis Indoor, Senayan, Jakarta.
Sabtu malam, tiba-tiba putri saya berjingkak-jingkrak kegirangan. Ia bukan tidak waras atau baru saja minum obat. Tetapi rupanya ia menang kuis, dimana hadiahnya mendapatkan dua tiket gratis menonton SHINee dan Son-Ho-Young. Saya langsung memberi ucapan selamat.
“Tapi Anja terlambat mengambil tiketnya,” ujar putri saya ini.
Saya perhatikan di e-mail Airang, pengambilan tiket dilakukan di +Tvri Jakarta pada Sabtu pukul 10-17 WIB. Sementara ketika Anjani berjingkrak-jingkrak, waktu sudah menunjukan pukul 20:00 WIB. Saya mencoba membantu menghubungi TVRI, tetapi tidak diangkat. Oh iya, pasti Anda bertanya-tanya kenapa ada TVRI? Dalam event Indonesia Korea Week 2010 ini rupanya Kedutaan Besar Korea bekerjasama dengan televisi pemeritah ini, termasuk menjadi koordinator pembagian tiket gratis ke pemenang kuis yang dibuat oleh Airang.
Brengseknya TVRI, para pemenang tersebut tidak dikirimkan e-mail atau surat. Padahal para pemenang tersebut memiliki e-mail dan mengirimkan biodata resmi. Mereka yang menang, termasuk putri kami, harus aktif mengecek di website. Bahkan putri kami ini tak akan pernah tahu kalo saja temannya memberi tahu lewat FB.
“Selamat ya kamu menang,” tulis teman Anjani di akun FB.
“Menang apa?” tanya Anjani heran.
“Lho, memangnya kamu nggak tahu? Nama kamu ada di daftar pemenang tiket gratis,” ujar teman Anjani.
Sejak Sabtu dan Minggu, yang ada di pikiran Anjani adalah tiket. Saya mengerti sekali, betapa sedihnya ia kalo tidak bisa mendapatkan tiket. Saya yakin, keterlambatan mengetahui hari dan jam pengambilan tiket, bukan 100% kesalahan dirinya. Sekali lagi, sebagian karena TVRI yang menurut saya tidak menjalankan fungsinya. Lho kok menyalahkan TVRI?
Seperti yang sudah saya jelaskan tadi, bahwa seharusnya TVRI mengirimkan e-mail kepada seluruh pemenang. Hal tersebut supaya mereka yang sudah mengikuti kuis tahu: menang atau kalah. Tetapi saya mengerti kenapa TVRI melakukan itu. Sebab, oknum ingin memanfaatkan tiket-tiket yang tidak diambil oleh para pemenang. Ini memang cukup tendensius, tetapi saya berkeyakinan seperti itu. Lalu untuk apa tiket-tiket itu? Tentu saja bisa dimanfaatkan oleh karyawan-karyawan TVRI yang mau nonton konser atau bisa saja dijual.
“Aku mau deh beli tiket. Limaratus ribu juga mau aku bayar,” ujar salah seorang teman di Tweeter.
Di Senin, saya dan istri nekad pergi ke TVRI. Saya bertekad, bagaimana caranya dua tiket gratis tersebut bisa saya dapatkan dan persembahkan pada putri kami. Saya sudah menyiapkan cara-cara jika di TVRI kami dipersulit. Sementara pada Anjani, saya cuma berpesan.
“Kalo tiket itu rejeki kamu, pasti kamu akan nonton konser,” ujar saya memberi motivasi.
Tiba di kantor TVRI, saya langsung berjumpa dengan seorang ibu karyawan TVRI. Kami langsung menjelaskan maksud dan tujuan. Sambil menyerahkan bukti berupa Kartu Pelajar milik anak kami, ibu itu kemudian membuka lembaran daftar para pemenang.
Rupanya bukan cuma Anjani yang belum mengambil tiket gratis. Masih ada banyak pemenang yang belum mengambil. Saya yakin, mereka tersebut tidak tahu, karena tidak diberitahu oleh TVRI kalau memenangkan tiket gratis. Nasib mereka sama dengan Anjani. Kalau saja tidak ada teman-teman mereka yang memberitahu, para pemenang itu pasti tidak tahu dan tidak akan menyaksikan konser SHINee dan Son-Ho-Young.
