Jumat, 24 September 2010

I ALWAYS LOVE YOU!

Begitulah judul e-mail putri kami pertama, Anjani. Ia mengirimkan e-mail itu pada Jumat, 24 September 24 pukul 10:22 WIB dan saya baru membuka pukul 22:43 WIB. Isinya membuat hati kami bangga sekaligus memotivasi kami agar tetap terus berjuang menjadi orangtua yang lebih baik lagi.

Inilah isi e-mail Anjani...

When I was baby.. i have an accident that i was Spilling my milk.. Then You was Scold me for spilling my milk all the time.. because i dont know what am i doing then i cry... .

When I was a grow up child i study with you together side by side when i don't know the word you learning me again.. then i forgot the word again then you learn me.. when i forgot 3 times.. you got so angry that now i am being punished because i don't know the word i forgot and im sorry in my heart i wanna talk and mad to you to but i can't because you are my parents.. so i just wait..

Now I am Growing to a 12 years old girl and maybe sometimes i get cranky,mad,angry ,happy ,sad ,and silly things... if i do a mistake im sorry.. i only wan't to make you proud but i just make it even worst... Well sometimes i lie or i mad or i angry at my sister..
And i am really really really really really really really really really really really really sorry that i do it...
But no matter who you are no matter what you did well.....
I always love you...

Because I am Just Ordinary Girl...


--
I always open a message, not always.

Minggu, 29 Agustus 2010

RELA MACET BERJAM-JAM DEMI SHOW 15 MENIT


Sudah sejak minggu lalu, putri kedua kami, Khaira, selalu mengingatkan sebuah agenda pada tanggal 29 Agustus 2010 yang tida boleh dilewatkan, yakni pergi ke Pejaten Village. Hampir setiap hari, sampai dengan hari H ini, ia tak bosan-bosan mengingatkan kami dengan agendanya itu.

Mungkin kalo sekadar jalan-jalan ke mall, anak kami jadi terdengar norak atau kampungan. Wong ke mall aja kok segitu ngebetnya. Perkaranya, bukan sekadar jalan ke mall. Kalo itu mah sudah sering kami lakukan. Tetapi Khaira ingin berjumpa dengan idolanya dan melihat dari dekat. Sebab, selama ini sang idola hanya muncul di layar televisi. Nah, Minggu ini, ia hadir secara langsung di mal yang berada di bilangan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

“Sudah adzan dzuhur belum, Pap?” tanya Khaira tiba-tiba menghampiri saya.

“Belum. Bentar lagi ya, Dik,” jawab saya.

Samar-samar suara adzan pun terdengar.

“Nah, sekarang sudah adzan kan, Pap?” tanya Khaira lagi.

“Iya. Kita sholat dulu, yuk!”

“Hore! Hore! Hore! Aku ketemu Mister Maker! Hore! Hore! Aku suka Mister Maker!”



Khaira berlompat-lompatan di atas kasur pegas di kamar kami. Ia kegirangan, karena kami berjanji sehabis sholat dzuhur, langsung pergi ke Pejaten Village untuk menyaksikan “pertunjukan” Mister Maker. Kebetulan jadwal “pertunjukan” idola Khaira ini berlangsung pukul 14.00 wib.

Mister Maker? Memangnya apa yang membuat orang ini begitu spesial? Kalo biasa mendampingi anak-anak Anda menonton Indovision, tepatnya di channel CBeebies, pasti mengenal sosok Mister Maker. Tokoh yang diperankan oleh Phil Gallagher ini adalah jagoan dalam membuat prakarya. Ia selalu membuat karya dari berbagai hal yang ada di sekitar kita. Sangat kreatif dan lucu. Menurut sang Sutradara, James Morgan, karakter Mister Maker memang dibuat untuk dapat menimbulkan keceriaan di sekelilingnya.

Setiap episode, Mister Maker menampilkan beberapa cara membuat prakarya yang mudah dan menarik untuk anak usia dini, dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Namun semua karyanya itu tetap dikhususkan untuk anak usia dini (pre-school). Dari mulai yang sangat mudah sehingga bisa dibuat hnya dalam waktu 1 menit (Minute Make) sampai dengan karya yang membutuhkan bantuan orang dewasa. Bahan-bahannya juga mudah didapat. Yang paling sering digunakan adalah cat, lem, gunting, aneka kertas dan kardus.

