Kesadaran menjadi pemimpin ternyata bisa tumbuh dengan sendirinya. Ini dialami sendiri oleh putri kedua saya, Khaira. Ia ingin sekali memimpin teman-teman sekelasnya. Keinginan ini selalu saja diucapkan setiap hari. Sebagai orangtua, tentu saja saya harus mengakomodir keinginan Khaira. Toh, keinginan tersebut cukup positif.
Sebagai pemimpin kelas, seorang murid akan mengatur teman-temannya berbaris. Seperti di Taman Kanak (TK) lain, sebelum masuk kelas, murid-murid wajib berbaris dengan rapi. Biasanya pemimpin akan memberi aba-aba dengan kata-kata: “siap”, “gerak”, “lencang muka”, “maju”, dan “jalan”. Setelah benar-benar rapi barisannya, sebelum masuk kelas, pemimpin juga berkewajiban memimpin baca doa.
Terus terang, ketika seumuran Khaira, saya tidak pernah punya keinginan jadi pimimpin kelas, bahkan ketika duduk di SD sampai SMU, saya pun tidak tertarik menjadi ketua kelas. Sebab, pikir saya, menjadi pemimpin atau ketua kelas itu ribet. Harus ini dan itu. Nah, saya itu malas kalo mengerjakan ini dan itu. Barangkali saat itu jiwa kepemimpinan saya belum tumbuh, sebagaimana Khaira sekarang ini.
Kalo melihat latarbelakang saya yang ogah jadi pemimpin ketika seusia Khaira, pasti Anda sudah bisa menebah dari mana asal jiwa kemimpinannya tumbuh. Yap! Pastilah dari istri saya. Memang benar, istri saya ini tergolong wanita yang senang berorganisasi. Sampai sekarang pun ia aktif berorganisasi. Sedikitnya ada dua organisasi yang ia ikuti, yakni pertukuran pemuda kapal Asean dan toastmaster.
“Siapa yang datang lebih awal, akan jadi pemimpin,” kata Bu Lina.
Begitulah ucapan guru Khaira di TK. Bu Lina dan guru-guru lain di TK anak kami ini memang menerapkan aturan, mereka yang menjadi pemimpin harus datang lebih awal ke sekolah. Ini artinya, Khaira harus datang lebih awal sebelum teman-temannya hadir. Kalo jam sekolah resmi untuk TK adalah pukul 07:00 wib, maka Khaira harus datang 06:30 wib, at least 06:45 wib.
Buat saya, bangun pagi butuh tantangan ekstra. Bukan saya malas bangun pagi, bukan. Wong saya rata-rata bangun pukul 04:15 WIB -sebagaimana alarm dua handphone saya yang selalu saya set sebelum tidur- untuk melakukan kewajiban saya sholat subuh. Tapi masalahnya, setelah bangung subuh, saya tidur lagi. Kalo sudah tidur lagi, malas banget bangun. Apalagi kalo malam sebelumnya, saya harus shooting atau pulang larut malam, bahkan larut pagi, wah, males banget kalo dibangunin pagi-pagi.
“Pap, adik sudah siap!”
Selalu saja Khaira membangunkan pada saat saya masih betah untuk tidur. Saya masih senang bergumul dengan guling kesayangan saya dan selimut tebal. Padahal sebenarnya pada saat dibangunkan, waktunya nggak pagi-pagi banget, yakni pukul 06:00 wib. Sayang sekali, jam segitu mata masih terpejam dan sulit terbuka. Namun sebagai bentuk tanggung jawab plus komitmen sebagai orangtua, saya mau nggak mau harus memaksakan diri bangun pagi. Walhasil, dalam kondisi setengah hidup, saya menggantarkan Khaira sekolah.
“Papa mandi dulu apa enggak?” tanya Khaira.
“Kalo mandi kenapa? Kalo nggak mandi kenapa?” tanya saya balik.
“Kalo mandi jangan lama-lama ya, Pap!”
Warning putri kedua saya ini cukup beralasan. Pasalnya, tiap kali saya mandi dulu, pasti akan telat. Pengalaman-pengalaman sebelumnya sudah membuktikan. Baru mengusap-usap sabun ke badan dan muka, anak kami selalu memanggil: “Sudah belum mandinya, Pap?”. Mending panggilanya itu sekali atau dua kali, ini mah berkali-kali, sampai saya keluar kamar mandi baru berhenti panggilan itu. Bahkan pernah baru masuk ke kamar mandi, sudah ada panggilan agar segera menyelesaikan mandinya.
