Sore lalu di hari Minggu, kami berencana melakukan “jabul”. Padahal hujan deras banget. Nggak cuma di sekitar Cempaka Putih, tetapi kabarnya merata di seluruh Jakarta dan New York City. Namun kami terpaksa harus "melawan" hujan. Kalo enggak, "jabul" nggak bisa terlaksana.
Oh iya, pasti Anda bingung dengan istilah “jabul”. Mahkluk apakah sih "jabul" itu? Berkaki empatkah? Bernafas dengan insangkah? Bukan mahkluk, kok. Jabul itu sebenarnya singkatan. Ini cuma diketahui oleh kalangan terbatas, terutama keluarga kami. Kepanjangannya sih sederhana, yakni “belanja bulanan”.
Jabul merupakan aktivitas resmi keluarga kami yang memang belum tercatat di Rekor Muri, apalagi Guiness Book of World Record. Tetapi kami selalu rutin melakukannya saban bulan. Biasalah, habis gajian ya belanja kebutuhan rumah tangga kita dong.
Buat kami, belanja bulanan memang menjadi aktivitas yang dianaogikan kayak rekreasi. Bukan kami jarang rekreasi ke tempat-tempat rekreasi, lho. Tetapi, oleh karena hypermart yang menjadi tempat belanja kami luas, seringkali kami bisa melakukan aktivitas gokil-gokilan. Saya bisa menari bersama kedua anak kami, kejar-kejaran, main petak umpet, dan aktivitas lain yang seru.
Sebelum pergi ke salah satu hypermart yang saban bulan kita kunjungi yang ada di dekat rumah kami, Khaira wanti-wanti. Ngerti kan wanti-wanti? Wanti-wanti itu asal katanya “anti”. Oleh karena ditambah kata “w” di depan kata “anti”, jadinya ya “wanti”. Oleh karena “wanti” sendirian, maka ditemanilah “wanti” lagi, sehingga menjadi “wanti-wanti”. Ngerti kan sekarang? Back to wanti-waniti yang diucapkan anak kedua kami ini.
“Ma, nanti kalo ke toko beli Happy Jus ya?” kata Khaira yang mengucapkan itu berkali-kali.
“Happy Jus?” ucap istri saya rada heran.
Tumben nih anak minumannya Happy Jus. Itu kan minuman yang nggak ada vitamin-vitaminnya. Ya, paling-paling zat pewarna, zat perasa, ditambah gula, terus dicari adonan agar rasanya mirip jus. Kami memang sudah tahu deh tricky-tricky-nya minuman kayak begini. Dibilang jus, padahal bukan.
Biasanya Khaira itu paling doyan susu. Bukan susu yang berwarna merah, hijau, kuning, atau hitam, tetapi susu murni yang dihasilkan dari sapi-sapi pilihan. Sapi yang diperas oleh pemeras sapi sampai payudaranya kendor. Nah, ketika anak kami pengen banget Happy Jus, kita malah heran.
“Adik bener mau Happy Jus?” tanya istri saya meyakinkan anak kami.
“Iya, Ma. Jangan lupa nanti belikan adik Happy Jus ya...”
“Kenapa sih Adik mau beli Happy Jus?”
“Supaya Adik lebih pede!”
Lah, ternyata anak kami ikut-ikutan jadi korban iklan. Iklan Happy Jus! Yang tag line-nya: HAPPY JUS, BISA BIKIN PEDE! Pantas ngotot mau minum Happy Jus. Ya terpaksa kali ini kami kabulkan keinginannya, once in a lifetime. Mending lah minum Happy Jus daripada minum jus-nya Happy Salma.
Senin, 30 November 2009
MOGA-MOGA BISA JADI ORANG KAYA LAGI...
Buat kami, pengalaman menginap di hotel mahal di kamar termahal luar biasa banget. Sebab pasti nggak semua orang mengalami. Apalagi orang seperti kami yang bukan konglomerat, tetapi golongan yang masih hitung-hitungan dalam mengeluarkan uang.
Namun pasti buat para konglomerat, mereka mudah menginap di kamar terbaik yang pernah kami rasakan ini. Wong mereka nggak masalah dengan uang, kok. Kami nggak iri dengan mereka, lho. Itu rezeki mereka. Tapi bukan berarti rezeki kami cuma sekali seumur hidup menikmati kamar ini juga, ya nggak? Tuhan pasti Maha Mendengar dan Maha Pemberi Rezeki.
Sebagai bentuk motivasi diri, kami sengaja memamerkan video kamar kami, ketika berada di kamar termahal di hotel Ritz Carlton, SCBD, Jakarta. Moga-moga video ini bisa memotovasi kami lagi, buat mencari uang dan akhirnya bisa menginap di hotel dan kamar termahal seperti ini lagi. Soalnya seperti yang saya sudah ceritakan, bahwa buat membayar hotel ini butuh sebulan gaji. Ah, moga-moga aja bisa menjadi orang kaya lagi ya.