“Lho, kita nggak jadi ke TVRI, Ma?” tanya Anjani pada istri saya.
Kebetulan pada hari Minggu, sehabis pulang sekolah Anjani ingin diantar ke TVRI untuk menanyakan tiket. Namun hari Senin kemarin, sehabis Anjani pulang sekolah, kami tidak segera mengantarkannya ke TVRI. Kami justru meluncurkan mobil kami pulang ke rumah. Itulah yang membuat Anjani heran.
Setelah kami jelaskan, Anjani nampak sedih. Hal tersebut bisa kami lihat dari wajahnya. Tak heran begitu turun dari mobil, ia langsung melangkahkan kakinya dengan cepat masuk ke rumah dan menuju kamarnya. Pintu kamar kemudian ditutup dan ia mengangis sejadi-jadinya.
Istri saya kemudian melemparkan amplop putih melalui bawah pintu kamar Anjani.
“Kak, tuh ada amplop. Kamu nggak mau lihat?” pancing istri saya.
Anjani kemudian membuka. Seketika ia pun terkejut. Matanya mendelik. Mulutnya mengangga. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Alhamdulillah! Akhirnya aku nonton konser juga! Terima kasih Ma! Terima kasih Pa!”
Malam ini, putri kami sedang menikmati konser idolanya. Ini adalah konser pertamanya yang ia tonton. Sebelumnya, di pagi hari, wajah Anjani sudah sumringah. Semua teman-teman sekolahnya tahu, kalau Anjani adalah satu-satunya murid di sekolahnya yang mendapatkan tiket gratis nonton konser SHINee dan Son-Ho-Young. Padahal banyak temannya yang berharap bisa nonton, karena mereka juga fans berat SHINee dan Son-Ho-Young.
“Aduh, coba aku yang dapat, pasti bisa nonton, deh,” ujar salah seorang teman Anjani.
“Kamu nonton dengan siapa, Nja? Nonton dengan aku dong,” pinta teman Anjani lain mencoba merayu.
Sabtu, 02 Oktober 2010
BULLYING DALAM KARYA "KECIL-KECIL PUNYA KARYA"
“Kamu, tuh, tikusnya!” jawab Aurell.
“Kamu punya otak, enggak? Kalau punya, letaknya di mana?” ejek Farhan lagi.
“Punya! Di kaki! Puas kamu!” jawab Aurell kesal.
“Oh, pantesan beloon banget! Puas!” balas Farhan.
Penggalan dialog itu saya ambil dari buku seri Kecil-Kecil Punya Karya karya Maryam (12 tahun) berjudul SheKeFaRellOr. Anda sudah baca? Atau anak Anda sudah punya koleksi salah satu seri Kecil-Kecil Punya Karya terbitan DarMizan ini? Saya tidak tahu dengan Anda, tetapi saya pribadi kaget bukan kepalang ketika membaca buku ini. Kalimat-kalimat yang dibuat sang pengarang banyak negatif. Yang paling sering kata “O’ON” sebagai kependekan dari kata “BLOON” dan kata “KUTU KUPRET” yang mengganti panggilan untuk tokoh Diva.
Saya tidak habis pikir,-barangkali saya juga terlalu naif kali ya?- anak usia 12 tahun seperti Maryam sudah fasih mengelontorkan kalimat-kalimat negatif seperti itu. Padahal pengarang cilik ini berguru di sekolah yang relatif baik: Bina Islamic Boarding School, Bekasi, dimana pasti guru-guru mengajarkan hal-ha yang positif, sehingga murid-murid juga turut baik. Tentu kalimat-kalimat yang ada di buku SheKeFaRellOr berasal dari apa yang ia dengar dan rasakan.
Saya juga tidak habis pikir, mengapa DarMizan meloloskan salah satu seri Kecil-Kecil Punya Karya kisah yang kalimat-kaimatnya banyak negatif ini? Coba perhatikan lagi di halaman lain, yakni halaman 32.
“Oh, iya…kenapa aku jadi o’on begini ya?” gumam Kevin..
“Hi, Kev…! Memang sudah dari dulu kamu itu o’on!” celetuk Farhan..
“Yeee…! Kamu, tuh…dari lahir sudah jelek!” balas Kevin kesal.
“Huuu…! Kamu juga dari zaman purba sudah o’on kayak begitu,” sanggah Farhan.
