Jumat, 20 November 2009

KAYAK JURUS PENCAK SILAT

Keluarga kami termasuk kategori keluarga bahagia. Saking bahagianya, tidur kami pun cukup bahagia. Indikator kebahagiaan dalam tidur ditandai dengan gaya kami pada saat tidur. Bukan cuma anak-anak kami -Anjani dan Khaira- yang punya gaya saat tidur, saya dan istri pun seringkali melakukan hal yang sama.

Sebelum saya melanjutkan cerita soal gaya kami saat tidur, ada baiknya saya ceritakan terlebih dahulu soal kamar kami. Bahwa di rumah, kami punya tiga kamar tidur. Satu kamar tidur di bawah yang diperuntukkan dua asisten kami, dan dua kamar tidur buat saya dan istri serta kedua putri kami.



Meski anak-anak kami sudah dibuatkan kamar, mereka tetap saja suka tidur di kamar kami. Bukan karena kamar tidur mereka angker atau mereka takut tidur sendirian di kamar mereka, tetapi setidaknya ada dua alasan mengapa sampai mereka lebih senang tidur di kamar kami.

Alasan pertama, AC kami kami lebih dingin dari AC kamar anak-anak kami. Saya pikir alasan mereka nggak masuk akal. Kenapa? Kami membeli AC kamar kami bersamaan dengan pembelian AC buat kamar anak-anak kami. Artinya, sama-sama beli baru di waktu dan jam yang sama. Tetapi setelah beberapa saat berada di kamar anak kami, memang sih ada perbedaan suhu yang dihasilkan dari AC kamar kami dengan AC kamar anak-anak. Padahal angka celcius-nya sama. Misalnya angka di remote AC kamar kami dipasang 20 derajat celcius, kami coba pasang di AC kamar anak-anak juga segitu. Tetapi pada saat kami rasakan, memang lebih dingin suhu AC di kamar kami.

Kalo alasan pertama kayaknya kurang tepat, maka alasan kedua lebih tepat. Kebetulan saya pun suka dengan alasan ini, yakni kebersamaan. Bahwa meski spring bad di kamar kami nggak berukuran raksasa (kurang lebih 155 cm X 2,5 meter), tetapi kedua anak kami lebih suka "umpel-umpelan" (baca: berdesak-desakan)dalam satu ranjang. Dengan berdesak-desakan inilah yang menyebabkan kehangatan. Enak kan?



Nah, ketika berdesakan di dalam satu ranjang, anak-anak kami melakukan aksi bermacam-macam gaya tidur. Kadang kaki berubah menendang kepala orang lain. Itu baru soal kaki, soal perubahan posisi tidur pun menarik. Pada awal tidur, Khaira menghadap ke Utara, sementara pada saat pagi hari, ia sudah pindah menghadap ke Selatan dan di kaki kami. Sama halnya dengan Anjani, yang seringpula pindah posisi.

Saya yakin, mereka nggak sadar melakukan itu. Tetapi sadar nggak sadar, yang biasa menendang, diminta pertanggungjawabannya. Paling tidak memberikan minyak tawon pada orang yang kena tendangan. Entah itu kepalanya yang benjol atau kakinya yang bengkak, yang terpaksa harus diolesin minyak tawon itu.

Kamis, 19 November 2009

KAYAK MASUK KOMPLEKS ABRI

Tiap kali antar Anjani ke sekolahnya di SD Negeri Rawamangun 12 Pagi atau dikenal dengan SD Lab School, saya selalu mencari trik-trik baru. Trik ini guna menghindari dari kemacetan yang terjadi di jalan Pemuda. Sebab, kalo sudah macet, yang paling stres adalah anak kami. Kalo anak kami sudah stres, kami pun ikut-ikutan stres.

"Ayo dong, Pap buruan!"

"Lah, kan di depan mobil kita ada mobil? Memangnya kamu mau bertanggungjawab kalo Papa tabrak mobil di depan?"