Barangkali Anda pun juga ikut-ikutan termotivasi atau jangan-jangan Anda nggak butuh sebulan gaji buat menikmati kamar kayak begini. Cuma butuh sehari atau beberapa jam. Kalo benar begitu, Anda memang luar biasa! Eit, asal hasil uang yang Anda dapatkan bukan dari hasil korupsi, lho! Kalo hasil korupsi, mending Anda ke laut aja!
Namun pasti buat para konglomerat, mereka mudah menginap di kamar terbaik yang pernah kami rasakan ini. Wong mereka nggak masalah dengan uang, kok. Kami nggak iri dengan mereka, lho. Itu rezeki mereka. Tapi bukan berarti rezeki kami cuma sekali seumur hidup menikmati kamar ini juga, ya nggak? Tuhan pasti Maha Mendengar dan Maha Pemberi Rezeki.
Sebagai bentuk motivasi diri, kami sengaja memamerkan video kamar kami, ketika berada di kamar termahal di hotel Ritz Carlton, SCBD, Jakarta. Moga-moga video ini bisa memotovasi kami lagi, buat mencari uang dan akhirnya bisa menginap di hotel dan kamar termahal seperti ini lagi. Soalnya seperti yang saya sudah ceritakan, bahwa buat membayar hotel ini butuh sebulan gaji. Ah, moga-moga aja bisa menjadi orang kaya lagi ya.
Barangkali Anda pun juga ikut-ikutan termotivasi atau jangan-jangan Anda nggak butuh sebulan gaji buat menikmati kamar kayak begini. Cuma butuh sehari atau beberapa jam. Kalo benar begitu, Anda memang luar biasa! Eit, asal hasil uang yang Anda dapatkan bukan dari hasil korupsi, lho! Kalo hasil korupsi, mending Anda ke laut aja!
BUKAN SULAP, BUKAN SIHIR
Inilah video hasil karya anak kami yang pertama: Anjani. Lewat handphone milik saya, dia mencoba menjadi Sutradara. Meski sederhana dan nggak terlalu sempurna, tetapi teknik membuat objek menghilang rupanya sudah dikuasai olehnya. Moga-moga ini modal dia buat jadi Sutradara.
Bukan sulap, bukan sihir. Abracadabra!
Bukan sulap, bukan sihir. Abracadabra!
Sabtu, 28 November 2009
FROM DUREN TO KUPAT TAHU - a story of Idul Adha from Tebet
Nggak semua rumah menikmati sate kambing, domba, atau sapi hasil pemberian masjid. Apalagi mereka yang kebetulan nggak tergolong mustahik atau orang-orang miskin, ya jangan berharap banyak mendapatkan jatah daging qurban. Seperti keluarga kami. Memang sih kami bukan keluarga konglomerat, tetapi bukan juga mustahik. Oleh karena itu, dalam Idul Adha, guna memeriahkan acara, keluarga kami menikmati sajian yang bebeda. Sajian ini berlangsung di House of Ayah atau populer dengan Rumah Ayah di Tebet Timur, salah satu kakak kami.

Duren yang sangat menggiurkan. Kalo saja nggak pernah masuk rumah sakit gara-gara duren, barangkali saya pasti bakal ikut menikmati duren ini.
Di rumah ini, tersedia menu yang nggak beda dengan kambing, yang bisa meningkatkan kadar kolesterol tinggi, yakni duren. Ada tiga duren gede-gede yang diimport dari Thailand, dimana dinikmati oleh keluarga besar Pak (alm.) Soemakto Djuwono yang mayoritas memang penggila duren.
Selain duren, sajian yang nggak kalah nikmat adalah kupat tahu. Apakah kupat tahu itu? Bagi yang bukan asli Magelang, pasti rada asing dengan makanan ini. Tetapi kalo Anda berasal dari Maluku, pasti mengetahui makanan ini. Lho katanya Magelang kok berubah jadi Maluku? Sebab, salah satu anggota keluarga (alm.) Soemakto Djowono berasal dari Maluku, yakni Om Petrus Ririhena. Dia nggak suka duren, tapi kalo dikasih kupat tahu, habis disikat.


Saya sendiri sudah insyaf menjadi penggila duren. Kalo saja nggak sakit parah sampai masuk rumah sakit, barangkali saya akan ikut nimbrung menikmati duren import dari Thailand ini. Gara-gara duren, saya sampai menginap dua minggu di rumah sakit Tebet sekitar tahun 2004. Daripada masuk rumah sakit lagi, mending cukup melihat saudara-saudara saya, termasuk istri saya menikmati duren bukan?
all photos copyright by Brillianto K. Jaya
Duren yang sangat menggiurkan. Kalo saja nggak pernah masuk rumah sakit gara-gara duren, barangkali saya pasti bakal ikut menikmati duren ini.