Supaya tidak terlambat, saya terpaksa mengalah. Sebagai tanda mengalah, saya tidak mandi pagi. Cukup cuci muka, cuci kaki, dan langsung tidur, eh salah, maksudnya langsung masuk mobil.
Nyatanya di dalam mobil, persoalan tentang “harus buru-buru”, belumlah selesai. Saya dipaksa oleh Khaira agar ngebut sengebutnya. Sekali lagi, ini agar tidak telat dan tentu saja agar bisa mengalahkan teman-temannya, sehingga putri kedua saya ini menjadi pemimpin kelas. Walhasil, saya seringkali membawa mobil dengan kecepatan 60 km/ jam ke atas di tengah kepadatan lalu lintas.
Bukannya ketakutan, Khaira malah justru ketawa cekakak-cekikik melihat cara saya membawa mobil. Saya malah sering diminta anak saya ini melakukan zig-zag. Katanya, mirip roller coaster. Halah!
Saya anggap Khaira memang anak yang pemberani. Padahal karakternya nggak tomboi-tomboi amat. Bahkan ia cenderung feminin, karena masih menikmati item-item yang berhubungan dengan feminin: boneka, suka banget berpenampilan ala Princess, dan juga sering berdandan. Meski feminin, Khaira suka banget main trampolin, flying fox, dan permainan yang menantang nyali.
“Asyik! Intan belum datang!”
Begitu sampai di pelataran parkir sekolahnya, Khaira selalu saja mencari sebuah mobil Daihatsu warna hitam. Mobil itu adalah mobil Intan. Siapakah Intan? Intan nggak lain adalah teman sekelas Khaira yang menjadi pesaingnya menjadi pemimpin. Selama ini putri saya selalu dikalahkan oleh Intan. Padahal rumah Intan jauh dibanding rumah kami.
“Ih, Intan begitu sih,” kata Khaira, kecewa begitu melihat Intan datang lebih dahulu dibanding putri kami.
Lucu juga sih, Intan yang pertama datang, malah dipersalahkan oleh anak kami. Saya sih ketawa-tawa saja mendengar kekecewaan Khaira, karena sesungguhnya kalimat kekecewaannya nggak pantas diberikan pada Intan. Sebab, nggak ada aturan siapa yang bangun lebih pagi, nggak boleh datang ke sekolah lebih awal, ya nggak? Ya, namanya juga anak-anak.
Berkali-kali, Khaira mencoba untuk mengalahkan Intan, namun selalu saja kalah. Padahal saya tahu banget, putri kami ini selalu bangun pagi, yakni pukul 04:30. Buat saya, anak kecil bangun jam segitu luar biasa banget! At least mengalahkan Papa dan Mama-nya yang sehabis subuh tidur bablas nggak bangun lagi kalo nggak dibangunin anak-anaknya.
Kekalahan demi kekalahan menancapkan jiwa fighter-nya. Ia harus mengalahkan Intan. HARUS! Dengan mengalahkan Intan, ia akan menjadi pemimpin. Memang nggak ada nama temannya yang lain yang menjadi pesaing beratnya selain Intan. Tapi jangan salah duga, yang membuat Khaira luar biasa, meski kesal selalu dikalahkan Intan, namun Khaira berteman dekat dengan Intan. Ini artinya apa? Artinya, meski ada kompetisi, jiwa sportif kudu terjaga. Hebat juga ya anak-anak zaman sekarang?
Dan suatu pagi, Khiara gembira bukan main. Mobil Daihatsu warna hitam milik orangtua Intan belum nampak. Saya dicium habis-habisan oleh Khaira, karena berhasil membawa mobil dengan supercepat dan datang lebih awal ke sekolah. Saya puas kalo Khaira puas. Sebab, keinginannya untuk jadi pemimpin di kelas jelas akan terwujud. Nggak apa-apalah naik mobilnya kayak kesetanan. Nggak apa-apalah saya bela-belaain belum mandi, mata setengah terbuka, nyawanya pun belum sepenuhnya terkumpul, karena masih ngantuk. Semua demi Khaira.