Nggak salah juga sih Anjani meminta saya untuk buru-buru, karena kalo telat, ia mendapatkan hukuman tidak boleh masuk di jam pelajaran pertama. Which is itu akan menjadikan putri kami ketinggalan pelajaran. Kasihan kan? Tetapi keterlambatan ini juga bukan karena salah saya 100%. Sebab, saya sudah berusaha menurunkan ego saya terpaksa nggak mandi ketika mengantarkan Anjani. Kalo saya harus mandi, maka waktu menunggu putri kami terlalu lama, padahal ia sudah siap lahir bathin buat berangkat sekolah. Kasihan kan kalo ia sudah siap, sementara saya masih mandi? Padahal waktu mandi bisa digunakan buat mengejar waktu masuk sekolah yang secara legal tertulis 06.30 wib, namun pada prakteknya 07:00 wib.



Kalo Anda pernah melancong melewati jalan Pemuda, jalan dua arah (Pemuda menuju Pulogadung dan Pemuda menuju Pramuka) sama-sama macet. Kemacetan ini jelas gara-gara mobil-mobil pengantar anak sekolah. Anda tahu, buat berputar arah, dari arah Pramuka berputar ke Pemuda buat menurunkan anak di depan gerbang Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bisa memakan waktu 10-20 menit. Saya jarang mendapatkan mukjizat berutar arah cuma menghabiskan waktu 5 menit. Itu jarang, sangat jarang terjadi. Nah, oleh karena itulah kami, para pengantar biasanya menggunakan siasat.

Siasat pertama, menurunkan anak di bawah jembatan penyebrangan. Jadi, mobil berhenti pas di bawah jembatan penyeberangan yang persis berada di depan kompleks UNJ, dan si anak diminta buat berjalan dari situ menuju ke kelas. Lumayan juga sih jaraknya, 100 meter. Namun siasat ini menghemat waktu 10-20 menit, ketimbang berputar balik.



Surat kesepakatan ini dibuat oleh dua pihak, yakni pihak sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah (H. Yitno Suyoko) dan pihak warga yang diwakili oleh Ketua RT 008/ RW 014 kelurahan Rawamangun, Jakarta Pusat (Jumhawan). Nama terakhir yang menjadi Ketua RT 008 nggak lain adalah kakak kelas saya ketika masih bersekolah di Labs School ini.


Biasanya, menurunkan anak di jembatan penyebarangan ini akan terjadi kalo si pengantar melihat suasana putaran balik crowded banget. Mobil-mobil yang mau berputar nggak bergerak sama sekali. Antreannya pun panjang. Kalo putaran balik kebetulan kosong, ya dengan senang hati para pengantar akan berputar balik dan menurunkan anak-anak mereka dengan normal.

Siasat kedua biasanya berputar masuk ke dalam kompleks kampus UNJ, yakni melalui jalan Daksinapati. Namun ini juga nggak menjamin waktunya akan lebih cepat daripada berputar lewat jalan Pemuda. Sebab, kalo lagi padat, antreannya juga panjang. Apalagi kalo berjumpa dengan anak-anak yang berlari pagi, wah terpaksa kita kudu bersabar-sabar menunggu gerombolan siswa-siswi berlari pagi. Ini biasanya terjadi pada hari Jum'at.

Kalo lagi kosong, masuk ke kompleks kampus UNJ enak banget. Mobil bisa berada di depan gerbang sekolah. Tetapi sekarang-sekarang ini nggak mungkin, karena akses masuk menuju ke gerbang ditutup gara-gara ada pembangunan gedung baru bekas Teater Besar yang terbakar itu. Jadi anak yang diantar juga harus berjalan beberapa meter menuju ke gerbang dan kemudian sampai ke kelas.

Siasat ketiga, dahulu saya biasa masuk ke kompleks dosen IKIP. Ini kami lakukan kalo terjadi antrean yang panjang di kompleks kampus UNJ. Jadi, mobil saya masuk ke area kompleks dan numpang parkir di jalan dekat gerbang sekolah. Namun siasat ini nggak akan mungkin lagi. Kenapa? Kayak-kayaknya warga protes terhadap para pengantar yang memanfaatkan areal kompeleks mereka, sehingga nggak ada lagi pengantar -kecuali penghuni kompleks- yang diizinkan menurunkan anak-anak mereka di areal kompleks.