Di rumah ini, tersedia menu yang nggak beda dengan kambing, yang bisa meningkatkan kadar kolesterol tinggi, yakni duren. Ada tiga duren gede-gede yang diimport dari Thailand, dimana dinikmati oleh keluarga besar Pak (alm.) Soemakto Djuwono yang mayoritas memang penggila duren.
Selain duren, sajian yang nggak kalah nikmat adalah kupat tahu. Apakah kupat tahu itu? Bagi yang bukan asli Magelang, pasti rada asing dengan makanan ini. Tetapi kalo Anda berasal dari Maluku, pasti mengetahui makanan ini. Lho katanya Magelang kok berubah jadi Maluku? Sebab, salah satu anggota keluarga (alm.) Soemakto Djowono berasal dari Maluku, yakni Om Petrus Ririhena. Dia nggak suka duren, tapi kalo dikasih kupat tahu, habis disikat.
Saya sendiri sudah insyaf menjadi penggila duren. Kalo saja nggak sakit parah sampai masuk rumah sakit, barangkali saya akan ikut nimbrung menikmati duren import dari Thailand ini. Gara-gara duren, saya sampai menginap dua minggu di rumah sakit Tebet sekitar tahun 2004. Daripada masuk rumah sakit lagi, mending cukup melihat saudara-saudara saya, termasuk istri saya menikmati duren bukan?
all photos copyright by Brillianto K. Jaya
Jumat, 27 November 2009
FOTO MODEL SEPEDA LIPET
Terus terang dahulu kala saya pernah berniat jadi foto model. Entah setan apa yang merasuk ke otak saya sampai nekad pengen jadi model. Bukan profesi modelnya yang salah, tetapi saya yang salah. Salah karena punya wajah pas-pasan, bahkan dahulu kala ada yang bilang jelek.
Meski dianggap jelek, saya memberanikan diri mengirim foto ke salah satu majalah remaja yang dahulu kala seringkali menyelenggarakan kontes wajah ganteng. Sebenarnya bukan cuma wajah ganteng yang menjadi kriteria pemilihan model yang dilakukan oleh majalah yang sekarang sudah almarhum ini, yakni tinggi dan kesempurnaan tubuh. Kalo soal attitute dan jantan atau betina si calon model, wah itu nomor dua.
Beberapa waktu lalu, saya kesampain juga jadi model. Keponakan saya yang kebetulan hobi fotography mengontrak saya buat jadi modelnya. Nggak sampai kontrak eksklusif sih, tetapi cukup minum sebotol teh botol dan gorengan. Kenapa pilih saya, karena saya dianggap masih terlihat ganteng dan suka bersepeda. Objek fotonya kali ini memang kendaraan yang bergerak. Jadilah saya foto model sepeda lipat atau yang biasa dikenal dengan sebutan "seli".
Inilah beberapa foto hasil jepretan keponakan saya. Mohon jangan lihat hasil fotonya, tetapi objek yang difoto. Sebab, objek yang difoto itu mantan calon model yang telah gugur di medan perang. Meski nggak sempat jadi model, saya tetap dikenal oleh banyak orang sebagai titisan Anang Hermansyah. Padahal saya males banget disama-samakan dengan Anang. Saya lebih suka disamakan dengan Krisdayanti. Lebih cantik dan mirip Barbie! Nah, lho?! Lagipula banyak orang bilang saya masih sedikit lebih ganteng dibanding Anang. Kebetulan aja beda nasib.
Berikut ini beberapa pose saya tanpa make up alias natural. Venue pemotretan ini berada di seputar Senayan dengan waktu sore hari. Kalo Anda kagum terhadap objeknya, mohon maaf objeknya nggak dijual atau disewa, karena property of right-nya sudah ada yang punya.




all photos copyright by Wahyu
Meski dianggap jelek, saya memberanikan diri mengirim foto ke salah satu majalah remaja yang dahulu kala seringkali menyelenggarakan kontes wajah ganteng. Sebenarnya bukan cuma wajah ganteng yang menjadi kriteria pemilihan model yang dilakukan oleh majalah yang sekarang sudah almarhum ini, yakni tinggi dan kesempurnaan tubuh. Kalo soal attitute dan jantan atau betina si calon model, wah itu nomor dua.
Beberapa waktu lalu, saya kesampain juga jadi model. Keponakan saya yang kebetulan hobi fotography mengontrak saya buat jadi modelnya. Nggak sampai kontrak eksklusif sih, tetapi cukup minum sebotol teh botol dan gorengan. Kenapa pilih saya, karena saya dianggap masih terlihat ganteng dan suka bersepeda. Objek fotonya kali ini memang kendaraan yang bergerak. Jadilah saya foto model sepeda lipat atau yang biasa dikenal dengan sebutan "seli".