Tapi....
“Khai, kayaknya Intan sudah datang deh,” kata saya pelan, karena mulai merasakan aura bakal nggak enak.
“Mana?! Mana?!” Khaira mencari-cari sosok Intan yang saya maksud itu.
“Itu!”
Benar, Intan sudah datang. Busyet! Kok tadi nggak kelihatan, sekarang tiba-tiba muncul? Jangan-jangan Intan itu mahkluk ruang angkasa kali. Saya dan Khaira saling bertatapan. Saya melihat raut wajah Khaira yang nampak kecewa. Sedih juga saya melihatnya.
“Tuh kan, Papa sih! Papa bangunnya nggak pagi-pagi. Besok Papa bangunnya lebih pagi lagi ya? Nggak usah mandi! Pokoknya adik harus mengalahkan Intan!”
Khaira, Khaira. Akan sepagi apa lagi ya saya dibangunkan putri saya ini demi untuk mengalahkan Intan itu? Apakah Khaira nggak tahu kalo Papa-nya ini memang sudah nggak sempat mandi lagi? Well, demi anak, saya rela melakukan apa saja!
Kamis, 19 November 2009
MENYESAL NGGAK JAGO MATEMATIKA
Matematika adalah mata pelajaran yang paling saya benci ketika sekolah dahulu. Gara-gara nggak suka, nilai mata pelajaran ini selalu berwarna. Mending warnanya keren, ini mah warna merah! Padahal kata nenek-nenek peot, matematika itu penting banget. Bukan penting buat menyenangkan guru matematika atau orangtua kita, tetapi matematika memang berguna dalam kehidupan kita sehari-hari.
Percaya nggak percaya, sepanjang masih hidup dan bernafas, kita akan berhadapan dengan yang namanya matematika. Ketika beli sayur atau pakaian di departement store, kita akan menghitung uang kita, cukup kah atau berapa jumlah uang kembalian kita.
Selain hitung-menghitung, otak kita dituntut melakukan perhitungan dengan logika berpikir ala matematika. Oleh karena saya nggak suka matematika, logika berpikir saya terkadang tidak matematis. Nah, supaya anak-anak Anda nggak punya logika terbalik kayak saya, bimbinglah mereka agar menyukai matematika.
Kalo berhadapan dengan matematika, wajah Anjani seketika menjadi lesu, kurang bergairah, dan jadi males-malesan. Maklum, matematika memang bukanlah mata pelajaran fovaoritnya. Saya nggak menyalahkan anak saya ini, karena saya pun dahulu pasti akan melakukan hal yang sama. Males!
Mereka ini adalah juara matematika dan IPA di 6th International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) tingkat SD tahun 2009
Saya sudah berusaha mencoba agar Anjani suka pada matematika. Setidaknya ada dua kursus matematika yang pernah dilakukan Anjani. Namun, saya sering kasihan juga. Hidupnya seperti dikepung oleh angka-angka. Bayangkan, setiap hari harus mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Lalu kapan menikmati masa kanak-kanaknya? Bukankah sebagai orangtua kita nggak boleh egois "memaksa" anak-anak kita terus belajar, sementara mereka mengorbankan masa kanak mereka? Inilah yang bikin saya kasihan. Gara-gara kasihan, ikut les ini-itu, saya pun memberikan pilihan pada anak kami.
"Les matematikanya mau diteruskan atau enggak?" tanya saya.
"Enggak," jawab Anjani lantang.
"Biar sudah nggak ikut les lagi, kamu harus tetap latihan berhitung ya? Papa dan Mama akan beli soal latihan. Kapan pun punya waktu untuk mengisi soal latihan, kamu harus
Foto di atas itu adalah foto para juara matematika dalam kejuaraan (IMSO) tingkat SD tahun 2009. Kalo memandangi wajah anak-anak ini, rasanya saya iri banget. Biar masih kecil, mereka ini jago-jago hitung kelas dunia, bo! Mereka ini berhasil mengalahkan beberapa peserta dari Singapura, Thailand, Afrika Selatan, Srilangka, maupun Taiwan.