Program Mister Maker ini pertama kali disiarkan pada tahun 2007. Saking populernya, program yang dibuat oleh Michael Carrington dari BBC ini sudah di-dubbing ke dalam beberapa bahasa, termasuk ke bahasa Spanyol dan tentu saja Indonesia. Phil sendiri pernah masuk nominasi presenter acara anak-anak terbaik BAFTA Children’s Awards 2009. BAFTA merupakan penghargaan tertinggi bagi insan pertelevisian di Inggris. Beda, lho, sama penghargaan Panasonic Awards di Indonesia ini yang dinilai kurang objektif itu.



Back to kedatangan Mister Maker di Pejaten Village. Ternyata kami salah duga. Anak-anak yang ingin menjumpai Mister Maker banyak minta ampyun. Gara-gara pria asal Inggris ini, ruas-ruas jalan yang menghubungkan ke Pejaten Village macet semacet-macetnya. Kalo Anda pernah melewati jalan Warung Buncit, Jakarta Selatan, barangkali pada hari kerja dan jam-jam sibuk sudah biasa melihat kemacetan. Namun, hari Minggu ini, kemacetan juga terjadi, bahkan lebih parah.

Setelah berjuang, kami akhirnya sampai juga di tempat parkir Pejaten Village. Begitu berada di plaza mall ini, alangkah kagetnya kami. Ratusan anak-anak sudah memadati plaza. Seolah tak ada tempat lagi untuk bergerak. Padahal sang idola belum menunjukan batang hidungnya. Agaknya pihak event organizer (EO) ini tak menyangka pengunjung yang akan melihat Mister Maker akan sebanyak itu.

Tunggu punya tunggu, Mister Maker pun muncul. Bertepatan dengan kemunculannya, seluruh anak memangil nama idola mereka, termasuk Khaira. Suara mereka begitu riuh. Kami melihat wajah mereka berbinar-binar, bahkan ada yang histeris. Situasi ini mirip kalo kita melihat sebuah konser, dimana band manggung dan fans mereka menjerit histeris di depan panggung.

Para orangtua, terutama bapak-bapak terpaksa menggendong putra-putri mereka, mendudukan anak-anak mereka di pundak. Ya, ngapain lagi kalo bukan supaya anak mereka bisa melihat. Padahal jarak antara panggung Mister Maker dan penonton cukup jauh. Kondisi penuh sesak bukan terjadi di lantai dimana panggung berada, tetapi di tiap lantai mall. Siang itu mall milik anak-anak. “Biang keladinya” adalah Phil si Mister Maker itu.



Sayang, pertunjukan cuma 15 menit. Mister Maker yang ditunggu berjam-jam itu tidak terasa harus menghilang. Kalo dipikir-pikir tak sepadan dengan perjuangan mengatasi kemacetan siang menjelang sore itu. Tetapi begitu melihat wajah putri kami yang berbinar-binar, kekesalan pada parahnya kemacetan jadi terobati.

“Gimana Mister Maker-nya, Nak?” tanya saya.

“Keren, Pap!” jawab Khaira sambil tersenyum. “Tapi kenapa kulitnya agak hitam ya? Kok beda dengan di televisi? Kulitnya putih.”

“Mungkin Mister Maker yang datang ke Jakarta ini bukan orang Inggris, tetapi orang Afrika kali,” goda saya.

Selasa, 10 Agustus 2010


Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Sabtu, 24 Juli 2010

"MAKANYA ADIK MAU PUNYA BAYI..."

Sekarang ini, setiap jam 4 sore, Khaira pergi ke rumah Nenek kami. Kebetulan rumah Nenek kami tidak jauh dari rumah kami. Jaraknya sekitar 500 meter dari rumah kami. Ya, beda Rukun Warga (RW) saja.

Kenapa harus pukul 4 sore? Sebab, di jam segitu, Tiara dimandikan. Siapa itu Tiara? Tiara adalah keponakan kami. Ia masih bayi. Umurnya masih 4 bulan. Gara-gara masih bayi, anak-anak kami suka main ke rumah Nenek (kami biasa memanggil dengan sebutan "Uti").