Inilah beberapa foto hasil jepretan keponakan saya. Mohon jangan lihat hasil fotonya, tetapi objek yang difoto. Sebab, objek yang difoto itu mantan calon model yang telah gugur di medan perang. Meski nggak sempat jadi model, saya tetap dikenal oleh banyak orang sebagai titisan Anang Hermansyah. Padahal saya males banget disama-samakan dengan Anang. Saya lebih suka disamakan dengan Krisdayanti. Lebih cantik dan mirip Barbie! Nah, lho?! Lagipula banyak orang bilang saya masih sedikit lebih ganteng dibanding Anang. Kebetulan aja beda nasib.
Berikut ini beberapa pose saya tanpa make up alias natural. Venue pemotretan ini berada di seputar Senayan dengan waktu sore hari. Kalo Anda kagum terhadap objeknya, mohon maaf objeknya nggak dijual atau disewa, karena property of right-nya sudah ada yang punya.




all photos copyright by Wahyu
KOK KAMBING BUTA BISA LOLOS PANITIA QURBAN SIH?
Berkat anjuran sang guru, Khaira ngebet banget sholat di masjid dekat sekolahnya, di masjid At-Taqwa. Bertahun-tahun hidup, baik saya maupun istri belum pernah sholat di masjid yang berada di kompleks Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta Timur ini. Biasanya kami sholat Idul Fitri maupun Idul Adha di lapangan Rawasari Country Club atau yang beken disebut sebagai Arcici yang ada di Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat.
Selama ini anak kami memang patuh sekali pada gurunya, yakni Ibu Lina. Khusus mengajak sholat di masjid At-Taqwa, alasan mengapa kami sekeluarga diajak sholat Idul Adha di masjid ini adalah, karena kelas anak kami menyumbangkan seekor kambing hasil sumbangan kolektif. Sumbangan ini di luar sumbangan pemberian kambing secara pribadi, lho. Artinya, kambing yang berasal dari sumbangan kelas Khaira merupakan hasil uang anak-anak kelas yang dikumpulkan. Sementara masih ada orangtua murid di kelas Khiara yang secara pribadi menyumbangkan kambing.

Tiap kendaraan bermotor yang parkir buat sholat di sekitar masjid At-Taqwa dipunggut retribusi sebesar Rp 5.000, yang katanya buat shodaqoh. Memang sih dikasih karcis kayak begini, tetapi di karcis itu nggak ditulis nominal angka Rp 5.000. Ini kebiasaan di Indonesia, pake karcis, tetapi nggak transparan. Auditnya jadi susah dan menimbulkan lubang-lubang buat pungutan liar.
Menurut Ibu Lina, sumbangan dari kelas-kelas lain uangnya nggak mencapai jumlah yang layak buat dibelikan kambing. Sementara kelas Khaira berhasil mengumpulkan dana lebih dari satu juta. Tentu Anda tahu harga rata-rata kambing buat qurban saat kan? Ya, minimal harganya bisa mencapai Rp 900 ribuan. Itu pun ukurannya relatif kecil.
Kami sampai di masjid At-Taqwa sekitar 06.45 wib. Limabelas menit sebelum pelaksanaan sholat Idul Adha. Sebetulnya kalo sholat Ied, dianjurkan oleh Nabi Muhammad di lapangan terbuka. Sebenarnya di depan masjid ada lapangan bola yang dahulu kala –saat masih di SMA- pernah saya pergunakan buat main bola. Tetapi oleh karena tanahnya agak lembab dan sedikit becek, maka panitia melakukan sholat sunnah dua rakaat ini di dalam masjid.
Kelar sholat, seperti biasa ada ceramah. Pagi itu yang bertindak sebagai khotib adalah Ustadz H. Nazmuddin. Seperti biasa kami tetap mendengarkan ceramah, meski banyak orang yang meninggalkan masjid setelah sholat. Entah mereka ngerti, pura-pura nggak tahu, atau memang cuek, bahwa kesempurnaan dari sholat Idul Adha adalah mendengarkan sholat. Artinya, kalo habis sholat nggak mendengarkan ceramah, ya nggak sempurna sholatnya. Nah, kami ingin mendapatkan nilai sempurna di mata Allah.

Tipikal orang Melayu, terutama Indonesia, pada saat dengar ceramah cari tiang dan senderan. Kalo mata sudah nggak kuat, bisa tidur dengan bersandar. Ini nggak cuma pas sholat Ied. Perhatikan kalo tiap Jum'at, banyak orang yang berbondong-bondong masuk masjid lebih awal tetapi ingin mencari tempat paling belakang supaya bisa bersandar di tembok. Bukannya maju paling depan, kok malah cari tembok ya? Aneh!