Supaya anak-anak Anda nggak punya logika kayak saya, bimbinglah mereka agar menyukai matematika. Kalo belum suka matematika, sukai dulu guru matematikanya. Kalo gurunya nggak mau disukai oleh anak Anda, rayu agar guru matematika itu sadar kalo ia harus menyukai anak Anda. Kalo gurunya sudah suka dan anak Anda suka, pasti semua akan suka. Marilah kita bersuka-suka untuk matematika. Nah, lho!
Percaya nggak percaya, sepanjang masih hidup dan bernafas, kita akan berhadapan dengan yang namanya matematika. Ketika beli sayur atau pakaian di departement store, kita akan menghitung uang kita, cukup kah atau berapa jumlah uang kembalian kita.
Selain hitung-menghitung, otak kita dituntut melakukan perhitungan dengan logika berpikir ala matematika. Oleh karena saya nggak suka matematika, logika berpikir saya terkadang tidak matematis. Nah, supaya anak-anak Anda nggak punya logika terbalik kayak saya, bimbinglah mereka agar menyukai matematika.
Kalo berhadapan dengan matematika, wajah Anjani seketika menjadi lesu, kurang bergairah, dan jadi males-malesan. Maklum, matematika memang bukanlah mata pelajaran fovaoritnya. Saya nggak menyalahkan anak saya ini, karena saya pun dahulu pasti akan melakukan hal yang sama. Males!
Mereka ini adalah juara matematika dan IPA di 6th International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) tingkat SD tahun 2009
Saya sudah berusaha mencoba agar Anjani suka pada matematika. Setidaknya ada dua kursus matematika yang pernah dilakukan Anjani. Namun, saya sering kasihan juga. Hidupnya seperti dikepung oleh angka-angka. Bayangkan, setiap hari harus mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Lalu kapan menikmati masa kanak-kanaknya? Bukankah sebagai orangtua kita nggak boleh egois "memaksa" anak-anak kita terus belajar, sementara mereka mengorbankan masa kanak mereka? Inilah yang bikin saya kasihan. Gara-gara kasihan, ikut les ini-itu, saya pun memberikan pilihan pada anak kami.
"Les matematikanya mau diteruskan atau enggak?" tanya saya.
"Enggak," jawab Anjani lantang.
"Biar sudah nggak ikut les lagi, kamu harus tetap latihan berhitung ya? Papa dan Mama akan beli soal latihan. Kapan pun punya waktu untuk mengisi soal latihan, kamu harus
Foto di atas itu adalah foto para juara matematika dalam kejuaraan (IMSO) tingkat SD tahun 2009. Kalo memandangi wajah anak-anak ini, rasanya saya iri banget. Biar masih kecil, mereka ini jago-jago hitung kelas dunia, bo! Mereka ini berhasil mengalahkan beberapa peserta dari Singapura, Thailand, Afrika Selatan, Srilangka, maupun Taiwan.
Supaya anak-anak Anda nggak punya logika kayak saya, bimbinglah mereka agar menyukai matematika. Kalo belum suka matematika, sukai dulu guru matematikanya. Kalo gurunya nggak mau disukai oleh anak Anda, rayu agar guru matematika itu sadar kalo ia harus menyukai anak Anda. Kalo gurunya sudah suka dan anak Anda suka, pasti semua akan suka. Marilah kita bersuka-suka untuk matematika. Nah, lho!
Rabu, 18 November 2009
TERPENGARUH KOMIK JEPANG
Itulah kenapa saya sebal kalo pada akhirnya Anjani terpengaruh oleh komik Jepang. Kalo gambar, kini karakter orang-nya kayak komik Jepang alias mangga. Padahal saya ini sudah mengantisipasi dengan cara mempengaruhi putri pertama saya ini agar tidak menyukai komik-komik Jepang.
Sebenarnya saya sudah bersyukur Anjani nggak tergila-gila mengkoleksi komik-komik Jepang kayak teman-temannya. Tiap-tiap ke toko buku, saya nggak pernah melihat ia nongkrong di rak buku Jepang. Saya pun kebetulan mengarahkannya berada di bacaan yang lebih "sastra", misalnya buku-buku terbitan Mizan: Kecil-Kecil Punya Karya. Paling-paling kalo lagi pengen, ia cuma minta dibelikan komik serial Miiko karangan Ono Eriko. Kami mengizinkan. Pertama, komik Miiko ini nggak ada cerita-cerita yang "aneh", misalnya pacaran atau adegan kekerasan.