Saat ini, masuk kompleks dosen IKIP Jakarta memang sudah kayak masuk kompleks ABRI. Percaya nggak percaya, banyak aturan yang diterapkan oleh penghuni kompleks, yang setahu saya masih banyak teman-teman saya yang bermukim di sekitar situ. Begitu ada mobil "asing" yang coba-coba masuk ke kompleks, Security kompleks langsung menegur dan meminta si pengendara mobil untuk mengurungkan niatnya masuk ke kompleks.



Saya memang bisa membayangkan kekesalan para penghuni kompleks yang merasa terganggu dengan para pengantar yang memasuki areal pemukiman. Tetapi saya jadi merasa asing dengan pemukiman ini. Padahal bertahun-tahun saya sekolah di Labs School, dari SD sampai SMA, nggak ada satu pun warga yang protes sebagaimana saat ini terjadi. Dahulu, kapanpun saya membawa mobil, memarkirkan mobil, atau nongkrong berlama-lama di kompleks ini, nggak ada satu pun warga yang cemberut. Namun saya yakin, penghuni kompleks ini banyak yang sudah berbeda. Dari generasi sosial ke generasi yang lebih moderen. Ah, entahlah.

Padahal saya yakin, ada beberapa penghuni yang masih saya kenal, teman saya maksudnya. Dimana mereka pasti nggak akan keberatan kalo saya numpang parkir sebentar buat mengantarkan anak saya ke sekolah dan kemudian saya pergi lagi ke kantor. Tetapi Security di depan kompleks, yang pasti sudah didaulat buat menjaga keamanan, termasuk menjaga para pengantar anak sekolah agar tidak masuk ke kompleks, sudah mencegah orang-orang seperti kami.



Jadi mohon maaf kalo apa yang saya lihat sekarang ini, yakni aturan-aturan yang diterapkan di kompleks ini mirip kayak saya masuk ke kompleks ABRI. Selain nggak boleh parkir kecuali penghuni, nggak boleh duduk-duduk di sebuah tempat di areal kompleks. Saya jadi berpikir, ini cuma guyonan aja, jangan-jangan nantinya kalo masuk ke kompleks ini harus buka kacamata, buka helm, matikan lampu, atau membuka kaca pada saat melintas di pos security.

Sampai kini, siasat demi siasat terus saya cari agar bisa memuaskan anak kami bisa tidak terlambat sekolah. Selain menggunakan motor bertenaga AKI yang ramah lingkungan, kami juga sudah mencoba bersiasat memutar balik di dekat Arion. Ini kalo kebetulan putaran balik nggak bergerak sama sekali. Meski sedikit lebih jauh dan melewati dua lampu merah, tetapi arus kendaraan berjalan terus. Kalo dengan menggunakan siasat ini, kami biasanya menghabiskan waktu 7-12 menit.

DEMI MENGALAHKAN INTAN

Kesadaran menjadi pemimpin ternyata bisa tumbuh dengan sendirinya. Ini dialami sendiri oleh putri kedua saya, Khaira. Ia ingin sekali memimpin teman-teman sekelasnya. Keinginan ini selalu saja diucapkan setiap hari. Sebagai orangtua, tentu saja saya harus mengakomodir keinginan Khaira. Toh, keinginan tersebut cukup positif.

Sebagai pemimpin kelas, seorang murid akan mengatur teman-temannya berbaris. Seperti di Taman Kanak (TK) lain, sebelum masuk kelas, murid-murid wajib berbaris dengan rapi. Biasanya pemimpin akan memberi aba-aba dengan kata-kata: “siap”, “gerak”, “lencang muka”, “maju”, dan “jalan”. Setelah benar-benar rapi barisannya, sebelum masuk kelas, pemimpin juga berkewajiban memimpin baca doa.