Dalam ceramahnya, Ustadz H. Nazmuddin menjelaskan kembali napak tilas sejarah Nabi Ibrahim A.S. Bahwa acara penyembelihan hewan qurban ini adalah buat mengenang kembali peristiwa yang terjadi pada Nabi Ibrahim. Buat mengetahui tingkat keyakinan dan keimanan Nabi Ibrahim, Allah memberikan wahyu kepadanya agar menyembelih anaknya, yakni Ismail.
Betapa pilu hati Nabi Ibrahim menerima wahyu dari Allah tersebut. Kenapa? Sebab, putra yang sangat disayangi ternyata harus direlakan buat disembelih. Namun kecintaan pada Allah nggak boleh dikalahkan oleh kecintaannya pada anaknya. Apalagi Ismail juga mantab dan ikhlas menerima cobaan, sebagaimana dikatakan lewat firman Allah SWT dalam Surah As-Saffat ayat 102:
Ibrahim berkata: “Hai anakka, sesungguhnya aku melihat mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu”. Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Berkat keteguhan hati Nabi Ibrahim, akhirnya Allah mengutus Malaikat Jibril menggantikan Ismail dengan seekor domba dari surga.Domba itulah yang kelak disembelih dan daging-dagingnya dibagikan kepada para fakir miskin.

Kambing yang matanya buta. Kok kambing cacat bisa diterima oleh pantia qurban di masjid At-Taqwa ya? Bukankah nggak boleh? Selain kambing bermata buta ini, ada domba yang saya temukan kakinya patah.
Dalam ceramah, Ustadz H. Nazmuddin juga mengingatkan lagi, bahwa kalo kita mau berqurban, kesempatannya bisa sampai tiga hari, yakni dari selesai mengerjakan sholat Isul Adha sampai dua berikutnya. Jadi nggak ada kata terlambat buat berqurban dan berqurban itu punya banyak makna, salah satunya semangat berbagi kepada sesama yang kebetulan berasal dari golongan kurang mampu.
Barangsiapa baginya ada kemampuan (lapang rizkinya) akan tetapi dia tidak mau berqurban, maka hendaknya ia mati dalam keadaan menjadi Yahudi atau Nasrani (atau keluar dari Islam).
Kelar sholat, kami melakukan inspeksi ke tempat berkumpulkan hewan qurban. Menurut panitia At-Taqwa, jumlah sapi yang terkumpul di masjid ini adalah 6 ekor sapi dan 60 ekor kambing dan domba. Jumlah segitu jauh dibanding dengan masjid dekat rumah saya yang berhasil mengumpulkan 3 ekor sapi dan 10 ekor kambing. Maklumlah, masjid kecil dan berada di kampung.

Lapangan sepakbola At-Taqwa dilihat dari dalam masjid At-Taqwa. Sebetulnya Nabi Muhammad mensunnahkan sholat Ied di lapangan terbuka. Tetapi karena tanahnya basah dan ada yang becek gara-gara hujan, maka dipergunakan masjid sebagai tempat sholat.
Seperti Anda ketahui, hewan-hewan yang diqurbankan adalah hewan-hewan yang memiliki beberapa kriteria, antara lain sehat secara fisik. Artinya, hewan qurban nggak boleh sakit dan nggak boleh cacat. Makanya, biasanya Pemerintah Kota (Pemkot) dalam hal ini Dinas Kesehatan akan memeriksa kondisi hewan qurban. Namun kayak-kayaknya tahun ini nggak melakukan uji kualitas dari hewan-hewan qurban deh. Prinsipnya, kalo hewan qurban kelihatan sehat wal afiat, ya layak dijadikan hewan qurban. Namun ketika kami melihat ke lokasi di tempat kambing, kami melihat ada seekor kambing yang matanya buta. Kelihatannya nggak masalah, tetapi cacat yang dialami oleh kambing menjadi aspek utama dalam penyerahan hewan qurban. Kok kambing buta bisa lolos panita qurban sih? Harusnya nggak boleh terjadi, nih!
Anyway, kami nggak bisa menyaksikan hewan qurban hasil dari sumbangan kolektif anak kami, karena pemotongan seluruh hewan baru berlangung jam 09:00 wib, sementara waktu yang terlihat di jam tangan saya menunjukkan pukul 07:35 wib. Artinya masih lama waktu buat menyaksikan pemotongan hewan. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk langsung ke rumah orangtua kami dan menikmati opor ayam plus ketupat yang nyummi banget.
all photos copyright by Brillianto K. Jaya
Selama ini anak kami memang patuh sekali pada gurunya, yakni Ibu Lina. Khusus mengajak sholat di masjid At-Taqwa, alasan mengapa kami sekeluarga diajak sholat Idul Adha di masjid ini adalah, karena kelas anak kami menyumbangkan seekor kambing hasil sumbangan kolektif. Sumbangan ini di luar sumbangan pemberian kambing secara pribadi, lho. Artinya, kambing yang berasal dari sumbangan kelas Khaira merupakan hasil uang anak-anak kelas yang dikumpulkan. Sementara masih ada orangtua murid di kelas Khiara yang secara pribadi menyumbangkan kambing.