Saya mengerti sekali, Maryam sekadar bermasksud ingin membuat cerita di situ sebagai upaya becanda antarteman, namun editor atau penerbit DarMizan harusnya mengerti, bahwa segmen pembaca Kecil-Kecil Punya Karya ini anak-anak. Bayangkan jika maksud hati menerbitkan buku yang edukatif, eh misinya tidak tercapai.

Menurut Diena Haryana dari Yayasan Semai Jiwa Amini (Sejiwa), kata-kata caci-maki atau mengejek seperti yang ada di karya Maryam itu termasuk salah satu tindakan bullying. Bullying merupakan istilah yang memang belum cukup dikenal luas oleh masyarakat di Indonesia. Meski begitu, perilaku bullying sebenarnya sudah ada dalam kehidupan bermasyarakat, bahkan di dalam institusi pendidikan.
Bullying atau tindakan yang membuat seseorang merasa teraniaya atau direndahkan. Menurut Andrew Mellor dari Antibullying Network University of Edinburgh, bullying bisa terjadi dalam bentuk verbal, fisik maupun mental, sehingga orang tersebut takut bila perilaku tersebut akan terjadi lagi. Di institusi sekolah, ini dilakukan oleh mayoritas orang, baik yang dilakukan sesama siswa, alumni atau bahkan guru. Sayangnya, kasus-kasus ini jarang menguak ke permukaan. Sebab, guru, orang tua, bahkan siswa belum memiliki kesadaran, kapan terjadinya bullying. Kalaupun terjadi, jarang sekali yang mau membicarakannya.
Pada tahun 2007, Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengeluarkan data yang cukup mengejutkan. Pada tahun itu dilaporkan terjadi 555 kasus kekerasan terhadap anak, 11,8 persennya dilakukan oleh guru. Tahun berikutnya, tahun 2008, bahkan lebih parah. Dari 86 kasus kekerasan yang dilaporkan, 39 persennya dilakukan oleh guru.
Itu baru pelaporan kasus, sementara menurut Nina, Yayasan Sejiwa mencatat korban akibat tindak kekerasan dalam rentang 2002-2005 adalah sebanyak 30 kasus, baik korban bunuh diri maupun percobaan bunuh diri di kalangan anak dan remaja berusia 6 sampai 15 tahun.
Masa Orientasi Siswa (MOS), pelantikan OSIS, penerimaan anggota ekskul, cheerleaders, atau latihan dasar kepemimpinan yang ada di sekolah, merupakan ajang bullying. Biasanya alumni yang melakukan. Bentuknya bisa berupa permintaan kakak kelas pada adik kelas dengan cara menekan perasaan atau bahkan menyiksa fisik. Bahkan terakhir yang heboh adalah masa orientasi di Paskibra tingkat DKI Jakarta yang masih belum selesai kasusnya. Dilaporkan oleh beberapa anggota Paskibra tahun 2010, senior mereka telah melakukan tindakan pelecehan atau tindakan yang mempermalukan.
Menurut Ketua Yayasan Sejiwa yang aktif memerangi bullying Diena Haryana, bullying menjadi momok menyeramkan karena dampaknya bukan hanya dapat dirasakan sekarang juga namun bisa muncul beberapa tahun kemudian.
“Contohnya, dari salah satu anak SMA yang kami dampingi, dia ketika dibentak gurunya langsung pingsan dan berkata-kata tidak jelas. Setelah diselidiki, ternyata sewaktu SD dia pernah di-bully dengan sangat keras oleh gurunya. Sampai sekarang, dia masih perlu pendampingan,” ujar Nana.
Tambah Nana, bullying di sekolah merupakan embrio kekerasan di masyarakat. Namun, demi ’nama baik’, tidak lebih dari 0,1 persen sekolah di Jakarta yang mengakui kalau di sekolah mereka terjadi bullying.
Mau tambah contoh lagi soal kehebatan bullying?
Fifi Kusrini (13) ditemukan tewas gantung diri di kamar mandi pada Juli 2005. Menurut ayahnya, gadis yang tinggal di Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat itu tak kuasa menahan malu, karena seringkali diejek teman-temannya sebagai anak tukang bubur.