Di rumah Uti, Khaira memang hanya boleh melihat proses Tiara dimandikan. Oleh baby sitter-nya, anak saya belum diizinkan memandikan. Saya bisa maklum, usia 4 bulan masih rentan. Meski belum boleh memandikan, setiap kali Tiara dimandikan, mata Khaira berbinar-binar.

"Adik mau punya bayi, Ma," ujar Khaira.

"Kenapa adik mau punya bayi? Kan sudah ada adik Tiara?"

"Tapi kan adik Tiara nggak tidur di rumah sini. Jadi adik mau punya bayi, Ma"

Saya dan istri saling pandang-pandangan.

Jumat, 23 Juli 2010

JUS JAMBU BU KARDI

"Mah, nanti adik mau jus bu Kardi ya?"

Tiba-tiba Khaira berkata seperti itu, beberapa menit sebelum masuk ke kelasnya. Saya dan istri heran, kenapa kok tiba-tiba putri kedua kami ini minta jus. Jus-nya pun jus bu Kardi pula. What happened?

Kami pun tergerak hati untuk menyelidik. Penyelidikan pertama ke warung bu Kardi. Buat Anda yang nggak tahu who is bu Kardi, saya kasih tahu. Ia bukan selebriti papan atas atau public figure yang namanya kini populer. Ia seorang pemilik warung yang mangkal di dekat sekolah Khaira, yakni di SD At-Taqwa, Rawamangun, Jakarta Timur.

Sebenarnya nama bu Kardi sudah populer di lingkungan At-Taqwa. Kebetulan, At-Taqwa ini tidak hanya membuka sekolah SD, tetapi Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-Kanak (TK) pun ada. Nah, posisi warung bu Kardi berada di tengah-tengah antara gedung SD dan gedung TK. So, keharuman nama bu Kardi sudah tercium sejak Khaira berada di TK At-Taqwa.

Bu Kardi adalah perempuan kurus, tetapi lincah. Tiap meladeni pelanggan, ia begitu cekatan. Padahal pelanggannya banyak, lho. Mayoritas pelanggannya adalah ibu-ibu yang menunggu anak-anak mereka sekolah. Nah, kebayang betapa cerewetnya ibu-ibu ini. Kalo nggak minta diladenin duluan, ya minta sambel. Kalo nggak minta kembalian, ya minta bungkusan. Hebatnya, di warung itu cuma bu Kardi seorang diri yang meladeni.

Bu Kardi sudah bersuami. Kebetulan suaminya adalah Satpam di TK dan SD At-Taqwa. Kalo tidak bertugas, pak Kardi ikut bantu bu Kardi meladeni pelanggan. Kasihan soalnya kalo nggak dibantu, repot!

Di warung bu Kardi tersedia aneka makanan. Ada donat, lontong isi, tahu isi, ketan, nasi uduk yang sudah diplastikin, dan jus. Sambil sarapan pagi, saya dan istri pun menyelidiki tentang jus jambu bu Kardi ini.

Ternyata, sudah lama jus bu Kardi beredar di kalangan murid-murid SD At-Taqwa. Murid-murid At-Taqwa banyak yang langganan jus jambu ini, termasuk teman-teman Khaira. Itulah mengapa Khaira ingin menjadi pelanggan jus jambu bu Kardi seperti teman-temannya.

"Nanti Mama buatkan jus jambu di rumah ya?" rayu istri saya.

"Maunya jus jambu bu Kardi!" ngotot Khaira.

Menurut istri saya, kenapa jus jambu bu Kardi jadi idola, karena rasanya manis. Itu artinya, gulanya lebih banyak daripada rasa jambunya.

Untunglah, Khaira akhirnya mau dibuatkan jus jambu dari rumah. Tapi tetap pakai syarat. Diantarnya bertepatan dengan bu Kardi membawakan jus jambu ke teman-teman Khiara. Walah! Tapi kami ngerti kenapa Khaira menetapkan syarat seperti itu. Sebab, supaya ia berasa minum jus bersama teman-temannya.