Terus terang kami concern dengan masalah pacaran anak-anak zaman sekarang yang sudah kelewatan. Meski cuma komik, tetapi sedikit banyak bisa mempengaruhi hasrat buat mencoba. Mencoba ciuman misalnya.

Meski nggak suka mengkoleksi komik Jepang, Anjani terpengaruh dengan mangga. Saya sudah berusaha buat mempengaruhi anak saya ini agar jangan terpengaruh karakter orang ala komik Jepang yang nggak ada hidung itu. Saya lebih suka karakter komik-komik kayak Beny and Mice, Om Pasikom, Panji Koming, Ali Oncom, atau Doyok. Buat saya "lebih manusia" dan Indonesia banget! Nyatanya pengaruh saya nggak begitu kuat. Anjani tetap menggambar karakter manusia ala komik Jepang.
"Kayak-kayaknya saya harus mencari startegi lain agar anak saya ini bisa dipengaruhi," pikir saya dalam hati. "Yang penting, anak saya jangan kayak anak-anak seusianya yang sudah di-branwashed komik-komik Jepang."
Sebenarnya saya sudah bersyukur Anjani nggak tergila-gila mengkoleksi komik-komik Jepang kayak teman-temannya. Tiap-tiap ke toko buku, saya nggak pernah melihat ia nongkrong di rak buku Jepang. Saya pun kebetulan mengarahkannya berada di bacaan yang lebih "sastra", misalnya buku-buku terbitan Mizan: Kecil-Kecil Punya Karya. Paling-paling kalo lagi pengen, ia cuma minta dibelikan komik serial Miiko karangan Ono Eriko. Kami mengizinkan. Pertama, komik Miiko ini nggak ada cerita-cerita yang "aneh", misalnya pacaran atau adegan kekerasan.
Terus terang kami concern dengan masalah pacaran anak-anak zaman sekarang yang sudah kelewatan. Meski cuma komik, tetapi sedikit banyak bisa mempengaruhi hasrat buat mencoba. Mencoba ciuman misalnya.
Meski nggak suka mengkoleksi komik Jepang, Anjani terpengaruh dengan mangga. Saya sudah berusaha buat mempengaruhi anak saya ini agar jangan terpengaruh karakter orang ala komik Jepang yang nggak ada hidung itu. Saya lebih suka karakter komik-komik kayak Beny and Mice, Om Pasikom, Panji Koming, Ali Oncom, atau Doyok. Buat saya "lebih manusia" dan Indonesia banget! Nyatanya pengaruh saya nggak begitu kuat. Anjani tetap menggambar karakter manusia ala komik Jepang.
"Kayak-kayaknya saya harus mencari startegi lain agar anak saya ini bisa dipengaruhi," pikir saya dalam hati. "Yang penting, anak saya jangan kayak anak-anak seusianya yang sudah di-branwashed komik-komik Jepang."
KEBANJIRAN ORDERAN KUE
Minggu-minggu ini istri saya sibuk berat. Alhamdulillah, beberapa orderan kue datang padanya. Jangan heran, hampir setiap malam, istri saya selalu tidur paling malam dan bangun lebih dahulu dari ayam berkokok.
Begitulah kesibukan pembuat kue. Rutinitas kayak begitu sudah biasa buat saya. Setidaknya setiap kali lebaran, rutinitas tidur malam dan bangun pagi pasti terjadi. Sebagai suami, saya sangat mendukung aktivitas istri saya ini. Pokoknya selama ia senang dengan kegiatannya, silahkan jalani.

Dukungan ini bukan sekadar memberi motivasi. Saya terkadang menjadi marketing yang mempromosikan kue-kue buatan istri yang kabarnya banyak penggemarnya. Maklumlah, enak. Sudah beberapa pesanan yang datang dari promosi saya ini. Buat akhir November 2009 ini saja ada dua birthday cake yang bakal digarap oleh istri saya, hasil promosi saya. Satu buat nenek-nenek yang merayakan ulangtahun yang 89, satu lagi buat anak kecil.