Tiap kendaraan bermotor yang parkir buat sholat di sekitar masjid At-Taqwa dipunggut retribusi sebesar Rp 5.000, yang katanya buat shodaqoh. Memang sih dikasih karcis kayak begini, tetapi di karcis itu nggak ditulis nominal angka Rp 5.000. Ini kebiasaan di Indonesia, pake karcis, tetapi nggak transparan. Auditnya jadi susah dan menimbulkan lubang-lubang buat pungutan liar.
Menurut Ibu Lina, sumbangan dari kelas-kelas lain uangnya nggak mencapai jumlah yang layak buat dibelikan kambing. Sementara kelas Khaira berhasil mengumpulkan dana lebih dari satu juta. Tentu Anda tahu harga rata-rata kambing buat qurban saat kan? Ya, minimal harganya bisa mencapai Rp 900 ribuan. Itu pun ukurannya relatif kecil.
Kami sampai di masjid At-Taqwa sekitar 06.45 wib. Limabelas menit sebelum pelaksanaan sholat Idul Adha. Sebetulnya kalo sholat Ied, dianjurkan oleh Nabi Muhammad di lapangan terbuka. Sebenarnya di depan masjid ada lapangan bola yang dahulu kala –saat masih di SMA- pernah saya pergunakan buat main bola. Tetapi oleh karena tanahnya agak lembab dan sedikit becek, maka panitia melakukan sholat sunnah dua rakaat ini di dalam masjid.
Kelar sholat, seperti biasa ada ceramah. Pagi itu yang bertindak sebagai khotib adalah Ustadz H. Nazmuddin. Seperti biasa kami tetap mendengarkan ceramah, meski banyak orang yang meninggalkan masjid setelah sholat. Entah mereka ngerti, pura-pura nggak tahu, atau memang cuek, bahwa kesempurnaan dari sholat Idul Adha adalah mendengarkan sholat. Artinya, kalo habis sholat nggak mendengarkan ceramah, ya nggak sempurna sholatnya. Nah, kami ingin mendapatkan nilai sempurna di mata Allah.
Tipikal orang Melayu, terutama Indonesia, pada saat dengar ceramah cari tiang dan senderan. Kalo mata sudah nggak kuat, bisa tidur dengan bersandar. Ini nggak cuma pas sholat Ied. Perhatikan kalo tiap Jum'at, banyak orang yang berbondong-bondong masuk masjid lebih awal tetapi ingin mencari tempat paling belakang supaya bisa bersandar di tembok. Bukannya maju paling depan, kok malah cari tembok ya? Aneh!
Dalam ceramahnya, Ustadz H. Nazmuddin menjelaskan kembali napak tilas sejarah Nabi Ibrahim A.S. Bahwa acara penyembelihan hewan qurban ini adalah buat mengenang kembali peristiwa yang terjadi pada Nabi Ibrahim. Buat mengetahui tingkat keyakinan dan keimanan Nabi Ibrahim, Allah memberikan wahyu kepadanya agar menyembelih anaknya, yakni Ismail.
Betapa pilu hati Nabi Ibrahim menerima wahyu dari Allah tersebut. Kenapa? Sebab, putra yang sangat disayangi ternyata harus direlakan buat disembelih. Namun kecintaan pada Allah nggak boleh dikalahkan oleh kecintaannya pada anaknya. Apalagi Ismail juga mantab dan ikhlas menerima cobaan, sebagaimana dikatakan lewat firman Allah SWT dalam Surah As-Saffat ayat 102:
Ibrahim berkata: “Hai anakka, sesungguhnya aku melihat mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu”. Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Berkat keteguhan hati Nabi Ibrahim, akhirnya Allah mengutus Malaikat Jibril menggantikan Ismail dengan seekor domba dari surga.Domba itulah yang kelak disembelih dan daging-dagingnya dibagikan kepada para fakir miskin.
Kambing yang matanya buta. Kok kambing cacat bisa diterima oleh pantia qurban di masjid At-Taqwa ya? Bukankah nggak boleh? Selain kambing bermata buta ini, ada domba yang saya temukan kakinya patah.
Dalam ceramah, Ustadz H. Nazmuddin juga mengingatkan lagi, bahwa kalo kita mau berqurban, kesempatannya bisa sampai tiga hari, yakni dari selesai mengerjakan sholat Isul Adha sampai dua berikutnya. Jadi nggak ada kata terlambat buat berqurban dan berqurban itu punya banyak makna, salah satunya semangat berbagi kepada sesama yang kebetulan berasal dari golongan kurang mampu.