Akhir hidup yang tragis juga dialami oleh Linda (15). Siswi salah satu SLTPN di Jakarta kelas II ini ditemukan tewas gantung diri di kamar tidurnya. Menurut orangtua Linda, ia tewas gara-gara tertekan oleh ejekan teman-temannya di sekolah, karena tidak pernah naik kelas.
Meski tidak sampai tewas, hal yang sama sempat dialami oleh Riska (14). Gara-gara mengalami depresi, karena sering diejek ”gendut” oleh teman-temannya di sekolah, ia nekad hendak bunuh diri. Untung saja orangtuanya, pasangan Bramono dan Tari, segera mengetahui putrinya itu yang sudah siap meloncat dari jendela kamar lantai 11 apartemen.
”Ada sekitar 30 kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri di kalangan anak dan remaja berusia 6 sampai 15 tahun yang dilaporkan media massa tahun 2002-2005,” ujar Nana.
Back to seri Kecil-Kecil Punya Karya berjudul SheKeFaRellOr karya Maryam (12 tahun) di atas tadi. Sebenarnya kalo saja penerbit atau editor DarMizan bisa lebih selektif, barangkali karya Maryam tersebut tidak akan lolos. Ya, at least kalimat-kalimat yang bernama bullying tersebut dieditlah. Toh, judul-judul lain di seri Kecil-Kecil Punya Karya banyak yang bagus, kok. Artinya dari segi cerita dan kalimat-kalimat di buku-buku lain tidak ada yang menggajarkan bullying pada pembaca. Misalnya The Eccentric School karya Riza (11 tahun), Pink Cupcake karya Ramya (12 tahun), dan beberapa karya lain yang kebetulan dimiliki anak saya.
Sukses terus untuk DarMizan dengan seri Kecil-Kecil Punya Karya! Untuk Maryam, kalo kebetulan membaca blog ini, terus berkarya ya sayang. Tapi saran Om, next time kalo bikin novel lagi, dialog-dialog dalam cerita kamu itu jangan kasar-kasar ya sayang. Om yakin, kamu pasti bisa! Sukses selalu!
+Paskibra Proklamasi
“Kamu punya otak, enggak? Kalau punya, letaknya di mana?” ejek Farhan lagi.
“Punya! Di kaki! Puas kamu!” jawab Aurell kesal.
“Oh, pantesan beloon banget! Puas!” balas Farhan.
Penggalan dialog itu saya ambil dari buku seri Kecil-Kecil Punya Karya karya Maryam (12 tahun) berjudul SheKeFaRellOr. Anda sudah baca? Atau anak Anda sudah punya koleksi salah satu seri Kecil-Kecil Punya Karya terbitan DarMizan ini? Saya tidak tahu dengan Anda, tetapi saya pribadi kaget bukan kepalang ketika membaca buku ini. Kalimat-kalimat yang dibuat sang pengarang banyak negatif. Yang paling sering kata “O’ON” sebagai kependekan dari kata “BLOON” dan kata “KUTU KUPRET” yang mengganti panggilan untuk tokoh Diva.
Saya tidak habis pikir,-barangkali saya juga terlalu naif kali ya?- anak usia 12 tahun seperti Maryam sudah fasih mengelontorkan kalimat-kalimat negatif seperti itu. Padahal pengarang cilik ini berguru di sekolah yang relatif baik: Bina Islamic Boarding School, Bekasi, dimana pasti guru-guru mengajarkan hal-ha yang positif, sehingga murid-murid juga turut baik. Tentu kalimat-kalimat yang ada di buku SheKeFaRellOr berasal dari apa yang ia dengar dan rasakan.
Saya juga tidak habis pikir, mengapa DarMizan meloloskan salah satu seri Kecil-Kecil Punya Karya kisah yang kalimat-kaimatnya banyak negatif ini? Coba perhatikan lagi di halaman lain, yakni halaman 32.
“Oh, iya…kenapa aku jadi o’on begini ya?” gumam Kevin..
“Hi, Kev…! Memang sudah dari dulu kamu itu o’on!” celetuk Farhan..
“Yeee…! Kamu, tuh…dari lahir sudah jelek!” balas Kevin kesal.
“Huuu…! Kamu juga dari zaman purba sudah o’on kayak begitu,” sanggah Farhan.