Terus terang, ketika seumuran Khaira, saya tidak pernah punya keinginan jadi pimimpin kelas, bahkan ketika duduk di SD sampai SMU, saya pun tidak tertarik menjadi ketua kelas. Sebab, pikir saya, menjadi pemimpin atau ketua kelas itu ribet. Harus ini dan itu. Nah, saya itu malas kalo mengerjakan ini dan itu. Barangkali saat itu jiwa kepemimpinan saya belum tumbuh, sebagaimana Khaira sekarang ini.

Kalo melihat latarbelakang saya yang ogah jadi pemimpin ketika seusia Khaira, pasti Anda sudah bisa menebah dari mana asal jiwa kemimpinannya tumbuh. Yap! Pastilah dari istri saya. Memang benar, istri saya ini tergolong wanita yang senang berorganisasi. Sampai sekarang pun ia aktif berorganisasi. Sedikitnya ada dua organisasi yang ia ikuti, yakni pertukuran pemuda kapal Asean dan toastmaster.

“Siapa yang datang lebih awal, akan jadi pemimpin,” kata Bu Lina.

Begitulah ucapan guru Khaira di TK. Bu Lina dan guru-guru lain di TK anak kami ini memang menerapkan aturan, mereka yang menjadi pemimpin harus datang lebih awal ke sekolah. Ini artinya, Khaira harus datang lebih awal sebelum teman-temannya hadir. Kalo jam sekolah resmi untuk TK adalah pukul 07:00 wib, maka Khaira harus datang 06:30 wib, at least 06:45 wib.

Buat saya, bangun pagi butuh tantangan ekstra. Bukan saya malas bangun pagi, bukan. Wong saya rata-rata bangun pukul 04:15 WIB -sebagaimana alarm dua handphone saya yang selalu saya set sebelum tidur- untuk melakukan kewajiban saya sholat subuh. Tapi masalahnya, setelah bangung subuh, saya tidur lagi. Kalo sudah tidur lagi, malas banget bangun. Apalagi kalo malam sebelumnya, saya harus shooting atau pulang larut malam, bahkan larut pagi, wah, males banget kalo dibangunin pagi-pagi.

“Pap, adik sudah siap!”

Selalu saja Khaira membangunkan pada saat saya masih betah untuk tidur. Saya masih senang bergumul dengan guling kesayangan saya dan selimut tebal. Padahal sebenarnya pada saat dibangunkan, waktunya nggak pagi-pagi banget, yakni pukul 06:00 wib. Sayang sekali, jam segitu mata masih terpejam dan sulit terbuka. Namun sebagai bentuk tanggung jawab plus komitmen sebagai orangtua, saya mau nggak mau harus memaksakan diri bangun pagi. Walhasil, dalam kondisi setengah hidup, saya menggantarkan Khaira sekolah.

“Papa mandi dulu apa enggak?” tanya Khaira.

“Kalo mandi kenapa? Kalo nggak mandi kenapa?” tanya saya balik.

“Kalo mandi jangan lama-lama ya, Pap!”

Warning putri kedua saya ini cukup beralasan. Pasalnya, tiap kali saya mandi dulu, pasti akan telat. Pengalaman-pengalaman sebelumnya sudah membuktikan. Baru mengusap-usap sabun ke badan dan muka, anak kami selalu memanggil: “Sudah belum mandinya, Pap?”. Mending panggilanya itu sekali atau dua kali, ini mah berkali-kali, sampai saya keluar kamar mandi baru berhenti panggilan itu. Bahkan pernah baru masuk ke kamar mandi, sudah ada panggilan agar segera menyelesaikan mandinya.

Supaya tidak terlambat, saya terpaksa mengalah. Sebagai tanda mengalah, saya tidak mandi pagi. Cukup cuci muka, cuci kaki, dan langsung tidur, eh salah, maksudnya langsung masuk mobil.