Barangsiapa baginya ada kemampuan (lapang rizkinya) akan tetapi dia tidak mau berqurban, maka hendaknya ia mati dalam keadaan menjadi Yahudi atau Nasrani (atau keluar dari Islam).
Kelar sholat, kami melakukan inspeksi ke tempat berkumpulkan hewan qurban. Menurut panitia At-Taqwa, jumlah sapi yang terkumpul di masjid ini adalah 6 ekor sapi dan 60 ekor kambing dan domba. Jumlah segitu jauh dibanding dengan masjid dekat rumah saya yang berhasil mengumpulkan 3 ekor sapi dan 10 ekor kambing. Maklumlah, masjid kecil dan berada di kampung.
Lapangan sepakbola At-Taqwa dilihat dari dalam masjid At-Taqwa. Sebetulnya Nabi Muhammad mensunnahkan sholat Ied di lapangan terbuka. Tetapi karena tanahnya basah dan ada yang becek gara-gara hujan, maka dipergunakan masjid sebagai tempat sholat.
Seperti Anda ketahui, hewan-hewan yang diqurbankan adalah hewan-hewan yang memiliki beberapa kriteria, antara lain sehat secara fisik. Artinya, hewan qurban nggak boleh sakit dan nggak boleh cacat. Makanya, biasanya Pemerintah Kota (Pemkot) dalam hal ini Dinas Kesehatan akan memeriksa kondisi hewan qurban. Namun kayak-kayaknya tahun ini nggak melakukan uji kualitas dari hewan-hewan qurban deh. Prinsipnya, kalo hewan qurban kelihatan sehat wal afiat, ya layak dijadikan hewan qurban. Namun ketika kami melihat ke lokasi di tempat kambing, kami melihat ada seekor kambing yang matanya buta. Kelihatannya nggak masalah, tetapi cacat yang dialami oleh kambing menjadi aspek utama dalam penyerahan hewan qurban. Kok kambing buta bisa lolos panita qurban sih? Harusnya nggak boleh terjadi, nih!
Anyway, kami nggak bisa menyaksikan hewan qurban hasil dari sumbangan kolektif anak kami, karena pemotongan seluruh hewan baru berlangung jam 09:00 wib, sementara waktu yang terlihat di jam tangan saya menunjukkan pukul 07:35 wib. Artinya masih lama waktu buat menyaksikan pemotongan hewan. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk langsung ke rumah orangtua kami dan menikmati opor ayam plus ketupat yang nyummi banget.
all photos copyright by Brillianto K. Jaya
Rabu, 25 November 2009
BOHONG APA BENER?
Hujan cukup deras di Jakarta pagi ini. Seperti biasa, kami tetap mengantarkan anak-anak ke sekolah. Padahal kami -terutama saya- berharap sekolah anak kami libur. Soalnya cukup malas juga melihat hujan deras begini, yang sebenarnya lebih asyik dimanfaatkan buat tidur. Namun, karena sekolah nggak ada pengumuman libur dan mengantarkan anak ke sekolah adalah kewajiban yang nggak bisa ditawar-tawar lagi, ya dengan semangat 45, kami berhasil mengalahkan kemalasan.
Sebenarnya acara antar-mengantar anak ke sekolah itu banyak manfaatnya. Selain kita dipaksa buat bangun pagi, juga sebagai sarana komunikasi. Hal terakhir itu yang sangat saya suka: KOMUNIKASI. Well, kita semua tahu, sebagai orangtua yang (sok) sibuk, komunikasi kita selalu by phone atau by SMS. Mending masih sempat by phone atau by SMS, yang sering terjadi nggak pernah. Orangtua-orangtua metropolitan aktivitasnya berangkat pagi, pulang malam. Jarang ketemu dengan anak-anak. Nah, dengan acara antar-jemput, di waktu pagi, komunikasi kita bisa face to face.
Banyak hal yang bisa kita bicarakan saat mengantar anak. Topiknya bisa serius, bisa santai. Bisa gabungan keduanya: serius dan santai yang lazim kita kenal dengan sebutan SERSAN. Kebetulan pagi ini topiknya santai dan masih berhubungan dengan masalah hujan yang terjadi pagi ini.
Anda tentu tahu, kalo sudah turun hujan di Jakarta ini, banyak sekali air yang menggenang di jalan. Di sekitar rumah saya pun begitu. Kalo kita naik mobil dan ban mobil kita melintasi genangan air tersebut, pasti akan menimbulkan cipratan, ya kan? Kebetulan beberapa kali melewati jalan, ban mobil kami menimbulkan cipratan. Kalo genangannya tinggi, maka cipratan airnya banyak.