Saya mengerti sekali, Maryam sekadar bermasksud ingin membuat cerita di situ sebagai upaya becanda antarteman, namun editor atau penerbit DarMizan harusnya mengerti, bahwa segmen pembaca Kecil-Kecil Punya Karya ini anak-anak. Bayangkan jika maksud hati menerbitkan buku yang edukatif, eh misinya tidak tercapai.
Menurut Diena Haryana dari Yayasan Semai Jiwa Amini (Sejiwa), kata-kata caci-maki atau mengejek seperti yang ada di karya Maryam itu termasuk salah satu tindakan bullying. Bullying merupakan istilah yang memang belum cukup dikenal luas oleh masyarakat di Indonesia. Meski begitu, perilaku bullying sebenarnya sudah ada dalam kehidupan bermasyarakat, bahkan di dalam institusi pendidikan.
Bullying atau tindakan yang membuat seseorang merasa teraniaya atau direndahkan. Menurut Andrew Mellor dari Antibullying Network University of Edinburgh, bullying bisa terjadi dalam bentuk verbal, fisik maupun mental, sehingga orang tersebut takut bila perilaku tersebut akan terjadi lagi. Di institusi sekolah, ini dilakukan oleh mayoritas orang, baik yang dilakukan sesama siswa, alumni atau bahkan guru. Sayangnya, kasus-kasus ini jarang menguak ke permukaan. Sebab, guru, orang tua, bahkan siswa belum memiliki kesadaran, kapan terjadinya bullying. Kalaupun terjadi, jarang sekali yang mau membicarakannya.
Pada tahun 2007, Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengeluarkan data yang cukup mengejutkan. Pada tahun itu dilaporkan terjadi 555 kasus kekerasan terhadap anak, 11,8 persennya dilakukan oleh guru. Tahun berikutnya, tahun 2008, bahkan lebih parah. Dari 86 kasus kekerasan yang dilaporkan, 39 persennya dilakukan oleh guru.
Itu baru pelaporan kasus, sementara menurut Nina, Yayasan Sejiwa mencatat korban akibat tindak kekerasan dalam rentang 2002-2005 adalah sebanyak 30 kasus, baik korban bunuh diri maupun percobaan bunuh diri di kalangan anak dan remaja berusia 6 sampai 15 tahun.
Masa Orientasi Siswa (MOS), pelantikan OSIS, penerimaan anggota ekskul, cheerleaders, atau latihan dasar kepemimpinan yang ada di sekolah, merupakan ajang bullying. Biasanya alumni yang melakukan. Bentuknya bisa berupa permintaan kakak kelas pada adik kelas dengan cara menekan perasaan atau bahkan menyiksa fisik. Bahkan terakhir yang heboh adalah masa orientasi di Paskibra tingkat DKI Jakarta yang masih belum selesai kasusnya. Dilaporkan oleh beberapa anggota Paskibra tahun 2010, senior mereka telah melakukan tindakan pelecehan atau tindakan yang mempermalukan.
Menurut Ketua Yayasan Sejiwa yang aktif memerangi bullying Diena Haryana, bullying menjadi momok menyeramkan karena dampaknya bukan hanya dapat dirasakan sekarang juga namun bisa muncul beberapa tahun kemudian.
“Contohnya, dari salah satu anak SMA yang kami dampingi, dia ketika dibentak gurunya langsung pingsan dan berkata-kata tidak jelas. Setelah diselidiki, ternyata sewaktu SD dia pernah di-bully dengan sangat keras oleh gurunya. Sampai sekarang, dia masih perlu pendampingan,” ujar Nana.
Tambah Nana, bullying di sekolah merupakan embrio kekerasan di masyarakat. Namun, demi ’nama baik’, tidak lebih dari 0,1 persen sekolah di Jakarta yang mengakui kalau di sekolah mereka terjadi bullying.
Mau tambah contoh lagi soal kehebatan bullying?
Fifi Kusrini (13) ditemukan tewas gantung diri di kamar mandi pada Juli 2005. Menurut ayahnya, gadis yang tinggal di Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat itu tak kuasa menahan malu, karena seringkali diejek teman-temannya sebagai anak tukang bubur.
Akhir hidup yang tragis juga dialami oleh Linda (15). Siswi salah satu SLTPN di Jakarta kelas II ini ditemukan tewas gantung diri di kamar tidurnya. Menurut orangtua Linda, ia tewas gara-gara tertekan oleh ejekan teman-temannya di sekolah, karena tidak pernah naik kelas.