Selain promosi, saya pun terkadang bertugas menjadi pen-delevery service. Ibarat kata, mau ke ujung dunia, saya pasti akan mengantarkan orderan kue buatan istri saya. Sebuah kerjasama yang baik bukan? Anyway, kami bersyukur, karena istri saya kebanjiran order-nya adalah kue. Daripada kebanjiran air hujan yang masuk ke rumah kami, mendingan kebanjiran kue bukan?
Begitulah kesibukan pembuat kue. Rutinitas kayak begitu sudah biasa buat saya. Setidaknya setiap kali lebaran, rutinitas tidur malam dan bangun pagi pasti terjadi. Sebagai suami, saya sangat mendukung aktivitas istri saya ini. Pokoknya selama ia senang dengan kegiatannya, silahkan jalani.

Dukungan ini bukan sekadar memberi motivasi. Saya terkadang menjadi marketing yang mempromosikan kue-kue buatan istri yang kabarnya banyak penggemarnya. Maklumlah, enak. Sudah beberapa pesanan yang datang dari promosi saya ini. Buat akhir November 2009 ini saja ada dua birthday cake yang bakal digarap oleh istri saya, hasil promosi saya. Satu buat nenek-nenek yang merayakan ulangtahun yang 89, satu lagi buat anak kecil.
Selain promosi, saya pun terkadang bertugas menjadi pen-delevery service. Ibarat kata, mau ke ujung dunia, saya pasti akan mengantarkan orderan kue buatan istri saya. Sebuah kerjasama yang baik bukan? Anyway, kami bersyukur, karena istri saya kebanjiran order-nya adalah kue. Daripada kebanjiran air hujan yang masuk ke rumah kami, mendingan kebanjiran kue bukan?
HAMSTER AGAIN, HAMSTER AGAIN!
Akhirnya di rumah kami ada mahkluk lain, selain kami dan dua asisten kami. Mahkluk ini bukan mahkluk halus, tetapi sebuah hamster imut berjenis kelamin pria.
Sebenarnya kehadiran hamster di rumah kami bukan kali pertama. Sebelumnya, kurang lebih sekitar awal tahun 2008, anak kami pernah membeli hamster. Yang paling getol ingin memelihara hamster adalah Anjani. Putri kami ini memang penyayang binatang. Tentu saja binatang-binatang yang layak dipelihara, disukai olehnya. Nggak mungkin kan babi hutan atau jerapah jadi binatang peliharaan di rumah?
Namun entah bagaimana caranya, si hamster pertama yang dipelihara Anjani lepas dari kandang. Kami menduga sih hamster itu dimakan oleh tikus yang sering berkeliaraan di pekarangan rumah kami. Oh iya, tikus-tikus ini tidak termasuk binatang peliharaan kami, lho. Kebetulan aja mereka merasa nyaman hidup di pekarangan rumah kami dan membuat lubang-lubang tempat mereka tinggal. Nah, tikus-tikus yang gedenya segede anak kucing usia dua minggu inilah yang kami pikir paling bertanggung jawab atas hilangnya hamster yang bernama Hammy itu.

Meski nggak sampai mogok makan atau nangis tujuh hari tujuh malam, Anjani merelakan kepergian Hammy. Ia dan juga kami memang nggak menyangka kandang hamster yang kami letakkan di depan rumah bisa berakibat fatal terhadap eksistensi Hammy. Itu bisa memancing tikus-tikus buat menyantapnya. Padahal niat kami meletakkan Hammy beserta kandangnya di teras depan buat menjaga agar kotoran atau hawa binatang, termasuk bulu-bulu tidak beredar di dalam rumah. Ini akan menimbulkan penyakit, apalagi buat perempuan kayak anak kami.
Toksoplasma, begitu nama penyakit yang konon salah satunya akibat virus yang masuk dari bulu-bulu maupun kotoran binatang peliharaan. Istri saya pernah mengalami hal ini, karena waktu kecil di rumahnya ada beberapa peliharaan, mulai dari kucing sampai burung perkutut. Ada pula jangkrik dan laba-laba. Kalo tikus mah udah lumrah, nggak usah dipelihara muncul dengan sendirinya.