Tepat pukul 10:00 wib, jus jambu buatan istri saya tiba di sekolah, bersamaan dengan jus jambu bu Kardi.

"De, ini jus jambunya?" ujar istri sambil menyerahkan jus jambu yang sudah dimasukkan ke dalam botol plastik bergambar Toy Story 3.

"Lho, kok jusnya dimasukkan ke situ (botol Toy Story maksudnya)," protes Khaira.

"Memangnya adik mau dimasukkan ke botol yang mana?" tanya istri saya.

"Mau gelas plastik kayak jus teman-teman adik..."

Oalah! Tetep! Nggak beli jus, gelas plastik tetap jadi syarat. Yang penting bu Kardi. Khaira-Khaira segitu nge-fans-nya sama bu Kardi...

BELAJAR KORUPSI DARI DALAM MOBIL

Pagi itu saya berhasil menjalankan mobil tepat pukul 06 lewat 5 menit. Dengan hitungan waktu berangkat ini, sudah dipastikan kami tidak akan terjebak kemacetan. Maklumlah, meski dari rumah kami di Cempaka Putih Barat ke sekolah Anjani dan Khaira di Rawamangun jaraknya dekat, namun seringkali kami berhadapan dengan kemacetan. Apalagi kalo kami baru menjalankan mobil dari rumah pukul 06.20, sudah diduga, Anjani akan terlambat.

Begitulah rutinitas yang sudah menjadi komitmen kami: mengantarkan anak-anak ke sekolah. Seperti di cerita-cerita saya sebelumnya, saya memang punya komitmen, setiap pagi wajib antar anak-anak sekolah whatever it takes! Mau badan pegal, mata ngantuk, tetap antar sekolah. Kenapa? Di saat antar sekolah, kami bicara menjalin komunikasi dengan anak-anak, termasuk dengan istri.

Apa saja bisa kami obrolkan dalam mobil. Soal grup Korea yang digila-gilai oleh Anjani, juga soal pacar-pacar Khaira. Pagi kemarin, kami ngobrol soal korupsi. Saya senang banget ketika Anjani bertanya soal korupsi. Sebab, kebetulan di hari sebelumnya, saya mendapat pengalaman soal korupsi.

"Pa, korupsi itu apa?"

Sebagai bapak dua orang anak yang berusia 11 tahun dan 6 tahu, tentu jawaban atas pertanyaan itu harus sesederhana mungkin. Nggak mudah lho menyederhanakan kalimat untuk anak-anak. Makanya saya pun memberi jawaban begini:

"Nak, segala sesuatu yang bukan milik kita itu tidak boleh diambil. Kalo kita ambil, itu namanya mencuri, mengerti?"

Anjani mengangguk. Rupanya anak saya kedua Khaira (6) juga ikut-ikutan mengangguk. Padahal tujuan saya menjelaskan ini cuma untuk putri saya pertama Anjani (11). Itulah yang bikin saya exciting. Artinya, pembahasan korupsi di dalam mobil menuju ke sekolah ini juga untuk Khaira. "Mantabs," pikir saya.

Lanjut saya, bahwa setiap orang yang mencuri adalah berdosa. Saya mencontohkan, kalo saya membuat program TV, ada uang untuk shooting program itu. Taruhlah Rp 500 ribu. Ternyata, untuk membuat program TV hanya membutuhkan uang Rp 350 ribu. Artinya, ada sisa uang Rp 150 ribu. Nah, sisa uang itu kan bukan milik saya, tetapi milik perusahaan TV itu.

"Kira-kira uang itu Papa harus kembalikan atau tidak?" pancing saya.

"Kembalikan," jawab Anjani.

"Kalo uang itu Papa ambil gimana?" pancing saya lagi.

"Itu namanya Papa mencuri!" ujar Khaira.

Saya tersenyum. Bangga. Anak-anak saya mulai tahu arti korupsi yang sangat sederhana.

Saya jelaskan lagi, bahwa saat ini banyak sekali orang yang ditangkap polisi, karena mencuri uang yang bukan milik mereka. Mereka itu sudah punya gaji, tetapi masih mencuri uang yang sebenarnya punya perusahaan atau tempat kerja mereka.