Meski tidak sampai tewas, hal yang sama sempat dialami oleh Riska (14). Gara-gara mengalami depresi, karena sering diejek ”gendut” oleh teman-temannya di sekolah, ia nekad hendak bunuh diri. Untung saja orangtuanya, pasangan Bramono dan Tari, segera mengetahui putrinya itu yang sudah siap meloncat dari jendela kamar lantai 11 apartemen.
”Ada sekitar 30 kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri di kalangan anak dan remaja berusia 6 sampai 15 tahun yang dilaporkan media massa tahun 2002-2005,” ujar Nana.
Back to seri Kecil-Kecil Punya Karya berjudul SheKeFaRellOr karya Maryam (12 tahun) di atas tadi. Sebenarnya kalo saja penerbit atau editor DarMizan bisa lebih selektif, barangkali karya Maryam tersebut tidak akan lolos. Ya, at least kalimat-kalimat yang bernama bullying tersebut dieditlah. Toh, judul-judul lain di seri Kecil-Kecil Punya Karya banyak yang bagus, kok. Artinya dari segi cerita dan kalimat-kalimat di buku-buku lain tidak ada yang menggajarkan bullying pada pembaca. Misalnya The Eccentric School karya Riza (11 tahun), Pink Cupcake karya Ramya (12 tahun), dan beberapa karya lain yang kebetulan dimiliki anak saya.
Sukses terus untuk DarMizan dengan seri Kecil-Kecil Punya Karya! Untuk Maryam, kalo kebetulan membaca blog ini, terus berkarya ya sayang. Tapi saran Om, next time kalo bikin novel lagi, dialog-dialog dalam cerita kamu itu jangan kasar-kasar ya sayang. Om yakin, kamu pasti bisa! Sukses selalu!
+Paskibra Proklamasi
Jumat, 24 September 2010
I ALWAYS LOVE YOU!
Begitulah judul e-mail putri kami pertama, Anjani. Ia mengirimkan e-mail itu pada Jumat, 24 September 24 pukul 10:22 WIB dan saya baru membuka pukul 22:43 WIB. Isinya membuat hati kami bangga sekaligus memotivasi kami agar tetap terus berjuang menjadi orangtua yang lebih baik lagi.
Inilah isi e-mail Anjani...
When I was baby.. i have an accident that i was Spilling my milk.. Then You was Scold me for spilling my milk all the time.. because i dont know what am i doing then i cry... .
When I was a grow up child i study with you together side by side when i don't know the word you learning me again.. then i forgot the word again then you learn me.. when i forgot 3 times.. you got so angry that now i am being punished because i don't know the word i forgot and im sorry in my heart i wanna talk and mad to you to but i can't because you are my parents.. so i just wait..
Now I am Growing to a 12 years old girl and maybe sometimes i get cranky,mad,angry ,happy ,sad ,and silly things... if i do a mistake im sorry.. i only wan't to make you proud but i just make it even worst... Well sometimes i lie or i mad or i angry at my sister..
And i am really really really really really really really really really really really really sorry that i do it...
But no matter who you are no matter what you did well.....
I always love you...
Because I am Just Ordinary Girl...
--
I always open a message, not always.
Inilah isi e-mail Anjani...
When I was baby.. i have an accident that i was Spilling my milk.. Then You was Scold me for spilling my milk all the time.. because i dont know what am i doing then i cry... .
When I was a grow up child i study with you together side by side when i don't know the word you learning me again.. then i forgot the word again then you learn me.. when i forgot 3 times.. you got so angry that now i am being punished because i don't know the word i forgot and im sorry in my heart i wanna talk and mad to you to but i can't because you are my parents.. so i just wait..
Now I am Growing to a 12 years old girl and maybe sometimes i get cranky,mad,angry ,happy ,sad ,and silly things... if i do a mistake im sorry.. i only wan't to make you proud but i just make it even worst... Well sometimes i lie or i mad or i angry at my sister..
And i am really really really really really really really really really really really really sorry that i do it...
But no matter who you are no matter what you did well.....
I always love you...
Because I am Just Ordinary Girl...
--
I always open a message, not always.