Nyatanya di dalam mobil, persoalan tentang “harus buru-buru”, belumlah selesai. Saya dipaksa oleh Khaira agar ngebut sengebutnya. Sekali lagi, ini agar tidak telat dan tentu saja agar bisa mengalahkan teman-temannya, sehingga putri kedua saya ini menjadi pemimpin kelas. Walhasil, saya seringkali membawa mobil dengan kecepatan 60 km/ jam ke atas di tengah kepadatan lalu lintas.

Bukannya ketakutan, Khaira malah justru ketawa cekakak-cekikik melihat cara saya membawa mobil. Saya malah sering diminta anak saya ini melakukan zig-zag. Katanya, mirip roller coaster. Halah!

Saya anggap Khaira memang anak yang pemberani. Padahal karakternya nggak tomboi-tomboi amat. Bahkan ia cenderung feminin, karena masih menikmati item-item yang berhubungan dengan feminin: boneka, suka banget berpenampilan ala Princess, dan juga sering berdandan. Meski feminin, Khaira suka banget main trampolin, flying fox, dan permainan yang menantang nyali.

“Asyik! Intan belum datang!”

Begitu sampai di pelataran parkir sekolahnya, Khaira selalu saja mencari sebuah mobil Daihatsu warna hitam. Mobil itu adalah mobil Intan. Siapakah Intan? Intan nggak lain adalah teman sekelas Khaira yang menjadi pesaingnya menjadi pemimpin. Selama ini putri saya selalu dikalahkan oleh Intan. Padahal rumah Intan jauh dibanding rumah kami.

“Ih, Intan begitu sih,” kata Khaira, kecewa begitu melihat Intan datang lebih dahulu dibanding putri kami.

Lucu juga sih, Intan yang pertama datang, malah dipersalahkan oleh anak kami. Saya sih ketawa-tawa saja mendengar kekecewaan Khaira, karena sesungguhnya kalimat kekecewaannya nggak pantas diberikan pada Intan. Sebab, nggak ada aturan siapa yang bangun lebih pagi, nggak boleh datang ke sekolah lebih awal, ya nggak? Ya, namanya juga anak-anak.

Berkali-kali, Khaira mencoba untuk mengalahkan Intan, namun selalu saja kalah. Padahal saya tahu banget, putri kami ini selalu bangun pagi, yakni pukul 04:30. Buat saya, anak kecil bangun jam segitu luar biasa banget! At least mengalahkan Papa dan Mama-nya yang sehabis subuh tidur bablas nggak bangun lagi kalo nggak dibangunin anak-anaknya.

Kekalahan demi kekalahan menancapkan jiwa fighter-nya. Ia harus mengalahkan Intan. HARUS! Dengan mengalahkan Intan, ia akan menjadi pemimpin. Memang nggak ada nama temannya yang lain yang menjadi pesaing beratnya selain Intan. Tapi jangan salah duga, yang membuat Khaira luar biasa, meski kesal selalu dikalahkan Intan, namun Khaira berteman dekat dengan Intan. Ini artinya apa? Artinya, meski ada kompetisi, jiwa sportif kudu terjaga. Hebat juga ya anak-anak zaman sekarang?

Dan suatu pagi, Khiara gembira bukan main. Mobil Daihatsu warna hitam milik orangtua Intan belum nampak. Saya dicium habis-habisan oleh Khaira, karena berhasil membawa mobil dengan supercepat dan datang lebih awal ke sekolah. Saya puas kalo Khaira puas. Sebab, keinginannya untuk jadi pemimpin di kelas jelas akan terwujud. Nggak apa-apalah naik mobilnya kayak kesetanan. Nggak apa-apalah saya bela-belaain belum mandi, mata setengah terbuka, nyawanya pun belum sepenuhnya terkumpul, karena masih ngantuk. Semua demi Khaira.

Tapi....

“Khai, kayaknya Intan sudah datang deh,” kata saya pelan, karena mulai merasakan aura bakal nggak enak.

“Mana?! Mana?!” Khaira mencari-cari sosok Intan yang saya maksud itu.

“Itu!”