"Nah, itu yang dinamakan korupsi. Kalo orang yang melakukan korupsi dinamakan koruptor, mengerti?"

Anjani dan Khaira mengangguk bersama-sama.

Ketika bekerja di stasiun TV jadi broadcaster, saya sering sekali hampir terjebak dalam kasus korupsi. Saya jelaskan pada anak-anak, bahwa kesempatan saya korupsi di stasiun TV. Sebagai Executive Produser, saya berhak membuat anggaran untuk shooting dan mengalokasikan dana untuk ini dan itu, termasuk honor artis atau pengisi acara.

Beberapa teman saya (mohon maaf!) memanfaatkan jabatan untuk korupsi. Entah itu mengambil honor artis atau narasumber, maupun memasukkan program TV ke stasiun televisi tersebut, meski program tersebut tidak layak tayang. Terakhir, saat saya bekerja di lembaga kepemerintahan, saya pun sempat berdiskusi mengenai dana Bantuan Sosial (Bansos), dimana dana itu bisa dimanfaatkan sebagai celah untuk korupsi. Bayangkan! Dana Bansos per tahun Rp 500 juta. Kalo saya sudah biasa "maling", tentu akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan uang dari dana itu. Mencuri 10% sampai 20% dari dana itu lumayan kan?

"Kakak dan adik nggak mau kan Papa masuk penjara?" tanya saya seperti menguji.

"Ya, nggak mau lah!"

"Nah, makanya kita harus bersyukur. Meski Papa dan Mama tidak punya uang banyak, tetapi kita masih bisa punya mobil, punya rumah, bisa sekolahkan kakak dan adik, dan masih bisa jalan-jalan, ya kan?"

Anjani dan Khaira mengangguk.

Alhamdulillah, aank-anak kami sekarang mengerti korupsi. Saya sebagai Papa-nya dilarang oleh kedua anak kami masuk penjara, karena mencuri uang yang bukan haknya. Kalo mencuri waktu? Ah, anyway, ternyata belajar korupsi bisa dimana saja, termasuk di dalam mobil.

FIRST DAY AT SCHOOL

Senin, 12 Juli 2010 merupakan hari pertama Khaira masuk SD. Ini adalah hari yang sangat dinanti-nantikan olehnya. Maklumlah, setelah wisuda TKB, putri kedua kami ingin berkali-kali mengungkapkan kegembiraan akan bersekolah di SD.

"Kapan sih Pa, adik masuk sekolah?"

"Ma, sekolahnya tinggal berapa hari lagi?"

Buat kami aneh, kok nggak sabaran amat mau masuk sekolah aja. Yang sudah-sudah, kita malah stres kalo mau masuk sekolah lagi. Meski tahun ajaran baru, yang namanya sekolah seperti "hantu". Tapi Khaira tidak.

Seperti ketika kami memasukkan putri pertama kami Anjani masuk SD, segala persiapan dilakukan. Salah satunya jangan sampai telat masuk. Nggak heran, berbagai jam weker, alaram handphone, serta bel Blackberry dipasang, supaya kuping kita mendengar dan langsung mandi. Maklumlah, meski jarak antara rumah ke sekolah Anjani dan Khaira dekat (Cempaka Putih-Rawamangun), namun kita tetap memprediksi kemungkinan terjadi kemacetan.

Benar saja, kemacetan mulai terjadi. Hari pertama masuk sekolah ibarat momentum para orangtua mendedikasikan harinya untuk anak, apalagi kalo anak mereka baru pertama kali sekolah, entah di TK atau di SD. Biasanya, first day at school, para orangtua akan mencarikan kelas anak mereka, menunggu di depan kelas, mengabadikan anak mereka dengan kamera, melihat upacara, baris-berbaris, dan sampai memastikan anak mereka kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran pertama.

Saya pun dengan istri melakukan itu. Menguntit kemana pun Khaira dan teman-temannya pergi: berbaris di depan kelas, melakukan upacara bendera, dan masuk ke kelas kembali. Buat kami, first day at school ini mengingatkan kami ketika melakukan hal yang sama lima tahun lalu ketika putri pertama kami Anjani masuk SD.