Minggu, 29 Agustus 2010
RELA MACET BERJAM-JAM DEMI SHOW 15 MENIT

Sudah sejak minggu lalu, putri kedua kami, Khaira, selalu mengingatkan sebuah agenda pada tanggal 29 Agustus 2010 yang tida boleh dilewatkan, yakni pergi ke Pejaten Village. Hampir setiap hari, sampai dengan hari H ini, ia tak bosan-bosan mengingatkan kami dengan agendanya itu.
Mungkin kalo sekadar jalan-jalan ke mall, anak kami jadi terdengar norak atau kampungan. Wong ke mall aja kok segitu ngebetnya. Perkaranya, bukan sekadar jalan ke mall. Kalo itu mah sudah sering kami lakukan. Tetapi Khaira ingin berjumpa dengan idolanya dan melihat dari dekat. Sebab, selama ini sang idola hanya muncul di layar televisi. Nah, Minggu ini, ia hadir secara langsung di mal yang berada di bilangan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
“Sudah adzan dzuhur belum, Pap?” tanya Khaira tiba-tiba menghampiri saya.
“Belum. Bentar lagi ya, Dik,” jawab saya.
Samar-samar suara adzan pun terdengar.
“Nah, sekarang sudah adzan kan, Pap?” tanya Khaira lagi.
“Iya. Kita sholat dulu, yuk!”
“Hore! Hore! Hore! Aku ketemu Mister Maker! Hore! Hore! Aku suka Mister Maker!”

Khaira berlompat-lompatan di atas kasur pegas di kamar kami. Ia kegirangan, karena kami berjanji sehabis sholat dzuhur, langsung pergi ke Pejaten Village untuk menyaksikan “pertunjukan” Mister Maker. Kebetulan jadwal “pertunjukan” idola Khaira ini berlangsung pukul 14.00 wib.
Mister Maker? Memangnya apa yang membuat orang ini begitu spesial? Kalo biasa mendampingi anak-anak Anda menonton Indovision, tepatnya di channel CBeebies, pasti mengenal sosok Mister Maker. Tokoh yang diperankan oleh Phil Gallagher ini adalah jagoan dalam membuat prakarya. Ia selalu membuat karya dari berbagai hal yang ada di sekitar kita. Sangat kreatif dan lucu. Menurut sang Sutradara, James Morgan, karakter Mister Maker memang dibuat untuk dapat menimbulkan keceriaan di sekelilingnya.
Setiap episode, Mister Maker menampilkan beberapa cara membuat prakarya yang mudah dan menarik untuk anak usia dini, dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Namun semua karyanya itu tetap dikhususkan untuk anak usia dini (pre-school). Dari mulai yang sangat mudah sehingga bisa dibuat hnya dalam waktu 1 menit (Minute Make) sampai dengan karya yang membutuhkan bantuan orang dewasa. Bahan-bahannya juga mudah didapat. Yang paling sering digunakan adalah cat, lem, gunting, aneka kertas dan kardus.
Program Mister Maker ini pertama kali disiarkan pada tahun 2007. Saking populernya, program yang dibuat oleh Michael Carrington dari BBC ini sudah di-dubbing ke dalam beberapa bahasa, termasuk ke bahasa Spanyol dan tentu saja Indonesia. Phil sendiri pernah masuk nominasi presenter acara anak-anak terbaik BAFTA Children’s Awards 2009. BAFTA merupakan penghargaan tertinggi bagi insan pertelevisian di Inggris. Beda, lho, sama penghargaan Panasonic Awards di Indonesia ini yang dinilai kurang objektif itu.

Back to kedatangan Mister Maker di Pejaten Village. Ternyata kami salah duga. Anak-anak yang ingin menjumpai Mister Maker banyak minta ampyun. Gara-gara pria asal Inggris ini, ruas-ruas jalan yang menghubungkan ke Pejaten Village macet semacet-macetnya. Kalo Anda pernah melewati jalan Warung Buncit, Jakarta Selatan, barangkali pada hari kerja dan jam-jam sibuk sudah biasa melihat kemacetan. Namun, hari Minggu ini, kemacetan juga terjadi, bahkan lebih parah.
Setelah berjuang, kami akhirnya sampai juga di tempat parkir Pejaten Village. Begitu berada di plaza mall ini, alangkah kagetnya kami. Ratusan anak-anak sudah memadati plaza. Seolah tak ada tempat lagi untuk bergerak. Padahal sang idola belum menunjukan batang hidungnya. Agaknya pihak event organizer (EO) ini tak menyangka pengunjung yang akan melihat Mister Maker akan sebanyak itu.