Hamster kedua yang saat ini dipelihara oleh anak kami bernama Hammy Stery. Aneh ya? Kalo kita membaca dengan cepat pengucapannya kayak "Ha Misteri". Anyway, hamster kedua ini bukan kami yang membelikannya, tetapi dapat dari teman baik Anjani yang bernama Sherli. Oleh karena Sherli takut Mamanya nggak mengizinkan memelihara hamster, karena di rumah Sherli sudah banyak binatang peliharaan, maka Sherli menghibahkan ke Anjani.
Sebenarnya hamster ini pun bukan punya asli Sherli. Ia juga dihibahkan oleh teman sekelasnya yang bernama Dado. Entah apa yang membuat si Dado memberikan Sherli hamster lucu, imut, dan menggemaskan ini. Barangkali si Dado naksir Sherli, sehingga hadiah yang cocok buat tanda kasih sayang bukan bunga, melainkan hamster, apalagi Sherli konon suka memelihara binatang peliharaan di rumah.
Hibah hamster yang diberikan Sherli pada Anjani membuat kedua anak kami ceria lagi. Kisah lama soal hamster yang digosipkan dimakan tikus itu sirna sudah. Tiap malam sebelum tidur, Hammy Steri selalu dicium terlebih dahulu. Tentu saja setelah mereka mencium kami. Kami yakin, mereka tetap menyayangi kami, meski sekarang ini ada hamster di keluarga kami.
Sebenarnya kehadiran hamster di rumah kami bukan kali pertama. Sebelumnya, kurang lebih sekitar awal tahun 2008, anak kami pernah membeli hamster. Yang paling getol ingin memelihara hamster adalah Anjani. Putri kami ini memang penyayang binatang. Tentu saja binatang-binatang yang layak dipelihara, disukai olehnya. Nggak mungkin kan babi hutan atau jerapah jadi binatang peliharaan di rumah?
Namun entah bagaimana caranya, si hamster pertama yang dipelihara Anjani lepas dari kandang. Kami menduga sih hamster itu dimakan oleh tikus yang sering berkeliaraan di pekarangan rumah kami. Oh iya, tikus-tikus ini tidak termasuk binatang peliharaan kami, lho. Kebetulan aja mereka merasa nyaman hidup di pekarangan rumah kami dan membuat lubang-lubang tempat mereka tinggal. Nah, tikus-tikus yang gedenya segede anak kucing usia dua minggu inilah yang kami pikir paling bertanggung jawab atas hilangnya hamster yang bernama Hammy itu.

Meski nggak sampai mogok makan atau nangis tujuh hari tujuh malam, Anjani merelakan kepergian Hammy. Ia dan juga kami memang nggak menyangka kandang hamster yang kami letakkan di depan rumah bisa berakibat fatal terhadap eksistensi Hammy. Itu bisa memancing tikus-tikus buat menyantapnya. Padahal niat kami meletakkan Hammy beserta kandangnya di teras depan buat menjaga agar kotoran atau hawa binatang, termasuk bulu-bulu tidak beredar di dalam rumah. Ini akan menimbulkan penyakit, apalagi buat perempuan kayak anak kami.
Toksoplasma, begitu nama penyakit yang konon salah satunya akibat virus yang masuk dari bulu-bulu maupun kotoran binatang peliharaan. Istri saya pernah mengalami hal ini, karena waktu kecil di rumahnya ada beberapa peliharaan, mulai dari kucing sampai burung perkutut. Ada pula jangkrik dan laba-laba. Kalo tikus mah udah lumrah, nggak usah dipelihara muncul dengan sendirinya.
Hamster kedua yang saat ini dipelihara oleh anak kami bernama Hammy Stery. Aneh ya? Kalo kita membaca dengan cepat pengucapannya kayak "Ha Misteri". Anyway, hamster kedua ini bukan kami yang membelikannya, tetapi dapat dari teman baik Anjani yang bernama Sherli. Oleh karena Sherli takut Mamanya nggak mengizinkan memelihara hamster, karena di rumah Sherli sudah banyak binatang peliharaan, maka Sherli menghibahkan ke Anjani.
Sebenarnya hamster ini pun bukan punya asli Sherli. Ia juga dihibahkan oleh teman sekelasnya yang bernama Dado. Entah apa yang membuat si Dado memberikan Sherli hamster lucu, imut, dan menggemaskan ini. Barangkali si Dado naksir Sherli, sehingga hadiah yang cocok buat tanda kasih sayang bukan bunga, melainkan hamster, apalagi Sherli konon suka memelihara binatang peliharaan di rumah.