Rupanya cipratan-cipratan air tersebut membuat anak-anak kami suka. Kata mereka mirip kayak permainan air yang ada di Dufan atau di Taman Safari. Nggak heran mereka terus meminta kami buat melintasi jalan yang tergenang. Tetapi kami bilang, cipratan itu sengaja kami lakukan, karena kita harus buru-buru dan genangan yang ada di jalan nggak bisa kita hindari.
"Tapi asyik, Pap," kata Anjani, anak kami pertama.
"Iya!" Khaira ikut-ikutan nyeletuk.
Kami berusaha menjelaskan lagi, bahwa kalo di pinggir genanggan air itu nggak ada orang, barangkali kami bisa melakukan. Tetap kalo ada orang, kasihan orang itu, pasti akan terkena cipratan air. Kita harus menghormati pejalan kaki.
"Soalnya Mama pernah kena cipratan mobil," jelas istri saya mencoba mengajak anak kami memiliki perasaan yang sama seperti kami.
"Mama bohong apa bener, nih?" kata Khaira, anak kedua kami, dengan wajah polos tanpa bermaksud menggoba.
"Ya, benar, lah! Masa Mama bohong?"
"Habis nggak ada di foto!"
Kami pun tertawa terbahak-bahak atas pernyataan Khaira itu. Kami terkejut, bisa-bisanya anak kami ngomong kayak begitu, yang kami pikir cukup cerdas. Dia anggap, semua yang diomongkan kami harus ada buktinya. Salah satu bukti yang paling masuk akal, ya foto.
"Jadi sekarang ini apa-apa harus pakai foto ya, Dik?"
"Iya, dong!"
Sebenarnya acara antar-mengantar anak ke sekolah itu banyak manfaatnya. Selain kita dipaksa buat bangun pagi, juga sebagai sarana komunikasi. Hal terakhir itu yang sangat saya suka: KOMUNIKASI. Well, kita semua tahu, sebagai orangtua yang (sok) sibuk, komunikasi kita selalu by phone atau by SMS. Mending masih sempat by phone atau by SMS, yang sering terjadi nggak pernah. Orangtua-orangtua metropolitan aktivitasnya berangkat pagi, pulang malam. Jarang ketemu dengan anak-anak. Nah, dengan acara antar-jemput, di waktu pagi, komunikasi kita bisa face to face.
Banyak hal yang bisa kita bicarakan saat mengantar anak. Topiknya bisa serius, bisa santai. Bisa gabungan keduanya: serius dan santai yang lazim kita kenal dengan sebutan SERSAN. Kebetulan pagi ini topiknya santai dan masih berhubungan dengan masalah hujan yang terjadi pagi ini.
Anda tentu tahu, kalo sudah turun hujan di Jakarta ini, banyak sekali air yang menggenang di jalan. Di sekitar rumah saya pun begitu. Kalo kita naik mobil dan ban mobil kita melintasi genangan air tersebut, pasti akan menimbulkan cipratan, ya kan? Kebetulan beberapa kali melewati jalan, ban mobil kami menimbulkan cipratan. Kalo genangannya tinggi, maka cipratan airnya banyak.
Rupanya cipratan-cipratan air tersebut membuat anak-anak kami suka. Kata mereka mirip kayak permainan air yang ada di Dufan atau di Taman Safari. Nggak heran mereka terus meminta kami buat melintasi jalan yang tergenang. Tetapi kami bilang, cipratan itu sengaja kami lakukan, karena kita harus buru-buru dan genangan yang ada di jalan nggak bisa kita hindari.
"Tapi asyik, Pap," kata Anjani, anak kami pertama.
"Iya!" Khaira ikut-ikutan nyeletuk.
Kami berusaha menjelaskan lagi, bahwa kalo di pinggir genanggan air itu nggak ada orang, barangkali kami bisa melakukan. Tetap kalo ada orang, kasihan orang itu, pasti akan terkena cipratan air. Kita harus menghormati pejalan kaki.
"Soalnya Mama pernah kena cipratan mobil," jelas istri saya mencoba mengajak anak kami memiliki perasaan yang sama seperti kami.
"Mama bohong apa bener, nih?" kata Khaira, anak kedua kami, dengan wajah polos tanpa bermaksud menggoba.
"Ya, benar, lah! Masa Mama bohong?"
"Habis nggak ada di foto!"
Kami pun tertawa terbahak-bahak atas pernyataan Khaira itu. Kami terkejut, bisa-bisanya anak kami ngomong kayak begitu, yang kami pikir cukup cerdas. Dia anggap, semua yang diomongkan kami harus ada buktinya. Salah satu bukti yang paling masuk akal, ya foto.
"Jadi sekarang ini apa-apa harus pakai foto ya, Dik?"
"Iya, dong!"
Langganan:
Postingan (Atom)