Tunggu punya tunggu, Mister Maker pun muncul. Bertepatan dengan kemunculannya, seluruh anak memangil nama idola mereka, termasuk Khaira. Suara mereka begitu riuh. Kami melihat wajah mereka berbinar-binar, bahkan ada yang histeris. Situasi ini mirip kalo kita melihat sebuah konser, dimana band manggung dan fans mereka menjerit histeris di depan panggung.
Para orangtua, terutama bapak-bapak terpaksa menggendong putra-putri mereka, mendudukan anak-anak mereka di pundak. Ya, ngapain lagi kalo bukan supaya anak mereka bisa melihat. Padahal jarak antara panggung Mister Maker dan penonton cukup jauh. Kondisi penuh sesak bukan terjadi di lantai dimana panggung berada, tetapi di tiap lantai mall. Siang itu mall milik anak-anak. “Biang keladinya” adalah Phil si Mister Maker itu.

Sayang, pertunjukan cuma 15 menit. Mister Maker yang ditunggu berjam-jam itu tidak terasa harus menghilang. Kalo dipikir-pikir tak sepadan dengan perjuangan mengatasi kemacetan siang menjelang sore itu. Tetapi begitu melihat wajah putri kami yang berbinar-binar, kekesalan pada parahnya kemacetan jadi terobati.
“Gimana Mister Maker-nya, Nak?” tanya saya.
“Keren, Pap!” jawab Khaira sambil tersenyum. “Tapi kenapa kulitnya agak hitam ya? Kok beda dengan di televisi? Kulitnya putih.”
“Mungkin Mister Maker yang datang ke Jakarta ini bukan orang Inggris, tetapi orang Afrika kali,” goda saya.
Sabtu, 24 Juli 2010
"MAKANYA ADIK MAU PUNYA BAYI..."
Sekarang ini, setiap jam 4 sore, Khaira pergi ke rumah Nenek kami. Kebetulan rumah Nenek kami tidak jauh dari rumah kami. Jaraknya sekitar 500 meter dari rumah kami. Ya, beda Rukun Warga (RW) saja.
Kenapa harus pukul 4 sore? Sebab, di jam segitu, Tiara dimandikan. Siapa itu Tiara? Tiara adalah keponakan kami. Ia masih bayi. Umurnya masih 4 bulan. Gara-gara masih bayi, anak-anak kami suka main ke rumah Nenek (kami biasa memanggil dengan sebutan "Uti").
Di rumah Uti, Khaira memang hanya boleh melihat proses Tiara dimandikan. Oleh baby sitter-nya, anak saya belum diizinkan memandikan. Saya bisa maklum, usia 4 bulan masih rentan. Meski belum boleh memandikan, setiap kali Tiara dimandikan, mata Khaira berbinar-binar.
"Adik mau punya bayi, Ma," ujar Khaira.
"Kenapa adik mau punya bayi? Kan sudah ada adik Tiara?"
"Tapi kan adik Tiara nggak tidur di rumah sini. Jadi adik mau punya bayi, Ma"
Saya dan istri saling pandang-pandangan.
Kenapa harus pukul 4 sore? Sebab, di jam segitu, Tiara dimandikan. Siapa itu Tiara? Tiara adalah keponakan kami. Ia masih bayi. Umurnya masih 4 bulan. Gara-gara masih bayi, anak-anak kami suka main ke rumah Nenek (kami biasa memanggil dengan sebutan "Uti").
Di rumah Uti, Khaira memang hanya boleh melihat proses Tiara dimandikan. Oleh baby sitter-nya, anak saya belum diizinkan memandikan. Saya bisa maklum, usia 4 bulan masih rentan. Meski belum boleh memandikan, setiap kali Tiara dimandikan, mata Khaira berbinar-binar.
"Adik mau punya bayi, Ma," ujar Khaira.
"Kenapa adik mau punya bayi? Kan sudah ada adik Tiara?"
"Tapi kan adik Tiara nggak tidur di rumah sini. Jadi adik mau punya bayi, Ma"
Saya dan istri saling pandang-pandangan.
Langganan:
Postingan (Atom)