Hibah hamster yang diberikan Sherli pada Anjani membuat kedua anak kami ceria lagi. Kisah lama soal hamster yang digosipkan dimakan tikus itu sirna sudah. Tiap malam sebelum tidur, Hammy Steri selalu dicium terlebih dahulu. Tentu saja setelah mereka mencium kami. Kami yakin, mereka tetap menyayangi kami, meski sekarang ini ada hamster di keluarga kami.
SUTRADARA MASA DEPAN LAHIR DARI KAMAR
Pada tahun 1957, Steven Spielberg mulai tertarik dengan kamera film 8 mm yang ia dapat dari ayahnya. Kamera yang masuk jenis video camcorder digital ini digunakan Spielberg kecil buat merekam perjalanan kemah akhir pekan keluarga.
Dari kegemarannya merekam, nalurinya menjadi Sutradara tumbuh. Tak heran di masa kanak, ia sudah berhasil membuat film pendek durasi 3 menit berjudul Last Train Wreck. Dan di usia 12 tahun, Spielberg sudah menjadi Sutradara profesional.

Kisah hidup Spielberg pasti nggak sama dengan Sutradara-Sutradara lain. Namun, ketika melihat anak pertama kami yang gemar menyutradarai, rasanya nggak salah kalo kami berdoa pada Allah agar cita-citanya sebagai Sutradara terkabul. Nggak perlu kayak Speilberg atau orang lain, jadi dirinya sendiri.
Kami bilang, dengan media apapun dia pasti bisa menjadi Sutradara. Mau pakai handycam kek, camera digital yang ada videonya kek, atau camera handphone, yang penting terus latihan menjadi Sutradara. Lupakan UU Perfilman. Lupakan kesedihan soal Pasal-Pasal yang dianggap kurang akomodatif. Yang penting terus berkarya. Tak heran, untuk kesekian kali, anak kami 'bergaya' ala Sutradara. Seperti biasa, yang menjadi sasaran adiknya sendiri. Adiknya disuruh bergaya, dan anak pertama kali yang merekamnya. Yang penting berkarya!
Memang, kita nggak akan mungkin 100% bebas berkarya. Karena dibalik kebebasan kita, ada kebebasan orang lain. Dan orang lain belum tentu mengerti atau suka dengan kebebasan kita. Justru ketidakbebasan itu bisa menjadikan sebuah tantangan baru. Tantangan baru untuk Sutradara masa depan seperti anak kami yang pertama ini.
Dari kegemarannya merekam, nalurinya menjadi Sutradara tumbuh. Tak heran di masa kanak, ia sudah berhasil membuat film pendek durasi 3 menit berjudul Last Train Wreck. Dan di usia 12 tahun, Spielberg sudah menjadi Sutradara profesional.

Kisah hidup Spielberg pasti nggak sama dengan Sutradara-Sutradara lain. Namun, ketika melihat anak pertama kami yang gemar menyutradarai, rasanya nggak salah kalo kami berdoa pada Allah agar cita-citanya sebagai Sutradara terkabul. Nggak perlu kayak Speilberg atau orang lain, jadi dirinya sendiri.
Kami bilang, dengan media apapun dia pasti bisa menjadi Sutradara. Mau pakai handycam kek, camera digital yang ada videonya kek, atau camera handphone, yang penting terus latihan menjadi Sutradara. Lupakan UU Perfilman. Lupakan kesedihan soal Pasal-Pasal yang dianggap kurang akomodatif. Yang penting terus berkarya. Tak heran, untuk kesekian kali, anak kami 'bergaya' ala Sutradara. Seperti biasa, yang menjadi sasaran adiknya sendiri. Adiknya disuruh bergaya, dan anak pertama kali yang merekamnya. Yang penting berkarya!
Memang, kita nggak akan mungkin 100% bebas berkarya. Karena dibalik kebebasan kita, ada kebebasan orang lain. Dan orang lain belum tentu mengerti atau suka dengan kebebasan kita. Justru ketidakbebasan itu bisa menjadikan sebuah tantangan baru. Tantangan baru untuk Sutradara masa depan seperti anak kami yang pertama ini.
Langganan:
Postingan (Atom)