Benar, Intan sudah datang. Busyet! Kok tadi nggak kelihatan, sekarang tiba-tiba muncul? Jangan-jangan Intan itu mahkluk ruang angkasa kali. Saya dan Khaira saling bertatapan. Saya melihat raut wajah Khaira yang nampak kecewa. Sedih juga saya melihatnya.

“Tuh kan, Papa sih! Papa bangunnya nggak pagi-pagi. Besok Papa bangunnya lebih pagi lagi ya? Nggak usah mandi! Pokoknya adik harus mengalahkan Intan!”

Khaira, Khaira. Akan sepagi apa lagi ya saya dibangunkan putri saya ini demi untuk mengalahkan Intan itu? Apakah Khaira nggak tahu kalo Papa-nya ini memang sudah nggak sempat mandi lagi? Well, demi anak, saya rela melakukan apa saja!

MENANGIS, TETAPI BOHONG-BOHONGAN

MENYESAL NGGAK JAGO MATEMATIKA

Matematika adalah mata pelajaran yang paling saya benci ketika sekolah dahulu. Gara-gara nggak suka, nilai mata pelajaran ini selalu berwarna. Mending warnanya keren, ini mah warna merah! Padahal kata nenek-nenek peot, matematika itu penting banget. Bukan penting buat menyenangkan guru matematika atau orangtua kita, tetapi matematika memang berguna dalam kehidupan kita sehari-hari.

Percaya nggak percaya, sepanjang masih hidup dan bernafas, kita akan berhadapan dengan yang namanya matematika. Ketika beli sayur atau pakaian di departement store, kita akan menghitung uang kita, cukup kah atau berapa jumlah uang kembalian kita.

Selain hitung-menghitung, otak kita dituntut melakukan perhitungan dengan logika berpikir ala matematika. Oleh karena saya nggak suka matematika, logika berpikir saya terkadang tidak matematis. Nah, supaya anak-anak Anda nggak punya logika terbalik kayak saya, bimbinglah mereka agar menyukai matematika.

Kalo berhadapan dengan matematika, wajah Anjani seketika menjadi lesu, kurang bergairah, dan jadi males-malesan. Maklum, matematika memang bukanlah mata pelajaran fovaoritnya. Saya nggak menyalahkan anak saya ini, karena saya pun dahulu pasti akan melakukan hal yang sama. Males!


Mereka ini adalah juara matematika dan IPA di 6th International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) tingkat SD tahun 2009

Saya sudah berusaha mencoba agar Anjani suka pada matematika. Setidaknya ada dua kursus matematika yang pernah dilakukan Anjani. Namun, saya sering kasihan juga. Hidupnya seperti dikepung oleh angka-angka. Bayangkan, setiap hari harus mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Lalu kapan menikmati masa kanak-kanaknya? Bukankah sebagai orangtua kita nggak boleh egois "memaksa" anak-anak kita terus belajar, sementara mereka mengorbankan masa kanak mereka? Inilah yang bikin saya kasihan. Gara-gara kasihan, ikut les ini-itu, saya pun memberikan pilihan pada anak kami.

"Les matematikanya mau diteruskan atau enggak?" tanya saya.

"Enggak," jawab Anjani lantang.

"Biar sudah nggak ikut les lagi, kamu harus tetap latihan berhitung ya? Papa dan Mama akan beli soal latihan. Kapan pun punya waktu untuk mengisi soal latihan, kamu harus

Foto di atas itu adalah foto para juara matematika dalam kejuaraan (IMSO) tingkat SD tahun 2009. Kalo memandangi wajah anak-anak ini, rasanya saya iri banget. Biar masih kecil, mereka ini jago-jago hitung kelas dunia, bo! Mereka ini berhasil mengalahkan beberapa peserta dari Singapura, Thailand, Afrika Selatan, Srilangka, maupun Taiwan.

Supaya anak-anak Anda nggak punya logika kayak saya, bimbinglah mereka agar menyukai matematika. Kalo belum suka matematika, sukai dulu guru matematikanya. Kalo gurunya nggak mau disukai oleh anak Anda, rayu agar guru matematika itu sadar kalo ia harus menyukai anak Anda. Kalo gurunya sudah suka dan anak Anda suka, pasti semua akan suka. Marilah kita bersuka-suka untuk matematika. Nah, lho!

Rabu, 18 November 2009

TERPENGARUH KOMIK JEPANG

Itulah kenapa saya sebal kalo pada akhirnya Anjani terpengaruh oleh komik Jepang. Kalo gambar, kini karakter orang-nya kayak komik Jepang alias mangga. Padahal saya ini sudah mengantisipasi dengan cara mempengaruhi putri pertama saya ini agar tidak menyukai komik-komik Jepang.

Sebenarnya saya sudah bersyukur Anjani nggak tergila-gila mengkoleksi komik-komik Jepang kayak teman-temannya. Tiap-tiap ke toko buku, saya nggak pernah melihat ia nongkrong di rak buku Jepang. Saya pun kebetulan mengarahkannya berada di bacaan yang lebih "sastra", misalnya buku-buku terbitan Mizan: Kecil-Kecil Punya Karya. Paling-paling kalo lagi pengen, ia cuma minta dibelikan komik serial Miiko karangan Ono Eriko. Kami mengizinkan. Pertama, komik Miiko ini nggak ada cerita-cerita yang "aneh", misalnya pacaran atau adegan kekerasan.

Terus terang kami concern dengan masalah pacaran anak-anak zaman sekarang yang sudah kelewatan. Meski cuma komik, tetapi sedikit banyak bisa mempengaruhi hasrat buat mencoba. Mencoba ciuman misalnya.



Meski nggak suka mengkoleksi komik Jepang, Anjani terpengaruh dengan mangga. Saya sudah berusaha buat mempengaruhi anak saya ini agar jangan terpengaruh karakter orang ala komik Jepang yang nggak ada hidung itu. Saya lebih suka karakter komik-komik kayak Beny and Mice, Om Pasikom, Panji Koming, Ali Oncom, atau Doyok. Buat saya "lebih manusia" dan Indonesia banget! Nyatanya pengaruh saya nggak begitu kuat. Anjani tetap menggambar karakter manusia ala komik Jepang.

"Kayak-kayaknya saya harus mencari startegi lain agar anak saya ini bisa dipengaruhi," pikir saya dalam hati. "Yang penting, anak saya jangan kayak anak-anak seusianya yang sudah di-branwashed komik-komik Jepang."

KEBANJIRAN ORDERAN KUE

Minggu-minggu ini istri saya sibuk berat. Alhamdulillah, beberapa orderan kue datang padanya. Jangan heran, hampir setiap malam, istri saya selalu tidur paling malam dan bangun lebih dahulu dari ayam berkokok.

Begitulah kesibukan pembuat kue. Rutinitas kayak begitu sudah biasa buat saya. Setidaknya setiap kali lebaran, rutinitas tidur malam dan bangun pagi pasti terjadi. Sebagai suami, saya sangat mendukung aktivitas istri saya ini. Pokoknya selama ia senang dengan kegiatannya, silahkan jalani.



Dukungan ini bukan sekadar memberi motivasi. Saya terkadang menjadi marketing yang mempromosikan kue-kue buatan istri yang kabarnya banyak penggemarnya. Maklumlah, enak. Sudah beberapa pesanan yang datang dari promosi saya ini. Buat akhir November 2009 ini saja ada dua birthday cake yang bakal digarap oleh istri saya, hasil promosi saya. Satu buat nenek-nenek yang merayakan ulangtahun yang 89, satu lagi buat anak kecil.

Selain promosi, saya pun terkadang bertugas menjadi pen-delevery service. Ibarat kata, mau ke ujung dunia, saya pasti akan mengantarkan orderan kue buatan istri saya. Sebuah kerjasama yang baik bukan? Anyway, kami bersyukur, karena istri saya kebanjiran order-nya adalah kue. Daripada kebanjiran air hujan yang masuk ke rumah kami, mendingan kebanjiran kue bukan?